Anak Dan Tanggung Jawab

Bagaimana menumbuhkan rasa tanggung jawab dan memiliki terhadap barang-barangnya sendiri?

anak tanggung jawabTanya:

Bagaimana cara memberi tahu anak untuk bertanggung jawab atau paling tidak menjaga dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap barangnya sendiri? atau mungkin ada patokan usia berapa? Anakku cewek (6tahun), sudah jadi kebiasaan tidak pernah perhatian sama barang miliknya-nya misal mainan,alat tulis dan lain sebagainya. Pernah kejadian di tempat latihan taekwondo, ada anak cowok 5tahunan aku perhatikan amat sangat menjaga target bekas latihan sedang bocahku cuek saja, sampai sabum-nya yang mengingatkan melihat nama pengenal yang tertulis ditarget. Sering kejadian seperti ini dari barang kecil dan sepele sampai yang mahal, hari ini kejadian lagi berangkat sekolah naik angkot (jaraknya dekat), tas sekolah berikut isinya tertinggal di angkot, sampai sekolah tanya mbak-nya minta tas padahal biasa dari rumah anakku yang bawa (pembantuku juga kurang memperhatikan). Ada yang bilang mungkin karena aku terlalu memanja sehingga apapun barang yang dminta anakku selalu dipenuhi jadi anakku kurang menghargai/menggampangkan? Bagaimana sebaiknya ya.., terima kasih [AR]

Jawab:

Ini persis masalahku dengan anakku (7tahun), aduh kalau konsep dan hal-hal yang rumit dia sekali dikasih tahu, dengar atau baca bisa langsung ingat tapi kalau soal ‘sepele’ seperti menjaga & bertanggung jawab atas barang-barang miliknya alamaaaaakk… tanduk, taring dan cula-ku keluarrrr semua! Yang jadi persoalan buatku, dia sama sekali tidak ada kepedulian sama barang-barangnya, dengan kata lain, kalau hilang atau ketinggalan pun tidak ada sama sekali raut sedih, kecewa dan apalagi bersalah di mukanya, dulu pernah kita sepakat bahwa kalau dia kehilangan pensil lagi (setiap hari bawa 2pensil + 1 penghapus) eeee, pulangnya masih bagus kalau tempat pensil kosong. Seringnya se-tempat-tempatnya pun dia tidak tahu ada di mana, :( aku tidak akan membelikan lagi. Kejadian pensil hilang, aku tidak mau ganti. Besoknya aku cek ke Guru Kelas, apa dia cerita (harapanku dia akan cerita sambil sedih atau bagaimana).. eh dia katanya ringan saja bilang “Aku nggak akan dibawain pensil lagi sama Ibu, soalnya pensilku selalu hilang. Jadi apa aku boleh nulisnya pakai pensil warna atau spidol?” gurunya saja sampai tidak dapat berkata-kata….

Akhirnya memang kalau untuk anakku, ini setelah semua cara rasanya sudah kucoba, sistem rewards & consequences yang paling membantu, jadi aku dan guru kelasnya diskusi dan observasi, apa yang dia paling suka. Kalau di sekolah, dia suka sekali ke perpustakan. Kalau di rumah, hobinya mengetik tulisan-tulisan pendek di komputer (tidak canggih seperti anak-anaknya mbak As lho..ini tulisan-tulisan tulalit saja tapi dia menikmatiiiiii sekali pokoknya mengetik atau menulis).

Nah, kami sepakat buat persyaratan, bahwa di sekolah, kalau peralatan belajar dibereskan setelah dipakai, perlengkapan sholat dilipat dan dimasukkan locker setelah selesai dipakai, dan peralatan makan ditutup rapi, lalu disimpan di tempatnya, baru dia boleh ke perpustakaan. Petugas perpustakaan juga diberi tahu tentang kesepakatan ini, jadi kalau dia bawa note dari Guru Kelas yang tulisannya “Hari ini Amanda sangat Bertanggung Jawab” baru dia boleh masuk dan baca di perpus :-) Di rumah juga begitu, kalau dari senin sampai jum’at pulang sekolah kaos kakinya kembali dua-duanya, tas dan isinya komplit, tempat makannya juga kembali lengkap, di hari Jum’at sore dia boleh mengetik di computer selama 1 jam. Kalau sehari saja ada yang lupa berarti minggu itu dia tidak mengetik. hehe.. ibunya kejam sekali ya?? tapi Alhamdulillah sejauh ini cara ini cukup berhasil, dia jadi lebih perhatian sama barang-barangnya. Pulang sekolah dia periksa semua barang, kalau lengkap, dia lari ke tabel yang kita buat bersama buat menandakan bahwa hari ini dia berhasil bawa pulang semua barang, komplit :-) Nanti hari jum’at kita hitung-hitungan apa dia berhasil meraih hadiah ‘mengetik di komputer’.. hehe..Pas terima raport kemarin, Guru Kelasnya bilang kalau satu bulan terakhir, perhatian dan tanggung jawab anakku pada semua peralatannya hampir sempurna, hehe.. walaupun aku inginnya dia melakukan itu bukan karena mengejar reward-nya, tapi mungkin aku harus bersabar dulu, mudah-mudahan suatu hari nanti dia betul-betul punya rasa tanggung jawab, tanpa peduli ada reward atau tidak.. [HA]

