Antar Jemput Sekolah

Ikut antar jemput sekolah atau antar jemput pribadi
Baik buruknya ikut antar jemput sekolah atau antar jemput pribadi

Tanya:

Selamat siang ibu-ibu, tahun ini anakku mau masuk TK. Kebetulan InsyaAllah TK-nya akan lumayan jauh dari rumah, kira-kira 5 km dibandingkan PG-nya sekarang yang cuma perlu 5 menit. Masalahnya karena sekolahnya berlawanan arah dengan kantorku, maka aku lagi berpikir enaknya bagaimana ya? Kira-kira apa untung ruginya kalau ikut mobil antar jemput ?

Yang terpikir sama aku kalau mobil antar jemput itu , antara lain:

  • Bisa dijemput paling dulu dan antar paling akhir tergantung lokasi
  • Mobilnya model-model L-300 / kijang / carry (tanpa AC) soalnya aku suka lihat jendela dibuka lebar-lebar begitu.
  • Kapasitas mobil maksimal (full sampe berdempet-dempetan)
  • Sopirnya kadang-kadang aku lihat di jalan suka ngebut

Aku terus terang agak gimana kalau melepas anakku ikut mobil jemputan soalnya karena masih baru TK, meskipun mbak-nya juga harus ikutan (bayar 2 ya ?) Tapi kalau mau antar jemput sendiri, berarti harus bayar sopir, bensin, dan lain-lain. Lumayan juga ya diongkos, kecuali ada barengannya (tetangga) lumayan mungkin bisa share. Ibu-ibu, mohon sharingnya, ikut antar jemput sekolah vs antar jemput pribadi. Kemudian kalau mau survey antar jemput apa saja yang perlu diperhatikan (tips-tips) demi keselamatan dan kenyamanan anak. Aku tunggu ya ibu sharingnya, Terima kasih sebelumnya. [IT]

Jawab:

Sebagai pelaku bisnis antar jemput (yang mobil antar jemputnya hanya satu, Alhamdulillah ada satu) aku sarankan mbak bicara sama si pemilik antar jemput dan supirnya kalau aku, aku biasakan setiap ada anak baru yang baru akan ikutan aku telpon dulu kenalan sama mamanya, terus aku wanti-wanti, kalau seandainya ada yang kurang berkenan dari si supir, tolong disampaikan ke aku. Termasuk masalah ngebut dan pemakaian HP. Supirku itu aku kasih HP, tapi kalau mau terima telpon aku haruskan minggir dulu, kalau tidak ya, tidak usah diangkat sama sekali. Aku juga titip pesan ke para orangtua, supaya kalau ternyata jemputan lagi terlambat (misalnya karena hujan atau macet) mohon si supir jangan diburu-buru, karena itu sudah pesan aku ke dia, lebih baik terlambat daripada harus ngebut. Kita juga bisa lihat dari supirnya juga. Mungkin kalau mbak bicara akan ketahuan kira-kira orangnya seperti bagaimana. Atau ikut dulu satu dua kali supaya merasakan “cara nyetirnya”. Kebetulan mobilku menggunakan AC mbak (walaupun sudah banyak yang protes, panas) maklum mobil tua tapi paling tidak mengurangi satu kekuatiran buka jendela. Biasanya dalam satu sekolah ada beberapa perusahaan antar jemput. Kalau mbak bisa pilih-pilih dari situ. Ada juga kok yang jadwalnya khusus jemput anak TK (tidak gabung dengan yang SD misalnya) jadi kita juga tidak perlu kuatir si anak yang kecil meniru “omongan-omongan” kakak-kakak yang sudah lebih besar. Ada juga yang dijemputnya berdasarkan daerah rumahnya. Seperti sekolahnya anakku yang jemput anak-anak di Bintaro sini. Bis penjemputannya biasanya dibagi per sektor-sektor di Bintaro. Jadi kalaupun dijemput paling awal, tidak terlalu kecepatan buat si anak. Yang lain apa ya? biasanya kalau pakai pendamping, biayanya tidak kali 2 langsung kok mbak, tapi biasanya hanya 50-70%nya saja. Nanti kalau teringat InsyaAllah aku sambung lagi ya. ini saja sudah panjang. [NMY]

