Bidan Atau Dokter Kandungan

Untuk pertolongan melahirkan, apa bedanya dengan menggunakan jasa dokter kandungan dan bidan?

bidan atau dokterTanya:

Untuk pertolongan melahirkan, apa bedanya dengan menggunakan jasa dokter kandungan dan bidan ? Apa yang menyebabkan kalau dengan bidan, biayanya menjadi lebih murah ? Apakah kalau melahirkan dengan bantuan bidan, vagina (V) kita tidak dijahit ? [Id]

Jawab:

Aku coba jawab ya, tapi ini juga menurut perkiraanku saja. Kenapa di bidan lebih murah? karena sekolah untuk jadi dokter kandungan mahal sekali biayanya dan lama sedangkan jadi bidan lebih murah dan cepat. Kalau dokter kandungan memberikan tarif murah, kapan BEP nya ? ntuk
proses menolong orang lahir tehniknya sama saja kali ya. Bidan sepertinya lebih ahli kalau menolong orang lahir, karena dia lebih banyak menemukan dan menyelesaikan kasus. Kalau dokter kandungan kebanyakan menyelesaikan kasusnya dengan cectio. Kebanyakan, tapi tidak semua, banyak juga dokter kandungan yang tidak menyarankan cesar. Selama kehamilannya baik2 saja, kalau masalah   jahit menjahit, tergantung bidannya juga. tapi kalau melahirkan sama kakakku pasti tidak akan di jahit [Dw]

Kalau V nya digunting, ya harus dijahitlah, masak sudah digunting dibiarkan begitu saja. Kalau kakakku tidak suka main gunting, jadi mulus, paling lecet sedikit. V itu kan elastis sekali, kecuali yang bayinya besar, mau tidak mau harus di gunting juga, tapi sedikit, biasanya untuk anak kedua dan seterusnya tidak pernah ada acara gunting menggunting. Seperti aku   dulu, dokternya main gunting saja, padahal bayiku cuma 2,7 dan prosesnya juga mudah, hamilnya normal. Tapi karena dokternya tidak sabar, maunya cepat2 saja, lebih enak digunting, biar cepat keluarnya. Kebetulan waktu aku lahiran ditemenin sama kakakku, dia kesal sekali sama dokter itu, tidaksabaran, orang sudah mau lengkap pembukaanya masih disuruh jalan2 saja, dokternya malah pergi2 terus, walaupun aku sudah di ruang bersalin, dokternya datang benar2 detik terakhir, sudah guntingnya banyak sekali, jahitannya juga tidak bagus. Yang ada habis melahirkan, aku dimarah- marahin, gara2 tidak mau melahirkan sama kakakku [Dw]

Aku dua kali melahirkan,keduanya dengan bantuan bidan. Saat kontrol, keduanya dengan dokter kandungan, tapi berhubung dekat rumah ada tetangga (bidan) yang punya klinik bersalin dan alhamdulillah selama hamil tidak ada masalah apa2 ya aku melahirkan dengan bantuan tetatidaku itu. Sebenarnya selain pertimbangan dekat rumah, aku juga sudah kenal beliau sejak kecil, jadi rasanya lebih nyaman saja melahirkan dengan bantuannya. Terus kalau soal jahit-menjahit sama saja ya, tetap saja dijahit walaupun digunting dulu karena katanya supaya hasilnya lebih rapi. [DwI]

Aku itu takut sekali dengar kata2 dijahit sehabis melahirkan. Dan waktu habis melahirkan kemarin, ternyata ari2nya putus dan ketinggalan. Dicoba untuk di ambil pakai tangan ternyata tidak berhasil. Akhirnya diputuskan untuk di kuret. Wah … waktu bangun aku malah senang karena tidak merasakan rasanya dijahit. Hanya 2 jahitan. Kira-kira kalau nanti melahirkan anak kedua, boleh tidak ya minta di bius sebelum di jahit biar tidak terasa lagi. [Wl]

Justru yang bagus itu, waktu dijahit kitanya dalam kondisi sadar. Anak pertama lahirnya lumayan susah. Waktu dijahit akunya dibius total sama dokternya, mungkin biar enak kerjanya dan aku tidak rese. Sembuhnya lama, 2 mingguan masih sakit kalau buat duduk. Waktu anak kedua, lahirnya super  mudah, waktu dijahit tidak pakai dibius (waktu itu juga dapat dokter yang sabar dengar keluh kesahku selama dijahit, aduuh, duh…masih banyak tidak jahitannya ? kok tidak selesai-selesai dok, sembuhnya cepat sekali, 3 hari sudah tidak terasa apa-apa. Sepertinya lebih baik sakit sedikit selama dijahit, yang penting cepat sembuh. [Vt]

Kalau aku, karena sudah merasakan sakitnya induksi selama berjam2, waktu dijahit sudah tidak terasa, malah tidur nyenyak. Katanya karena lelahnya, senangnya, dan bahagianya si kecil sudah muncul, jadi dijahitpun (apa diobras ya) aku sudah tidak merasakan sakit nya. [An]

