Kuret

Bagaimana ya proses kuret itu? Samakah sakitnya dengan melahirkan?

Tanya:

Proses kuret itu bagaimana ya, Seperti melahirkan sakitnya atau bagaimana prosesnya bagaimana? Penyembuhannya bagaimana? [Em]

Jawab:

Kuretase yang harus saya alami 1 tahun yang lalu akibat BO (blighted ovum) sedikit mengagetkan. Saya kaget karena ternyata kehamilan yang saya nantikan (untuk memberi adik ke anak pertama) ternyata tidak berjalan mulus. Maklum waktu hamil anak pertama saya tidak ada keluhan sama sekali.Rasanya ? Saat dikuret tidak sakit, sama sekali tidak sakit karena saya dibius total. Prosesnya ? Kata teman yang dokter, dokter menggunakan alat seperti sendok untuk mengorek isi rahim kita untuk membersihkan jaringan yang ada supaya rahim kita bersih. Penyembuhannya ? Alhamdulillah saya berjalan dengan cepat. Setelah kuret hanya pendarahan tidak lebih dari 1 pekan (seperti mens) dan tidak ada yang sakit [RS]

Tidak apa-apa lagi mbak, tanya-tanya begitu, Dulu waktu kehamilan yang ke dua, saya keguguran terus dikuret. Dibenak saya waktu dikuret itu adalah seperti kita membersihkan botol pakai sikat botol, soalnya dulu ada sohibnya teman yang dikuret seperti itu diklinik raden saleh -karena pacaran kelewat batas- sakitnya itu ampun-ampunan. Temanku saja sampai merinding dengar jeritannya. Tapi sekarang sudah beda sekali, Jadi rahim kita dimasukkan selang untuk menyedot sisa-sisa jerohan yang akan dikuret itu. Karena saya takut sekali kalau sakit, saya sudah wanti-wanti sama dokternya, pokoknya harus dibius tepat waktunya, saya masuk ruang kebidanan, terus disuntik sama dokter anestesinya, sambil dibilang kalau ini cuma bius tidur saja, jadi nanti saya akan dibangunkan kalau sudah selesai. O iya suami boleh lihat proses kuretnya, Disarankan malah, Biar menyaksikan kalau semua sudah benar-benar diambil. Habis anestesi saya sudah tidak ingat apa-apa lagi, tahu-tahu saya dibangunkan sama dokter anestesinya, terus saya tanya suami yang lihat prosesnya, prosesnya cepat cuma 10 meniat saja. Habis itu saya dibawa ke kamar untuk istirahat. [Mnk]

Saya pernah kuret, tapi bukan karena melahirkan tapi karena pendarahan didalam rahim akibat polip yang terlalu banyak. Tapi dokter saya waktu itu menerangkan kalau prosesnya sama dengan kuret karena kehamilan. Waktu itu saya dibius total, jadi proses persisnya saya tidak tahu, tapi kalau tidak salah dimasukkan alat pengeroknya, terus rahim dikerok sampai bersih. Sejam sesudahnya saya sudah boleh pulang. Tapi memang penyembuhannya sekitar semingguan, sakitnya ya lumayan sakit, perut itu seperti luka rasanya. Jalan juga mesti pelan-pelan tidak boleh angkat-angkat berat [Alvrn]

Kuret itu tujuannya untuk membersihkan. Kalau tidak salah dinding rahim semacam dikerok begitu. Memang kalau ibu keguguran biasanya dikuret untuk membersihkan rahim. Tapi tidak hanya ibu yang keguguran yang perlu dikuret, bisa juga untuk alas an lain. Saya dulu pernah dikuret karena mens yang tidak karuan. Kuret tujuannya supaya rahim bersih sehingga siklus mens bisa normal kembali. Sekalian juga untuk mengambil sample jaringan rahim untuk mengetahui apa ada kelainan atau tidak. Waktu itu tidak sakit karena dibius total. Waktu sadar juga tidak sakit mungkin karena dikasih obat penahan sakit kali ya. Tapi saya tidak merasa kenapa-napa, walaupun dokter melarang beraktifitas normal dulu sampai seminggu. Seharusnya sehabis dikuret bisa langsung pulang, tapi saya waktu itu sampai harus rawat inap. Masalahnya bukan karena kuretnya, tapi karena tidak kuat dengan obat biusnya dan muntah-muntah tidak karuan. Apapun yang masuk meski air putih saja pasti keluar. Sampai lemas dan terpaksa di infus. Sebal juga kalau diingat, padahal dulu waktu Caesar tidak sampai seperti itu. [Snt]