Senasib kita. Aku juga bisa merasakan “kekesalan” Mbak. Anakku 5.5 tahun memang dari TK lumayan slebor atas barang-barangnya, terutama ATK. Dari rumah bawa pensil 3, penghapus 1, pulang tinggal 2 pensil, penghapus lenyap. Waktu itu berhubung masih TK, aku belum terlalu maksa untuk bertanggungjawab (habis capek ngomel juga percuma, namanya anak balita) Solusinya aku beli ATK lusinan di Asemka, jatuhnya murah sekali, kalau hilang tidak terlalu ngomel emaknya. Nah sekarang SD, semua barangnya dia, buku, sampai pensil, penghapus, rautan, aku namakan pakai stiker. Topi juga diberi nama. Sampai hari ini belum ada yang hilang. Tapi tiap pagi aku bilang, “hari ini bawa pensil 5, kalau mau pulang sekolah dihitung ulang ya, periksa topi dan semua buku sudah masuk tas atau belum” Pagi, malam, begitu terus aku ulang-ulang, ehehe…sepertinya efektif. Tapi tiap anak beda-beda ya. Adiknya dari masih PG sangat apik terhadap semua barangnya. Tidak ada cerita barang hilang atau ketinggalan. Padahal cowok lho, yang katanya lebih slebor. Kalau di runtut kebelakang, memang kemungkinan si kakak waktu kecilnya terlalu dimanja. Maklum cucu pertama, jadi kakek-kakek dan nenek-neneknya rada berlebihan. Sekalian mau sharing moms, ternyata memasukkan anak dalam usia terlalu muda ke SD membuat rambut langsung beruban. Haduh, yang namanya kedewasaan mental memang tidak bisa dikarbit. Waktu mau memasukkan anakku ini ke SD, aku dan suami sudah siap pasti akan timbul berbagai masalah. Namun berhubung tidak ada pilihan (mau tinggal TK lagi anaknya sudah lancar calistung) ya aku masukkan SD. Sempat pakai tes, juga waktu wawancara dengan kepsek aku ceritakan bahwa anakku tulisannya cakar ayam, masih kolokan dan sebagainya. Tapi kepseknya setelah lihat anaknya yakin bahwa anak ini mampu masuk SD. Entah karena baru 9 hari sekolah ya, aduh punya anak kelas 1 jaman sekarang rupanya perlu kerja keras, PR tidak selesai, kalau tidak selesai bukannya cepat-cepat diselesaikan, malahan menangis duluan (jadi lucu juga beberapa anak seperti kontes menangis, padahal gurunya sama sekali tidak memarahi) Terus PRnya yang termasuk sulit, sampai ibunya harus putar otak bagaimana menjadi “guru dadakan”. Terpikir juga, ibunya saja jungkir balik mengajarinya, lha kalau aku kerja lagi, bagaimana caranya si mbak-mbaknya mengajari? Bagaimana dengan ibu lain yang anaknya baru masuk SD? Pada heboh tidak? [Vt]