Menurut info temannya, teman aku yang di Amerika, katanya disana dokter2 muda pakai teknologi back to nature, katanya pada saat lahiran pakai minyak yang dioleskan supaya V lebih elastis dan tidak perlu gunting-jahit, enak sekali ya, apa disini-(Indonesia) sudah bisa seperti itu ya? [Shr]

Jadi keingat dulu waktu ikutan maternity class perawatnya menerangkan katanya kalau tidak digunting robekannya jelek, jadi digunting biar rapih, ya sudah mendengarnya begitu aku manut saja karena menurutku itu make sense, waktu melahirkan sudah pasrah di cekris2 sama dokternya, saat itu tidak terasa apa2 masih sakitan mules2nya, waktu disuntik kebal didaerah V aku juga masih tidak apa2, tapi waktu lagi dijahit dan tidak selesai2 aku baru marah ke dokternya Dokternya ketawa saja sambil nenangin aku, akhirnya biar tidak kerasa aku berSMS-an saja kirim2 info kelahiran anakku ke temen , sempet2nya ya [Ri]

Kalau, aku 2 kali melahirkan beda rasanya, yang pertama digunting (episiotomi kalau tidak salah namanya), habis itu ngeden langsung serasa loncat bayinya. Tapi yang kedua tidak digunting, wah ternyata lebih sakit kalau sobek sendiri, sepertinya malah tidak bagus sobeknya dan agak panas rasanya, dan menjahitnya jadi lebih lama, mungkin karena tidak beraturan sobeknya. Jadi menurutku lebih bagus diepis, selain tidak terlalu sakit, juga lebih rapi pasti jahitannya. [Er]

Kalau aku dan juga ibus disini pasti juga mengalami, setelah usia kandungan 8 bulan sehari sekali minum 1 sendok makan minyak kelapa murni dan Puji Tuhan efek juga buat aku yang merasakan lahiran normal. [KV]

Setelah melahirkan anakku 2,5 tahun yang lalu aku sempat mikir kalau kelak aku hamil lagi dan melahirkan, aku akan pilih dibantu bidan saja (sebelumnya aku di dokter) tapi tetap melahirkan di rumah sakit (kebetulan fasilitas itu ada di rumah sakit tempat aku melahirkan anakku). Tapi waktu aku berpikiran begitu, tiba-tiba di sebuah milis yang aku ikuti ada seorang ibu yang tidak tega berbuat seperti itu karena takut nanti anak yang ke-2 akan bertanya kenapa kakaknya lahir di rumah sakit dengan dokter sementara dia di bidan. Mungkin terdengar aneh dan ajaib kenapa aku mendengarkan pendapat itu, karena bu, aku mengalami sendiri saat aku mau punya adik. Saat itu usia mamaku sudah 36 tahun dan aku sudah kelas 6 SD, calon adik terakhir memang dan buat mama-ku was-was karena usia yang sudah 36 tahun, karena itu mamaku berencana akan melahirkan di rumah sakit besar di surabaya (takut nanti ada apa-apa), sementara aku dan adik-adikku yang lain dilahirkan di sebuah rumah bersalin (tapi tetap dibantu dokter). Percaya tidak bu, saat itu aku protes ! Aku masih ingat bentuk protesnya, aku langsung tanya ke mamaku kenapa aku dan adik-adik lahir di sebuah rumah besalin tapi nanti adik bayi ini lahir di rumah sakit, aku bilang mama tidak adil. Saat ini kalau aku memikirkan kembali, kok bisa ya aku berbuat seperti itu. Entahlah, aku jadi berfikir lagi, apakah aku mau nanti anakku begitu ? Oh iya, akhirnya mamaku melahirkan di tempat aku dulu dilahirkan, di sebuah rumah bersalin di daerah pacar keling surabaya. [Rn]

