Phase Gagap

Ada yang punya pengalaman anak batita yang mengalami sedikit phase gagap?

gagapTanya:

Adakah yang punya pengalaman anak batita yang mengalami sedikit phase gagap? Sampai usia berapa tahun hilangnya? Aku perhatikan sekarang/akhir-akhir ini anakku suka agak gagap ketika pengucapan awal kata. Tampaknya yang ingin di ucapkan dari pikirannya tidak sinkron dengan kemampuan mulut dan lidah. Misalnya begini, kemarin aku dapat kembalian permen habis belanja. Sampai dirumah anakku minta dan tidak aku kasih (dia tidak pernah kami kasih permen), lantas dia mencecar dengan pertanyaan kenapa dia tidak boleh dan siapa yang boleh dan lain-lain..dan lain-lain. Nah waktu bicara itu begini; “a..a..a..ku tak boleh mami? nanti..nanti…batuk? o..o..owang (orang) boleh? o..o..omi? o..o..opi? ka..ka..kalau sudah sembuh boleh…? Keinginan dia untuk bicara sangat menggebu-gebu, sampai sering tampak terengah-engah sebelum dan saat bicara. Persis seperti kita mau bicara buru-butu tapi kecepatan mulut tidak dapat sejalan dengan kecepatan pikir kita. Hal seperti itu normal tidak ya? [Dhl]

Jawab:

Mbak, aku pernah punya pengalaman seperti itu sama anakku yang cewek. Waktu itu usianya 2½ tahun, dan Alhamdulillah mulai usia 4 tahun dia sudah tidak gagap lagi. Waktu itu aku sempat cari informasi ke teman-teman, dan memang ada beberapa sebab kenapa anak bisa tiba-tiba menjadi gagap. Antara lain, faktor keturunan, terlalu banyak memory yang tersimpan dikepalanya yang ingin dia sampaikan, mungkin dikaget-kageti/ditakut-takuti , dan lain-lain. Sarannya, jangan memotong pembicaraan anak kita bila dia sedang berbicara, melainkan coba dengarkan dengan sabar & kita ulangi lagi apa yang dia katakan diakhir perkataan pelan-pelan dan jelas (untuk melatih anak kita berbicara dengan jelas & teratur), jangan memarahi dia karena berbicara gagap (karena akan membuat dirinya makin tidak percaya diri). Atau jangan kita ikuti kegagapan dia, tapi kita tuntun supaya dia bicara dengan benar dan runtun, nanti lama-lama gagap itu akan hilang sendiri [Ds]

AF yang penyair cilik itu, kebetulan keponakan asmaku sempat mengalami fase gagap ketika berusia sekitar 3 tahunan, sulit sekali untuk memulai bicara. Dia bisa memanggil ca… ca… ca… caca, tadi aku pergi sama bunda ke…jadi di awal saja gagapnya. Kalau kebetulan AF menginap di rumah, saya dan suami sering mengajaknya (setengah bermain) adu cepat bicara. Untuk melatih responnya. Orang tuanya juga memberi perhatian lebih setelah menyadari kok terus begitu ya, sampai dengan usia tujuh tahun hal ini masih berlangsung. tapi lama-lama berkurang. Sekarang saya bahkan agak sulit memastikan apakah gagapnya sudah hilang. Tapi sepertinya jauh lebih baik, tidak sekentara dulu. Tidak tahu normal tidaknya ya (Ibu lain mungkin bisa kasih info lebih dalam). Tapi saya kira jika terlihat tanda-tanda seperti itu, harus diberi perhatian pada kemampuan bicaranya, respon cepatnya dalam menanggapi. Mungkin minta dia mengulang bicara, setelah tenang. karena bisa jadi gagapnya karena dia terlalu banyak yang mau disampaikan atau terburu-buru, bisa jadi kemampuan otaknya lebih cepat dari bicaranya. Ini normal dianak-anak. Kadang mereka selain gagap bisa juga jadi terdengar salah ucap, tapi di otaknya benar [AN]