Yang paling aku rasakan sisi positif anak ikut antar jemput adalah sosialisasi (mungkin karena anakku SD ya) jadi sosialisasi ke kakak kelasnya jadi lebih mudah, soalnya kalau 1 mobil jemputan mereka akan lebih akrab. Sisi negatifnya ya keluar uang saja buat bayar jemputan. Dari awal tanyakan saja ke gurunya mbak, bagaimana aturan mainnya, bagaimana seharusnya sopirnya bersikap, nanti pada saatnya bisa ditanyakan pada anaknya setiap kali dia ikut jemputan, supirnya ugal-ugalan apa tidak, kenyamanannya bagaimana, dan sebagainya. Kalau dibilang berdesak-desakkan tidak juga ya, terus kalau supirnya mungkin tergantung mbak, alhamdulillah aku dapat yang supirnya baik dan perhatian sama anak-anak. [YN]

Kalau model begitu bagus sekali mbak, atau kalau yang punya mobil jemputan seperti salah satu ibu DI, amanlah dunia. Orangtua tidak perlu kuatir melepas anak naik jemputan. Tapi kebanyakan yang aku lihat jemputan anak-anak tetanggaku tidak begitu. Yang aku lihat mobilnya sudah tua, tidak terawat, kaca terbuka lebar-lebar sudah begitu benar sekali berdesak-desakkan, padahal anak tetanggaku ini masih TK, kasihan kan. Itu sebabnya aku tidak mengijinkan anakku naik jemputan, soalnya rumah kita jauh dari sekolah bisa-bisa berangkat paling pagi terus pulang paling sore. Kasihan saja sama anak-anak, mana anakku satunya autis satunya gadis, wah sudah deh `parno’ ku keluar. Aku juga pakai supir sejak anak-anak sekolah dan karena waktu tempuh ke/pulang sekolah lumayan lama mereka bisa istirahat di mobil, kalau naik jemputan pasti tidak bisa istirahat. Lagipula harga jemputan sampai ke rumahku mahal sekali, kalo tidak salah waktu itu pernah tanya bayarnya Rp 800,000,-/anak, nah anakku kan 2 yang sekolah di sana berarti sudah Rp 1,600,000,-. Dengan biaya sebesar itu sudah dapat supir, mana bisa sekalian antar jemput aku juga. Awalnya punya supir juga setiap pulang sekolah papiku selalu ikut jemput karena masih kuatir takut supirnya ngebut atau tidak telaten sama anak-anak, Puji Tuhan aku dapat supir yang baik jadi aku sudah cukup tenang sekarang melepas mereka. Jadi mbak harus benar-benar cek dan pertimbangkan karena ini menyangkut buah hati yang kita sayangi. [DM]

Aku juga lebih memilih tidak pakai jemputan, selain karena memang rumah dekat dari sekolah dan bisa searah sama aku atau suamiku kalau mau berangkat kerja, sekaligus ‘mencuri’ waktu supaya bisa lebh banyak interaksi dengan anak, terutama suamiku yang sering pulang malam,
paling tidak dia punya waktu sedikit untuk berinteraksi dengan anak-anaknya selama di mobil walaupun hanya 15-20 menit. Dulu pernah ada temen cerita, keponakannya sekolahnya di Madania Parung, tapi rumahnya di Tebet, dan naik jemputan. Kebayang kan berapa jam dihabiskan si kecil di mobil jemputan setiap harinya. Walaupun standar jemputannya cukup bagus (ada AC, dan lain-lain) tapi sering kali AC mati lah, sehingga kaca harus dibuka dan anak-anak kalau sudah begitu malah sengaja meletakkan kepalanya di jendela karena enak kena angin, yang ada akhirnya anak tersebut sering masuk angin, sakitlah, sudah begitu yang membuat kebat kebit juga karena trafficnya di sekitar Parung itukan termasuk traffic luar kota yang biasanya mobil melaju dengan kencang. Akhirnya sekolahnya dipindahkan. Kalau aku antar jemput memang menjadi alternatif terakhir sekali, tapi kalau memang ada jemputan dengan kualitas top kenapa tidak [ID]