Jadi mau ikut komentar soal dijahit setelah melahirkan. Sepengetahuan saya, kenapa dokter kandungan lebih mahal dari bidan, ya seperti yang dijelaskan sama ibu2 sebelumnya, kalau soal keilmuan memang DSOG lebih banyak ilmunya ketimbang bidan, untuk jadi DSOG harus sekolah di kedokteran umum minimal 7 tahun, lalu sekolah di spesialis sekitar 5 tahun, kalau untuk jadi bidan setahu saya setingkat dengan D3 jadi mungkin di situ bedanya kenapa untuk DSOG bayarannya lebih mahal, penghargaan dari keahlian dan keilmuannya. Kalau soal pengalaman, bisa jadi pengalamannya bidan lebih banyak, tapi pengalaman saya pribadi yang pernah mengikuti kerjanya DSOG dan bidan, tetap saja pengalaman yang sedikit dengan based ilmu yang ukup dan dalam  lebih baik daripada pengalaman banyak tanpa pemahaman ilmu yang cukup. Bukan berarti disini saya bilang bidan lebih bodoh dari pada DSOG, bahkan banyak juga DSOG yang belajar dari para asistennya yang nota bene adalah para bidan. Namun tetap saja ada batasan tertentu yang tidak boleh dilakukan oleh bidan dan harus konsul serta dilakukan oleh DSOG, bidan tidak boleh memaksakan diri kalau pasiennya mempunyai kelainan dalam proses bersalin, seperti halnya dokter umum dalam menerima pasiennya, bila dalam pemeriksaan pasiennya harus konsul ke dokter yang lebih ahli (spesialis), dokter umum sebaiknya tidak memaksakan diri untuk tetap ngotot menangani pasien tersebut. Jadi sepanjang kehamilan kita normal saja dan sehat, melahirkan di bidan pun tidak masalah, selain biasanya bidan itu lebih telaten juga biayanya lebih murah, tapi kalau dalam perjalanan kehamilan dan proses melahirkan kita ada masalah sebaiknya memang ditangani oleh dokter ahli. Kalau soal dijahit tidaknya setelah melahirkan, setiap persalinan anak pertama,
baik itu beratnya kecil, sedang atau besar, maka dalam ilmu kedokteran wanita yang baru pertama kali melahirkan harus digunting vaginanya (episiotomi), dengan alasan, jalan lahirnya belum pernah teruji untuk melahirkan anak, jadi belum bisa diperkirakan seberapa elastis jaringan vaginanya, kedua untuk mencegah robekan yang tidak beraturan dimana dalam merapikannya (menjahitnya) lagi lebih sulit dan lebih lama dalam penyembuhan.

Episiotpmi dilakukan dimana si ibu merasakan puncak rasa sakit ketika melahirkan jadi rasa sakit akibat guntingan tersebut bisa dijalin tidak akan kerasa. Baru pada anak kedua dan seterusnya dilihat berat bayinya juga riwayat persalinan sebelumnya, kalau pernah sukses dengan melahirkan bayi dengan berat diatas 3 kilo biasanya tidak digunting lagi, tapi ini pun dilihat lagi, apakah jaringannya sudah cukup elastis tidak, kalau dinilai kaku dan khawatir malah robek kemana-mana, ya akhirnya lebih baik digunting lagi. Ini jauh lebih baik, ketimbang robek kemana-mana, soalnya suka ada yang sampai ke anus robeknya. Dan soal jahit menjahitnya, kalau yang digunting, ya memang harus dijahitlah, dengan jahitan ini luka akan lebih cepat sembuh. Kalau yang tidak digunting, dilihat juga kalau robekannya luas ya harus dijahit kalau tidak malah nantinya bentuk vaginanya aneh dan jelek, kasian suami kita ya. Kalau soal bius tidaknya waktu dijahit setelah mealhirkan, hati-hati kalau ditawarin bius total, kalau pengalaman saya lebih baik tidak usah sampai dibius total, resiko bius total jauh lebih besar daripada menahan sakit ketika dijahit, dijahit, paling lama menahan sakitnya 20-30 menit, malah biasanya tidak sampai segitu lama, kalau dibius total, aduh lebih seram, efek  sampingnya. [Hm]

Kalau aku baru sekali melahirkan, tapi ditangani oleh 2 bidan and 1 dokter (standart rumah sakit sepertinya), tapi waktu lihat tagihan biaya dokternya saja tidak sampai 800rb (lebih murah dari tagihan bidan terkenal di cilegon), aku sendiri merasa lebih nyaman kalau melahirkan di RS dengan dokter, karena kalau di bidan dan terjadi sesuatu tetap saja dioperkan ke dokter, ya kenapa tidak sekalian di rumah sakit kalau masalah sakit, dijahit, sama saja kali ya. apalagi aku sempat dirogoh buat ambil plasentanya yang ketinggalan. Tapi sempat ketawa waktu lihat bayinya mirip sekali sama aku. Kalau tahu boleh minta bius, kenapa dokternya tidak bilang ya ? [Tr]

Aku sudah kepikiran soal seperti ini, (soalnya pernah punya pengalaman seperti ini tapi kasusnya beda) makanya waktu aku hamil kedua kemarin selain tetap dengan dsog yang sama, aku juga berusaha sebisa mungkin dapat kamar yang sama waktu melahirkan abang, sampai pesan2 sama susternya, alhamdulillah mulai dari kehamilan yang baik2 aja sampai lahiran, sesuai dengan keinginan, terus ada satu yang aneh dan tidak di sengaja sebetulnya, dulu aku kirim foto anakku untuk ayahbunda, dan dimuat hanya dengan sekali kirim, waktu giliran adiknya aku coba sampai sekarang ini, tidak tembus2, disini kelihatanlah kalau rejeki anak memang berbeda2 [Rm]

Kalau boleh memilih lagi, nanti waktu melahirkan anak ke-2, aku maunya tetap melahirkan di bidan seperti anak pertama. Jadi semasa hamil aku kontrol di rumah sakit dan di bidan, tujuannya biar kedua-duanya tetap punya catatan kehamilanku. Alasan melahirkan di bidan :
1. dekat sekali sama rumah, tetangga, orang tua, saudara, kalau mau lihat tinggal jalan kaki, jadi kalau ada yang ketinggalan tinggal balik saja ambil ke rumah.