Mbak, saya pernah dikuret karena menurut dokter, embrio saya tidak berkembang menjadi janin dan akhirnya akan gugur juga. Menurut beliau kalau dibiarkan proses keguguran yang alami biasanya pendarahan yang terjadi jauh lebih banyak dibanding bila dikuret oleh dokter. Proses kuretasinya sendiri sama sekali tidak sakit, yang sakit hanya waktu lengan ditusuk jarum infus buat dimasukkan morfin, jarumnya besar ! Lebih besar dari jarum infus normal, jadi setelah diberi infus saya diajak kemeja operasi, o iya bajua diganti yang bolong dibelakang, semua pakaian luar dalam harus dilepas, disuruh baring, kaki dibuka terus langsung deh tidak sadar lagi, yang terakhir kuingat hanya dokter dan suster2nya sibuk mempersiapkan alat, lampu dinyalakan, habis itu tidak ingat apa-apa lagi, setelah siuman sama sekali tidak ada rasa sakit dan saya sudah boleh langsung pulang dengan catatan harus ada yang mengantar tidak boleh menyetir sendiri. Menurut dokter, embrionya diambil dengan cara disedot dan rahim sedikit digaruk untuk membersihkan jaringan-jaringan yang lengket di dinding rahim, tapi dia memastikan bahwa tidak ada perlukaan dan saya akan dapat hamil lagi dengan mudah. Embrionya kemudian diperiksa dilab untuk mencari tahu sebabnya sampai embrio tidak mengalami proses yang normal. Menurut dokter susunan kromosom embrio saya tidak lengkap, makanya tidak bisa jadi bayi dan ini sering terjadi pada ibu hamil, biasanya setelah keguguran yang seperti ini akan mengalami kehamilan normal. Tapi setelah setelah kejadian itu saya trauma juga walaupun dokter bilang tidak aneh hal itu terjadi, merupakan kasus yang sering terjadi..bla..bla..bla..menurut saya dari proses pengguguran kandungan yang paling sulit itu proses penyembuhan psikisnya saya sendiri sempat down, kerjanya hanya menangis terus, surfing terus, cari tahu apa sebabnya apalagi saya sangat mengharapkan kehamilan tersebut saya juga harus menghibur suami saya, seminggu kemudian gantian dia yang giliran menghibur saya karena setelah lewat seminggu dari saat kuret itu baru saya merasa sedih sekali. Waktu siuman setelah morfinnya habis, langsung menangis tapi hanya begitu saja tidak sampai merasa sedih sekali selama beberapa hari, mulanya saya pikir menangis setelah siuman itu telah mengobati saya ternyata ada bagian keduanya, belum lagi tambahan dari teman-teman Indonesia (walaupun tidak semua begitu) yang cenderung menyalahkan saya, katanya mungkin terlalu capek (komentar yang paling sering didengar), tidak menjaga diri dengan baik, terlalu sering menggendong anak saya, dan lain-lain.

Dukungan justru saya peroleh dari tetangga dan ipar saya yang selalu memberi kata-kata positif. Saya kemudian berusaha untuk hamil lagi, kali ini lebih untuk meyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada yang tidak beres pada diri saya, juga untuk meyakinkan diri sendiri bahwa saya mampu melahirkan bayi sehat (kemudian saya baca di buku ternyata ini merupakan salah satu terapi untuk kasus keguguran).karena dari sejumlah artikel dan pengalaman ibu-ibu lain di internet, ada yang setelah punya satu anak tidak mampu lagi punya anak berikutnya karena keguguran terus atau tidak kunjung hamil.Syukurlah akhirnya hamil lagi setelah 3 bulan kemudian.Saya mungkin beruntung tidak mengalami kasus pengguguran kandungan yang menyakitkan sebab ada kakak teman saya yang bilang kuret yang dialaminya jauh lebih sakit daripada waktu dia melahirkan dan hal itu membuat dia trauma dengan kata kuret. Jadi mungkin tergantung cara dokter menangani, kalau beruntung dapat proses yang tidak menyakitkan tapi kalau sial bisa sakit sekali [Irm]

31-08-2005 16:03:56

You might also likeclose
Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10