Gagap dan Ragam Gangguan Bicara Tgl: 04/09/2002 12:47 WIB

Sekitar 4 persen anak dan 1 persen orang dewasa memiliki kelaianan bicara yang parah. Kelainan bicara pada usia remaja dapat merongrong kepercayaan diri anak. Anak dapat mogok bicara jika terus mendapat ejekan kala gagap-gugup menyerang. Semakin tidak nyaman semakin parah kondisinya. Walau demikian, kelemahan bicara tidak berhubungan langsung dengan keberhasilan hidup. Banyak pemimpin, pengusaha, kalangan professional yang memiliki gangguan bicara. Mereka tetap dapat berkomunikasi dan hidup normal.

Bahasa Bayi:

Menurut dr.Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K), baru pada umur 11 bulan manusia kecil untuk pertama kalinya dapat mengucapkan kata pertama yang benar, disusul kata kedua pada umur 1 tahun. Antara 12-15 bulan terdengar munculnya kata-kata baru sebanyak 4-6 kata. dapat terdengar pula immature jargoning yaitu anak berbicara dalam bahasa yang aneh, atau mencoba mengucapkan kalimat berupa suara yang tidak jelas artinya. Antara 16-17 bulan, ia sudah dapat menguasai 7-20 kata jargoning menjadi lebih matang yang ditandai munculnya kata yang benar diantara kata yang tidak benar. Pada usia 18 bulan, ia dapat mengucapkan kalimat pendek yang susunannya belum benar. Masih menurut dr. Hardiono, kemampuan bicara terus melaju dan pada umur 21 bulan, perbendaharaan kata mencapai 50 kata, dan ia dapat mengucapkan kalimat terdiri dari 2 kata. Ia sudah menggunakan kata “saya”‘ kamu walaupun seringkali belum tepat. Pada umur 30 bulan, kata “saya”, “kamu” sudah benar. Pada umur 3 tahun ia menguasai 250 kata dan dapat membentuk kalimat terdiri dari 3 kata. Pada umur 4 tahun ia mulai bertanya mengenai arti suatu kata,terutama yang abstrak. Ia dapat bercerita dan menggunakan kalimat terdiri dari 4-5 kata. Waspada adanya gangguan bicara pada anak Ia sarankan tetap diwaspadai. Bila seorang anak terlambat mencapai tahapan unit bahasa yang sesuai untuk umurnya. Keterlambatan bicara terjadi pada 3-15% anak, dan merupakan kelainan perkembangan yang paling sering terjadi. Sebanyak 1% anak uang mengalami keterlambatan bicara tetap tidak dapat bicara. Tiga puluh persen diantara anak yang mengalami keterlambatan ringan akan sembuh sendiri, tetapi 70% diantaranya akan mengalami kesulitan berbahasa, kurang pandai atau berbagai kesulitan belajar lainnya.

Gagap:

Menginjak dewasa tidak semua orang telah memperoleh kemampuan bahasa dengan baik. “Mmmmmm … maksudnya,” begitula setiap kali Aries sang ketua di sebuah organisasi kala membnuka argumentasi. Bagi yang mendengar, kesulitan bahasa seperti yang di alami Aries membuat gregetan. Tapi bagi Aries sendiri merasakan bagaimana frustasinya mengendalikan pita suara, lidah, bibir sehingga mulutnya dapat mengeluarkan rentetan kata, kalimat yang runut dan mulus. Kesulitan yang ia alami sering disebut gagap (stuttering). Ibarat mobil, untuk menghidupkan mesinnya ia harus menyalakan starter lebih lama. Asal bicara saja sepertinya mudah, tetapi menghasilkan vocal yang keluar dengan kecepatan, tekanan dan ejaan yang tepat kiranya tidak mudah. Ketika kita bicara, kita harus mengkoordinir banyak otot dari berbagai bagian tubuh termasuk pita suara, gigi, mulut dan system pernapasan. Normalnya semua kerja organ tersebut dapat berfungsi simultan serta otomatis. Gagap adalah masalah gangguan bicara yang mempengaruhi kepasihan bicara. Mereka yang mengalami kesulitan ini ditandai pengulangan bagin pertama dari kata yang hendak diucapkannya (seperti mmmmakan), atau menahan bunyi tunggal ditengah kata (misal begggggini). Sebagian orang yang gagap malah lebih parah, tidak ada satu suara pun yang keluar, tertahan semua di kerongkongan. Gagap atau orang Inggris menyebutnya stammering merupakan kelainan yang kompleks dan dapat berdampak pada kemampuan bicara dengan cara yang beragam.