2. ruang VIP nya sama dengan yang di rumah sakit, jadi aku dapat 1 kamar yang lumayan luas (4×7 m kalau tidak salah) dengan 2 tempat tidur (yang 1 berarti buat suami yang menemani tidur di sana), kursi tamu+meja, tv, ac, kamar mandi dalam plus kulkas yang di isi buah2 an (di ganti tiap hari dengan gratis) dan teh botol (sehari dapet jatah 6 botol gratis juga).

3. murah, dengan pelayanan seperti itu, 4 hari 3 malam aku total cuma bayar 2 juta saja termasuk akte lahir. Jadi ? Marilah melahirkan di bidan [Tt]

Aku waktu di jahit di bius total, sepertinya tidak ada efek sampingnya. Efek sampingnya hanya satu. Karena aku alergi sama banyak obat termasuk obat bius, jadi waktu bangun, mukaku bentol-bentol. Di biusnya juga tidak lama, karena waktu bangun, aku masih di kamar operasi. Kata suamiku tidak sampai 30 menit. Dan nanti kalau anak kedua, aku mau minta di bius lagi. Tapi bolah tidak ya sama dr.ku ? [Wl]

Boleh tau tidak efek sampingnya bius total waktu proses jahit. Aku sempat iri sama iparku yang dua kali melahirkan dibius total waktu lagi dijahit, enak sekali melihatnya. Aku dulu tidak dibius total, sampai sekarang masih keingat sama sakitnya. Sempat mikir, next time aku mau minta bius saja. [Rt]

Maaf ya, kalau kesannya jadi menakut-nakutkan, Saya khawatirnya salah persepsi, yang dimaksud bius total disini beda dengan yang dimaksud dengan persepesi saya. Kalau bayangan saya namanya bius total berarti diberi anestesi total seperti persiapan operasi, ini yang saya maksud, bius total seperti ini tentunya harus dengan persiapan matang dan pemeriksaan lebih teliti, karena memang resikonya tidak kecil. Karena jenis anestesi atau pembiusan banyak macamnya dengan berbagai obat dengan kegunaan masing-masing, mungkin bisa jadi  ang
dimaksud bius total disini, si ibu hanya disuntik dengan suatu obat tertentu sehingga tertidur beberapa saat, memang ada jenis obat yang disuntikkan secara intravena yang menyebabkan tertidur beberapa saat, tapi walaupun hanya sebentar tetap saja mempunyai resikonya, besar kecilnya tergantung kondisi si pasien. Ada juga yang diberi obat seperti kita mau kuret akibat keguguran, kita dibuat bingung, antara sadar dan tidak, jadi ketika dikuret kitanya masih merasakan, walupun tidak terlalu sakit. Kalau saya boleh kasih saran, sebaiknya ambil tindakan dengan resiko sekecil mungkin, ikuti prosedur senormal mungkin, kecuali ada hal-hal khusus yang mengharuskan adanya tindakan medis lain yang lebih beresiko. Selain lebih aman juga biayanya lebih murah, si ibu sudah pernah merasaka rasa sakit yang lebih hebat ketika melahirkan, jadi rasa sakit ketika dijahit tidak lebih sakit ketika melahirkan. Itu sekedar pendapat saya, kalau ada ibus yang mau tidak merasakan sakit ketika dijahit habis melahirkan, silakan. Mudah-mudahan bukan ajang bisnis buat dokternya. Sekali lagi saya mohon maaf dan bagi yang kurang berkenan, diskip aja ya. [Hm]

Ya benar sekali, dulu jamannya kakak masih jadi perawat banyak dokter, terutama yang masih ptt belajar dari perawat2nya, bahkan ada dokter yang tidak bisa pasang infus, suntik. Kebetulan suami kakakku dokter, dari dokter dan asisten sampai jadi suami dan istri. Kalau dari pengalaman memang lebih ahli kakakku, suaminya anak mami, apa2 harus di dorong dulu baru berani. Tapi kalau dokter memang lebih berhati2 dan manual book sekali. Untuk yang hamilnya kasus, dari jauh2 biasanya si pasien sudah dikasih tahu untuk di rujuk ke RS, soalnya Bidan kan tidak ada peralatan untuk operasi. Jadi yang kehamilannya bermasalah sekali dan mesti dicesar dirujuk ke RS relasi. Kalau kakakku karna suaminya praktek di honoris ya di rujuk ke honoris, untuk yang tidak mampu di honoris, ke RSU tempat kerjanya dulu, jadi prosesnya bisa lebih cepat karena banyak channel, kalau tidak ada koneksi tidak akan dilayanin dan lambat penanganannya, mereka lebih mementingkan pasien2nya. Semua RS atau bidan untuk anak pertama pasti di gunting. Untuk menghindari robekan yang jelek memang sebaiknya di gunting. Kalau kakak, dia juga lihat dulu mana yang bisa melahirkan tanpa di gunting dan tidak, tapi selama ini semua yang lahiran sama kakak yang tidak digunting, benar2 tidak robek V nya. Tapi dia tahu kalau memang harus digunting, ya tetap dilakukan. Tapi diusahakan guntingnya tidak
terlalu banyak. Untuk anak kedua dst, tidak ada sama sekali pasien yang di gunting, puji Tuhan, tidak ada kasus yang robek walaupun dia pernah menolong pasien yang berat badan bayinya 5 kilo (anak ke 2), mulus. Untuk apa pakai dibius total, orang tidak sakit, hanya terasa ngilu saja waktu benangnya ditarik. Yang sakit itu pemulihannya. Kalau mujur, 1 minggu sudah kering. Kalau aku dulu hampir 2 minggu baru kering. Kalau jahitan belum kering harus hati2, ada yang bisa robek lagi, kalau begitu harus dijahit lagi. Untuk buang airbesarnya harus di toilet yang duduk, jangan jongkok dulu, jahitanya bisa robek lagi. [Dw]