Ibu-ibu, sekedar sharing saja ya aku sangat bersyukur sekali jemputan sekolahnya anakku dikelola sama pihak sekolah, dan tiap jemputan ada guru pendampingnya! (benar-benar bersyukur sekali mbak) Jadi tidak khawatir anak ada apa-apa selama di jemputan dan lagi misalnya mobilnya ada kendala tidak bisa jemput atau terlambat (terutama kalau terlambat antar pulang), pihak sekolah selalu telpon ke rumah  memberi tahu hal tersebut. Anakku dulu ‘cuma’ ditemani mbaknya selama 2 minggu pertama saja (waktu batita/2tahun), setelah itu ya bersama teman-temannya dan guru pendampingnya. Dan Alhamdulillah supirnya juga baik-baik. Maaf mbak tidak ikut memberi saran, malah cerita. Salam [LLK]

Betul mbak ini juga yang aku rasakan selama anakku ikut jemputan sekolah. Dia bisa sosialisasi ke kakak kelasnya, dan dia bangga punya kakak (walau cuma di sekolah), yang paling diperhatikan adalah sopirnya, bagaimana cara dia bawa mobilnya, bagaimana sikap dia ke anak-anak (maklumlah anak-anak, kalau dapat sopir yang tidak sabar, bisa repot). Juga daya tampung di mobilnya (jangan sampai berdempet-dempetan) Untungnya sopirnya anakku orangnya dapat bekerja sama sekali sama anak-anak dan orang tuanya, yang penting dia perhatian sama anak-anak karena kita kan “menitipkan” anak kita ke si sopir. Dan selama ini anakku merasa nyaman-nyaman saja. Kata anakku si Pak Rachman (sopir nya), kadang-kadang suka kasih kue-kue buat sarapan, atau kalau musimnya test, dia suka kasih copy-an soal-soal test tahun sebelumnya buat belajar. Memang dia dijemput nya paling pagi (5.45 masuk sekolah nya jam 7.00) jadi kadang-kadang makan paginya sambil merem, terus ya pulangnya paling siang, begitulah resikonya kalau rumahnya paling jauh. Salam [SS]

Anakku sudah ikut jemputan dari dia masuk Kelompok bermain kecil. Kebetulan yang mengelola pihak sekolah. Aku lihat mobilnya kijang dan carry, menggunakan AC. Terus aku sempatkan melihat sopirnya. Bisa kita lihat dari sikapnya, meski juga ada istilah “don’t judge the book by it’s cover”. Tapi Alhamdulilah selama ini aku tidak pernah salah menilai orang. Ternyata orangnya sabar, dan mau mengajak mengobrol anak-anaknya. Aku pilih pakai jemputan karena kebetulan aku kerja di Jakarta sementara rumah di Bogor. Jadi sudah pasti tidak bisa antar sendiri. Kalau pakai supir, biayanya jauh lebih mahal. Di sekolah anakku ini, sebulan bayar Rp 75.000,- sudah sama mbaknya. Terus ketika sudah masuk Kelompok Besar, jadi Rp 100.000,- Murah kan? Coba kalau pakai sopir. Untuk bensin sama tol-nya bolak-balik BOGOR – JAKARTA –BOGOR sudah berapa? Terus selain itu, dia jadi lebih bisa bersosialisasi. [QQ]

17-10-2005 13:07:36

You might also likeclose
Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10