Cadel:

Gagap hanyalah salah satu jenis kelainan bicara. Sebagian orang mungkin mengalami ganguan hanya pada bunyi-bunyian tertentu seperti sulit mengucapkan hurup “l” atau “r”. Ada juga yang mengalami kekusutan (cluttering) bicara atau disebut aphasia. Aphasia adalah gangguan bicara dimana orang mengalami kesulitan memahami apa yang diucapkannya. Mereka yang menderita aphasia mengucapkan dengan cepat atau berhenti bukan pada tempatnya. Pokoknya, kalimat yang ia ucapkan membuat orang bertanya ulang “apaan?”. Aphasia adalah gangguan bahasa yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak yang mengendalikan kemampuan bicara. Hal ini terjadi mungkin akibat kecelakaan, tumor atau stroke. Sebagian penderita malah tidak memiliki kemampuan bicara sama sekali. Sebagian lainnya sulit menemukan kata yang tepat ketika bicara. Kelainan lainnya disebut dislasia. Pernah menyimak balita mulai bicara. Ia akan mengucapkan kata “tati” yang dimaksud kaki. Sebagian orang menamakan kejadian ini “cadel.” Seperti anak gagap yang makin gagap jika tegang, anak dislalia juga bisa menjadi gagap bila mendapat “serangan”. Perkembangan anak bisa terganggu bila persoalan yang kelihatan sepele tersebut tidak segera diatasi. “Khususnya pada anak-anak yang mempunyai kepribadian kurang kuat,” saran Ki Pranindyo HA, kepala klinik Bina Wicara Vacana Mandira, Jakarta. Dislalia menurut hematnya termasuk gangguan komunikasi verbal yang sangat mudah diselesaikan. Bahkan tanpa terapi khusus, gangguan ini bisa ditanggulangi asal saja perilaku yang keliru-seperti ngedot, mengisap jari, atau menjulur-julurkan lidah-dihentikan. Bahkan pada banyak anak, gangguan artikulasi itu akan hilang dengan sendirinya, sesuai dengan perkembangan usia. “Jadi buat banyak anak-anak dislalia, kalau anak itu kuat, psikis maupun sikap sosialnya bagus, semuanya akan teratasi dengan sendirinya.” Dislasia juga disinyalir terkait dengan kecepatan mengucapkan vocal. Anak-anak dislalia kecepatan irama bicaranya di bawah hitungan normal. Kalau ukuran normal yang digunakan adalah 140 kata (terdiri dari dua suku) per menit, maka anak dislalia bila dites, kecepatannya kurang dari itu. “Tentu ada toleransi dari ukuran normal, 130 pun masih normal. Anak dislalia biasanya bahkan kurang dari 100 kata per menit,” kata Pranindyo. Tes umum yang biasa diterapkan di tempat praktiknya adalah dengan meminta anak untuk mengucapkan “pa-ta-ka”. Biasanya selama lima detik anak itu bisa mendapatkan 15-17 kata “pa-ta-ka”, tetapi pada anak dislalia pasti kurang dari itu. Ada juga orang-orang yang mempunyai ritme jauh melebihi angka normal. Bicara orang macam ini cenderung sangat cepat, kadang tidak bisa diikuti oleh lawan bicaranya. Kalau dihitung ritmenya mungkin 160 kata per menit. “Bahkan pernah ada yang cepat sekali sampai 175 kata per menit,” ucap Pranindyo.