Mau tanya apa efeknya bius total dan bagaimana juga dengan bius lokal/epidural ? Untuk info, anak keduaku 10 bulan kan harus operasi yang agak besar untuk mengangkat lymphangioma di lengannya dan pastinya dengan bius total, inilah yang masih aku timbang2, aku masih takut. Tolong pencerahannya. Terima kasih. [Id]

Aku juga tidak pakai dibius, waktu mau melahirkan anak 1 juga diinduksi 12 jam , lumayan sekali sakitnya, jadi waktu lagi dijahit sudah baal, wah tidak kepikiran sakitnya lagi, aku malah langsung makan coklat soalnya kelaparan, dokternya sampai tanya, bu sakit tidak ? (dengan benang ditarik ke atas) , tidak dok, lanjut saja, saya makan dulu ya, lapar. Begitu juga waktu kelahiran anak ke 2, tapi yang ini tidak pakai diinduksi, tetap waktu di jahit biasa saja, tidak sakit sama sekali, dokternya sampe tidak PD Tanya terus, benar tidak sakit? Benar dok, saya lapar suster .. mana roti bakarnya belum dateng juga ? Untuk aku, lapar habis mengalahkan sakitnya dijahit. [Vn]

Bicara soal jahit menjahit, ada yang tahu mengenai istilah hemotop tidak ? ceritanya begini, waktu melahirkan January kemarin, aku kan masuk R.S karena pecah ketuban. Usia kehamilan sudah cukup : 39 minggu, pecah ketuban kira2 dari jam 8 pagi karena sudah ditunggu sampai jam 14 tidak ada bukaan, akhirnya dokter kasih aku obat untuk merangsang kontraksi, bukan pakai infus, sepertinya dia masukin sejenis tablet ke jalan lahir-ku. Aku tidak bisa jelas lagi lihat tabletnya, karena lagi mringis2 menahan sakit. Lalu, kira2 1/2 jam kemudian tiba2 langsung aku kontraksi, makin lama makin teratur sampai akhirnya aku mlahirkan anakku jam 18.45, waktu dijahit hanyabius lokal. Tapi karena baru merasakan sakitnya kontraksi tadi, ditambah bayi yang ditaruh di dada kita, jadi rasanya dijahit tidak ada apa2nya. Lalu, kira-kira 2 jam kemudian (mungkin efek bius lokal sudah hilang ya) aku merasakan sakit yang makin lama terasa teramat sangat di jalan lahir aku tadi. seperti orang mau melahirkan lagi, kaki-ku digerakin sedikit saja sakitnya terasa hebat, apalagi waktu di PD (periksa dalam) sama suster, wah mau mati rasanya. Padahal katanya musti di-PD biar tahu penyebabnya. Kebayang tidak, baru saja dijahit sudah di-obok2 lagi. Sudah dikasih ponstan sama susternya, tetap saja tidak mempan. Sekitar jam 10 malam, dokternya datang lagi dan akhirnya memutuskan aku harus dioperasi katanya kasusku ini namanya hemotop, inti dari keterangan beliau, katanya karena aku kekurangan protein selama masa kehamilan,maka pembuluh darahku itu rentan. Jadi setelah dijahit, ada pembuluh darah-ku yang pecah di bagian dalam sekitar jalan lahir dan darahnya membendung tidak bisa keluar karna meski aku sudah di-jahit dari luar makanya itu yang menyebabkan aku merasakan sakit yang amat sangat. Berarti jahitan harus dibuka lagi dan dijahit dari ulang. Karena dokter melihat aku sudah tidak tahan sakit (aku memang sudah seperti orang gila mengerang2 terus karena kesakitan luar biasa) akhirnya dia minta ijin suamiku untuk melakukan dengan jalan operasi dan bius total. Aku yang waktu itu lagi sakit luar biasa jadi kegirangan begitu tahu mau dibius. Yang penting aku bisa keluar dari penderitaan segera. Kalau aku dan suami-ku review lagi peristiwa itu, terus terang kita merasa tidak puas dan suamiku rada2 menyalahkan sang dokter. suami-ku merasa dokter-nya yang kurang rapi menjahit, sehingga yang didalam ada yang lupa dijahit, makanya pendarahan. Tapi kalau aku sendiri mikir, mungkin saja gara2 pakai tablet yang untuk mancing kontraksi itu aku jadi pendarahan. Soalnya setahu aku, itu kan obat baru (apa aku-nya yang baru denger?), biasanya kakak2 aku yang melahirkan di RS yang sama di-induksi pakai infus. Kita sudah tanya 2 dokter lain untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dokter yang satu membenarkan tindakan dokter aku itu. Tapi dokter yang lain bilang tidak ada kasus seperti itu. Menurut dia, dokternya yang ketinggalan menjahit bagian dalam. Kira2, ada tidak ibus sekalian yang pernah mengalami atau mendengar kasus seperti aku ini? Memang, kekesalan hati aku tertutupi dengan pelayanan RS, terutama suster2 yang benar2 OK selama aku disitu. Tapi aku ingin tahu saja fakta sebenarnya, untuk aku jadikan patokan untuk kehamilan berikutnya. [Nl]