Kesimpulan mbak Vt mungkin ada benarnya. Al masuk SD pas 6tahun, aku lihat dia alhamdulillah bisa mengikuti semua pelajaran dan tata  tertib yang diterapkan guru dengan baik. Terbukti dari banyaknya “star reward” yang dia kumpulkan. Gurunya waktu ketemu aku juga bilang kalau Al ok saja walaupun berasal dari TK luar (kebanyakan meneruskan dari TK). Mungkin karena usianya dia sudah cukup, secara mental dia pun sudah siap. Aku bandingkan dengan keponakanku yang masuk SD 5tahun, sekarang sudah kelas 3SD. Kalau lihat kasihan saja masih “kekanak-kanakan” tapi tanggung jawab pelajarannya sudah tinggi/banyak. Tidak mungkin lagi  dia diperlakukan seperti anak baru masuk SD lagi. Tapi bu, kembali lagi pasti ini juga tergantung anak dan peranan ortu. Ada juga kok yang masuk SD dini tapi juara kelas terus, dan secara mental juga baik-baik saja, contohnya kakak-kakakku dan suamiku sendiri [RM]

Ri, beberapa temanku juga masuk SD kecepatan, malah ada yang umur 4,5 sudah masuk SD. Jaman dulu masih bisa KKN kan, ibunya guru disitu. Memang setelah dewasa mereka tidak ada masalah, dan pintar-pintar. Cuma entah ya apa waktu kecil juga lancar? Mungkin mereka punya ibu-ibu yang hebat yang sanggup mengatasi masa-masa penuh perjuangan :D Ada sepupuku, sekarang mahasiswa tingkat akhir, juga pintar sekali, nah yang ini aku tahu sekali masa kecilnya, karena sempat serumah. Ibunya sampai “nangis darah” waktu dia kelas 1-2 SD. Di kelas, kalau mengantuk, ya tidur saja. PR, kalau dia tidak mau mengerjakan, ya tidak dikerjakan, gurunya juga sampai putus asa. Ibunya juga sudah bosan bolak balik dipanggil ke sekolah. Sampai saking putus asanya, biar saja  kalau tidak naik kelas. Tapi mau tidak naik kelas juga tidak mungkin, secara ulangan umum nilainya 100 semua, hehe.. Nah sekalian tanya, untuk Mbak Lt yang sudah sukses mendidik anak-anaknya, bagaimana cara mulai mendisiplinkan anak sejak dini? sharing dong cara-cara dan triks nya. Juga ibu lain yang anaknya sudah pada gede, cerita dong [Vt]

Hihi…jadi ingat jaman dulu. Dulu saja punya anak kelas 1 SD sudah perlu kerja keras, apalagi sekarang ya…Sudah ada pelajaran IPA, IPS segala, ya bagaimana bisa menitipkan belajar sama si mbak, benar Vt :D Pengalamanku, masa-masa ‘kritis’ itu kelas 1-3 SD. Dari TK yang masih banyak bermain, masuk kelas 1 SD tiba-tiba mereka ‘ketiban’ kurikulum yang berat. Beruntung kalo dapat guru pintar yang lulusan S1, kalau tidak? Memang harus kita sendiri yang mengajari anak-anak. Kalau dari kelas 1 – 3 SD mereka sudah belajar “cara belajar yang benar”, Insya Allah seterusnya aman terkendali. Hasilnya sekarang, aku sudah bisa ‘berleha-leha’ [LU]

Anak memang beda-beda ya. Setelah anak keduaku masuk SD, aku baru ngeh kalau dulu aku tidak terlalu menyiapkan di anak pertama. Anakku itu aku limpahi berbagai macam informasi, mulai dari fungsi dan cara menggunakan diary (communication book), apa saja yang merupakan hak dan kewajiban dia sebagai murid di kelas dan sekolah, dan lain-lain. Sementara John hehehe maaf ya nak, aku lepas begitu saja, tidak kepikiran sama sekali untuk memberi info seperti itu. Namun hasilnya ajaib, yang sulung baik-baik saja, survive dalam artian akademis dan non akademis. Eh si bungsu ini kok malah amburadul hahaha. Padahal kalau dipikir dia lebih dipersiapkan. Yah jawabnya adalah anak itu unik (tidak tahu jawaban lainnya hehehe). Walaupun sulungku baru kelas 3, tapi aku setuju sama LU, dasar yang kokoh akan mempermudah ke depannya. Lebih baik capek di awal, daripada capek belakangan. Vt, soal umur memang benar sekali. Anakku ini juga umurnya kurang, mana dia cowok, mana lagi bungsu. Lengkap sudah pokoknya penderitaanku hahaha. Memang kalau soal PR di rumah tidak masalah, walau masih harus disuruh tapi dikerjakan dengan disiplin dan cukup mandiri. Tapi kelakuannya di kelas hehehe…kelihatan sekali anakku ini masih ingin main [Stl]

14-08-2006 21:52:45

You might also likeclose
Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10