Keturunan:

Banyak teori mengemuka bagaiaman orang dapat mengidap berbagai gangguan bicara. Menurut the National Stuttering Association (NSA), adanya hubungan antara gagap dengan kemampuan otak mengkoordinasikan ucapan. NSA juga mengatakan adanya hubungan antara gagap dengan bawaan atau keturunan dan lebih meyerang laki-laki ketimbang wanita. Dipengaruhi pula oleh stress atau gugup kala berdebat dengan orang lain. Tetapi beberpa peneliti mengatakan tidak menemukan adanya hubungan dengan perlakuan orang tua pada anaknya. Beberapa penderita gagap disebabkan adanya ganguan pendengaran masa kanak-kanak; yang lainnya karena alasan gangguan fisik khususnya bagian otak. Sebagain anak yang mengalami gagap akan hilang dengan sendirinya. Sebanyak 75 persen mereka yang gagap akan hilang ketika menginjak dewasa. Gagap tidak ada kaitannya dengan kecerdasan dan dapat disembuhkan.

Penanganan:

Mereka yang mengalami gangguan bicara baiknya segera hubungi dokter atau spesialis gangguan bahasa. Mereka akan melakukan analisa jenis ganguan, penyebab dan mencarikan jalan pengobatannya. Sebagain akan sembuh dengan mengunjungi ahli terapi. Mungkin latihan dan penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan melatih pernapasan. Berlatih mengambil dan mengeluarkan napas dengan tenang dan teratur. Latihan rileksasi juga dapat membantu. Dengan melatih otot agar lebih santai ketika bicara, dan mengontrol posisi badan. Merekam ucapan sendiri dan mendengarkannya kembali juga dapat ditempuh. Motivasi yang kuat, kesabaran yang tinggi serta dukungan keluarga, teman dan lingkungan pergaulan kiranya banyak membantu menyembuhkan gangguan bicara. Gagap atau gangguan bicara lainnya dapat menimbulkan ketidak nyamanan dalam komunikasi untuk kedua pihak, pendengar dan pembicara. Tetapi hanya mereka yang mengalami gangguan bicara saja yang merasakan bagaimana prustasinya mengendalikan mulut bicara. Ucapan pendengar seperti “pelan-pelan” atau “coba tenang” seringkali tidak menyelesaikan. So, bagi anda penderita mulailah sampaikan keinginan anda pada lawan bicara bagaimana agar pembicaraan jadi lebih santai. Demikian juga pendengar, sabar menyimak dengan perhatian penuh akan memberi kesempatan pada mereka melewati masa-masa sulit. (marzuki umar sa’abah, dari berbagai sumber)

Kemampuan berbahasa pada balita sangat terlambat bila :
- Bayi tidak mau tersenyum sosial sampai 10 minggu
- Bayi tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban pada usia 3 bulan
- Tidak ada perhatian terhadap sekitar sampai usia 8 bulan
- Tidak bicara sampai usia 15 bulan
- Tidak mengucapkan 3-4 kata sampai usia 20 bulan

sumber : http://www.bangsaku.com/article/articleview/2732/1/2 [Ds]

Hingga sekarang anakku masih suka gagap, tapi dia sudah mulai sadar diri kalau mulai gagap langsung tutup mulut pakai tangan sambil senyum simpul. Terus menurunkan tempo dan nada bicara. Kadang berhasil selebihnya tidak berhasil juga. Sering bibirnya cuman komat-kamit sambil seperti orang mengeden akhirnya yang keluar cuman oooo.., atau aaaaa…., atau iii….., begitulah bergantung huruf pertama yang ada didepan, aahh…pusing juga, melihatnya [Dhl]

25-01-2006 16:08:41

You might also likeclose
Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10