Aku waktu anak pertama juga kesakitannya waktu dijahit, waktu proses menuju kelahiran biasa saja, dsog-ku sampai bilang ‘wah ibu, tadi saja anteng sekarang meringis2′ padahal menahan sakit. Anak kedua juga sama, lebih sakit waktu dijahit, mungkin karena proses melahirkanku yang Alhamdulillah sangat cepat (anak pertama 3 jam setelah di RS anakku keluar, anak kedua 2 jam setelah sampai di RS juga sudah lahir) prosesnya, tapi setelah lihat anak lahir dengan selamat dan dikasih ke pangkuan kita pertama kali, rasa sakit itu tidak berasa sama sekali ya bu ? [Llk]

Sama juga, aku juga merasa waktu dijahit lebih sakit daripada waktu melahirkan, rasa sakitnya masih bisa aku rasakan sampai sekarang. [Ni]

Efek bius total cukup banyak dari mulai yang kecil seperti muntah, sampai yang besar seperti keterusan anestesinya, atau aspirasi (masuknya benda asing ke paru-paru, berakibat lebih fatal lagi). Tapi saya sarankan jangan terlalu memikirkan efek sampingnya tapi memikirkan benefit dan alasan mengapa harus dilakukan bius total. Di email sebelumnya terkesan saya tidak menganjurkan untuk bius total, dengan menekankan efek sampingnya yang tidak sederhana, maksudnya sebagai pertimbangan bahwa ketika kita menerima perlakuan medis perlu dipikirkan efek dan benefitnya, maksud saya sebandingtidak dengan jenis penyakitnya (hal yang ingin ditanggulanginya), Contoh: sebanding tidak menjahit sekitar 5 cm-an, letaknya dipermukaan tubuh lagi, dengan dilakukannya bius total, dengan segala efek negative yang mungkin terjadi. Atau contoh yang lain lagi seorang ibu yang ingin melahirkan dengan cara di cesar tanpa indikasi medis yang kuat, “sekedar” ingin sesuai dengan tanggal yang diinginkan atau supaya tidak sakit dan vaginanya tetap utuh, sebanding tidak alasan tersebut dengan efek bius total yang justru bias berbahaya baik bagi si ibu maupun bayinya, selain tentunya biaya yang jauh lebih mahal. Kalau untuk bayinya, memang tergantung letak dan besarnyajaringan yang akan dioperasi, kalau sekiranya memakan waktu dan luasdaerahnya, harus dibius total, apalagi anak-anak (bayi), karena dengan dibius total anak akan diam dan tidak akan meronta-ronta, dimana buat operator sangat membantu sekali dan juga buat si kecil sepeti lebih aman.Dengan alasan seperti ini saya cenderung tidak terlalu memikirkan efek samping bius total, karena untuk sebuah operasi yang di rencanakan maka persiapannya pun akan dilakukan dengan teliti dan cermat, mulai pemeriksaan fisik, persiapan lambung (puasa), roentgen dll, dimana hal ini akan memperkecil resiko dari bius total itu sendiri. Kalau soal bius local salah satunya adalah epidural, biasanya dilakukan untuk cesar atau persalinan normal tanpa ingin merasakan sakitnya kontraksi, efeknya tentu lebih sedikit ketimbang bius total, saya tidak tahu yang dimaksud ini masih ada hubungannya dengan operasi bayi atau tidak. Selanjutnya kita lewat japri saja ya. Maaf kalau ada yang salah. [Hm]

Omong-omong tentang kuret, Agustus tahun lalu aku juga dikuret karena blighted ovum. Saat itu aku dibius total, disuruh tidur dan sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Yang aku alami begitu bangun aku sudah di kamar dan sudah rapi jali dan dibangunkan oleh suster. Setelah itu aku sempat sms-an sama temanku yang jadi dokter puskesmas di pedalaman Lampung. Dia cerita hari itu dia juga melakukan kuret tapi cuma di bius lokal, jadi si ibu masih tahu apa yang dikerjakan temanku yang dokter itu. Kata temenku sih orang kota manja jadi daripada rewel disuntik tidur saja. Tapi aku tidak tahu kebenarannya. [Rn]

Kalau saya terus terang lebih sakit waktu di jahit dari pada waktu melahirkan, mungkin aneh kali kedengarannya, tapi waktu melahirkan, saya merasa ikhlas sekali, istilahnya mau di kasih sakit seperti bagaimana juga ok saja, yang berefek dengan tidak sakit. Tapi setelah selesai, bawaannya ingin cepat2 melihat anak, ketemu mamah, bapak, dll, tapi ternyata di jahit dulu (yang perasaan lama sekali), ya sudah, jadi berasa sakit. [Tt]

Kalau aku bukan dijahit lagi waktu anak pertama tapi di obras karena banyaknya. [Am]

Aku dua kali melahirkan, selalu dibantu pakai masukin obat dari bawah buat membantu buka jalan lahir. Aku dimasukannya setelah bukaan 3 atau 4, padahal tidak ada masalah apa2 sebelumnya, dokterku kelihatannya selalu kasih obat tersebut untuk pasien2nya. Sesudah dimasukan obatnya, kalau anak pertama ku proses sampai lahirnya kurang lebih 5-6 jam, kalau anakku yang ke-2 cepat sekali, 2 jam-an. Dan selama proses itu aku pasti dikasih obat penahan rasa sakit yang bikin mengantuk (epidural ya namanya?). Tapi sudahnya tidak ada masalah, Alhamdulillah dari proses keluarnya sampai jahitnya tidak ada masalah apa2. Malah aku langsung bisa berdiri sesudah dibawa ke kamar, dari anak pertama aku langsung keramas sendiri. Jadi keliatannya, masalah jahitan yang sakit sekali bukan karena pil itu. [Nl]

Kalau dokterku yang kehamilan ketiga ini, dari jauh2 sudah bilang, tidak akan kasih obat semacam itu sama aku kecuali memang dianggapnya perlu. [In]

Aku juga pakai obat itu, setelah 11 jam pembukaan dua melulu tidak bertambah, sebelum dimasukan kedalam, dokterku tunjukan obat itu ditelunjuknya sambil minta izin: “saya mau masukan obat ini ya bu, buat bantu pembukaan”, setelah itu baru tambah jadi pembukaan 4 terus lama lagi tidak nambah-nambah dokterku minta izin lagi untuk rangsang pakai suntik, setelah pembukaan 6 baru ketubanku di pecahkan. menurutku juga obat itu memang tidak ada hubungannya sama sakit saat proses menjahit, karena gunanya buat membantu pembukaan jalan lahir. [Rth]

Jadi, mungkin bener juga ya, pendarahan aku itu bukan karena obat yang  dimasukin itu. Dari sharing pengalaman lainnya yang hampir sama dengan aku, sepertinya kasus kita sama ya, sudah selesai dijahit, tapi terpaksa episotomi harus dibuka ulang dan dijahit kembali karena adanya pendarahan di dalam. Hanya saja penyebab sebenarnya itu yang kita yang tidak kita tahu. Waktu itu kenapa kita tidak complaint atau tanya penyebabnya ke dokter ya ? Mungkin karena kita pasrah saja ya, yang penting sakitnya sudah hilang. Memang itu juga kelemahan kita sebagai pasien, segan bertanya macam2 ke dokter, takut kalah kalau adu argumen. Aku juga malas tanya2 ke dokterku. Karena aku pikir, yang penting akunya sudah tidak rasa sakit lagi. Malah waktu suami-ku pingin mempersoalkan ke dokter-ku itu, aku malahmenghalanginya. Aku bilang, “ya sudahlah pa, yang penting anak kita sehat, aku juga sudah sehat”. Beruntung sekali ya dokter2 di Indonesia kalau dapat pasien seperti aku ini. Padahal bukan cuma itu saja sebenarnya yang mau kita complaint ke dokterku itu. Pusar anakku saja nariknya kepanjangan, akhirnya kelihatan agak bodong. lain dengan pusar anak adik-ku yang lahir 4 bulan kemudian di RS yang sama (tapi lain dokter). bagus sekali. Masa dokter tidak bisa memperkirakan panjang yang musti dipotong ya? Kesal sekali, nanti anakku kalau sudah besar kan takut malu kalau lagi pakai celana renang, tapi ya sudahlah, sekali lagi, yang penting si anakku sehat. [Ny]

22-10-2004 03:01:19

Comments

  1. dewitangtita says:

    Aku sudah menikah tapi belum punya anak sih… berdasarkan pengalaman melahirkan yang diceritakan di atas rasanya sudah terbayang betapa besar perjuangan seorang wanita dalam proses melahirkan anaknya. Namun umumnya semua rasa sakit yang telah dilalui dapat terhapus dengan hadirnya bayi yang keluar dari rahim kita sendiri. Ya Allah, jika pada waktunya saya diberi kesempatan untuk hamil dan melahirkan semoga prosesnya lancar, dan selamat untuk ibu dan bayi. Tentunya ini adalah harapan semua ibu yang akan melewati proses ini. Terima kasih.

  2. dewi says:

    konsultasi disini bisa gak???

  3. jayanti says:

    pagi,saya sedang hamil 28 minggu.saya rutin periksa ke dokter kandungan spesialis serta puskesmas. Untuk dokter spesialis saya dapat resep suplement makanan (untuk DHA ) berinama kata O…serta  penambah darah bernaman E…, Lalusaat obat tersebut habis saya periksa ke puskesmas sebab untuk menghemat biaya  .saya dapat obat penambah darah serta vit C. saya minum obat puskesmas setelah resep dari dokter habis .Yang mau saya tanyakan :1. Apakah yang saya lakukan tersebut boleh dan tidak bahaya untuk janin saya ? sebab minum obat/suplement dari tempat yang berbeda.2. Apakah tiap hari saya harus ?WAJIB minum obat/suplement tersebut ? sebab saya harus tiap 2 minggu sekali periksa untuk mendapatkan obat/suplement tersebut jika sudah habis. Namun saya kadang tidak periksa sebab saya tidak enak jika ijin ga msuk kerja jika periksa tiap minggunya.3. Bolehkah saya beli suplement/obat sendiri tanpa periksa terlebih dahulu.Suplement yang mau saya beli yaiutu untuk DHA dan penambah darah bernama O… dan E….
    Mohon jawabannya terimasih

  4. hera says:

    Saat ini saya sedang hamil dan baru memasuki usia 2 bulan… karena ini merupakan pengalaman pertama saya (anak pertama), saya masih bingung untuk memeriksakan kandungan saya dimana, antara rumah sakit atau klinik bersalin saja. awalnya saya dan suami keklinik bersalin di dekat rumah, berhubung dokter yang praktek nya ada di hari jumat (pd waktu itu kami keklinik tersebut hari rabu), terpaksa kami hrs balik lagi lusanya. tapi ternyata suami saya ingin dokter yang menangani saya yaitu dokter cewek tidak mau dokter cowok (dengan berbagai macam alasan, meskipun saya sudah membujuknya). akhirnya saya ke rmh skt yang ada disekitar bekasi (daerah tempat saya tinggal) dan memilih dokter cewek yang mana sebenarnya temen-temen saya merekomendasikan nya dokter cowok. dan yang jadi pertanyaan saya yaitu sebenarnya saya inginnya nanti pada saat melahirkan di bidan saja, tapi bagaimana cara mengatur jadwal kontrol nya selama kehamilan untuk di bidan dan didokter???karena sekarang saya sudah memasuki pemeriksaan yang ke 2 di dokter rumah sakit tersebut.  apakah dalam 1 bulan 2 kali periksa?? dikarenakan saya masih belum ada pengalaman kehamilan, sedangkan orang tua saya memberikan saya kebebasan untuk memeriksakan kehamilan saya dimana saja (selain Mertua saya karena mereka berada di luar kota). Terima kasih

  5. CW says:

    JUJUR, membaca email dari “[Nl]“, saya juga pernah mengalami hal itu, sewaktu saya awalnya gak mau makan, mual muntah, dan dirawat di RS Eka Hospital Pekanbaru. Setelah dirawat sekitar 2minggu, akhirnya, babynya dideteksi meninggal, krn tak berdetak lagi jantungnya ketika di USG…
    Dan sayapun, dimasukkin tablet di dalam V, dan di dubur ..dan dipindahkan ke ruang apa, dan di billing, keliatan ada jasa anastesi juga, tapi, saya tak sadar, apa yang dilakukan saat itu lagi….

  6. wnt says:

    waktu klhiran yg ptma, saya tidak merasa begitu skit. sya pulang krja jm 9 mlm dan shlat isya jam stengah 10. stelah shlat, sya tiduran dkamar sendiri krna wktu itu ada teman suami saya dtang dan mereka sedang ngobrol. pas jm stengah 11 sya sudah gak tahan lgi. sya ke bidan brsama ibu dan suami tercinta. alhmdlillah smpai sna lngsung ditangani dan jm 23.45 anak q lahir dengan normal dan selamat. gak terasa sakit memang. tpi wktu jahit, waduuuuuuuh sakiiiiiiiit bgetz. gak pake bius biar cpet sembuh ktanya cie. tpi emang bener kok q dah ngalami sendiri. q sangat senang dan bersyukur karena dianugerahi anak yang q dambakan. sekarang q dah hmil lgi 8 bulan. semoga prosesnya lebih mudah ya? mohon doanya

You might also likeclose
Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10