Mari berbenah yuk..!
Tanya:
Moms, Ingat tidak dulu-dulu kita suka sharing tentang repotnya pembantu pulang kampung pas Lebaran? Terus kita semua tahu-tahu kejangkit sindrom aneh, yaitu mendadak jadi ‘hobby’ bebenah pas tidak ada pembantu. Sebenarnya kalau mau jujur, karena biasanya kita tidak ikut-ikutan bebenah, kita tidak tahu betapa tidak ‘sesuai keinginan hati’ beberapa tempat di rumah kita. Begitu tidak ada pembantu, kita turun tangan, gatal rasanya kalau kita tidak bebenah….ya tidak? Padahal lagi tidak ada asisten, walhasil repotnya dobel. Nah, Ramadhan tinggal sebentar lagi, Moms. Demi supaya nanti pas Lebaran tidak kena sindrom bebenah tadi hahaha….aku sudah mulai bebenah. Dimulai dari kamarku, ini perlu waktu 2 kali hari minggu, dan inipun belum 100% beres.
Isi lemari aku keluarkan semua, dalam lemari di lap pakai lap basah, beberapa disabuni sedikit hehehehe… Terus isinya benar-benar disortir. Baju-baju yang masih mau dipakai tapi jarang, dilipat terus ditaruh di lemari paling atas, begitu juga dengan tas-tas, beberapa aku hibahkan ke pembantu. Sekalian biar dia semangat membantunya. Terus lemari di kamarku tidak cuma menyimpan baju-baju saja, tapi juga stock toiletteries, dan lainnya. Habis itu laci-laci di samping tempat tidur juga dapat perlakukan sama, juga lemari pajangan di dua pojok kamar. Terakhir lemari kecil berisi stationery dan stock kado hehehe..Walhasil beberapa jadi rada kosong, aku juga menata ulang isi lemari, jadi lebih terorganisir dan efisien. Terus dapat setumpuk barang layak pakai untuk dihibahkan, senangnya… Oiya kemarin aku juga sempat menguras satu lemari es, rak-raknya dicuci, dalamnya dilap, isinya jelas disortir. Niatnya minggu depan mau ke kamar anak-anak, ini juga sepertinya perlu dibersihkan total. Kali-kali saja sharingku bisa menerbitkan insipirasi hehehe…mumpung masih ada para asisten moms…[Stl]
Jawab:
Ooooo ini to? Yang membuat tangan memar kemarin? Saking semangatnya manjat-manjat sampai jatuh? Hiks…., Semangat benar Mam…hehehe… kalau aku, Alhamdulillah mbak-mbak asisten itu pada rajin bebenah lemari baju anak & lemari es. Paling aku tinggal bawakan kardus besar dari kantor, nanti sudah disortir sama mereka. Nah giliran lemari bajuku dan suami, aku sudah bebenah waktu perut sudah mulai membesar..:-) Kebetulan pas sekali ama kejadian apa ya koq aku lupa, langsung habis setelah disortir lagi ama mbak asisten terus kita hibahkan kemanaaa gitu [Q]
Iya benar, ini yang membuat 3 jari kaki sobek beberapa yang lalu. Hiks resiko tinggal di rumah besar ya, bersih-bersih kamar saja perlu 3 hari minggu. Kulkas di rumahku ada 3, Q dan cukup besar-besar sehingga pembantu leluasa menyimpan segala rupa sesuka hati, jadi sesekali perlu diadakan sidak. Sebenarnya kadang-kadang salah aku juga, dia tidak berani buang padahal barang tinggal seiprit begitu hehehe…, sama dengan lemari baju anak-anak, masing-masing anak punya satu lemari lumayan besar, punya meja belajar dan rak buku lumayan juga, belum lagi nahkas di samping kiri kanan tempat tidur. Terus karena nyaris semua dokumen anak-anak dalam bahasa inggris, si mbak tidak berani buang karena tidak mengerti…jadi semua ya dia tumpuk saja, memang aku sudah kasih satu kotak ‘pending documents’ hihihihi….dan yang paling membuat cape adalah menyusun buku-buku, majalah habis anak-anak setiap habis baca, sukanya main geletak, nah si mbak tidak begitu paham main taruh saja di rak pokoknya, dan satu lagi yang membuat tidak habis itu koleksi DVD duuuuh discnya dimana, covernya dimana walapun sekarang sudah jauh lebih baik karena waktu menonton jarang sekali. Tapi ya tetap nanti discnya di lantai 2, covernya di kamarku! repot ya? hiks…jadi curhat
[Stl]
Ikutan sharing, Aku bebenah kemarin pas mau brangkat liburan mudik moms. Dua Minggu sebelum mudik, tiap pulang kantor aku sempatkan bebenah lemari baju anak, bajuku menyortir beberapa baju yang tidak terpakai lagi. Terus pas hari sabtu-minggu seharian ! capeee deh..benaran !) tepat seminggu sebelum mudik, aku bongkar gudang dan beberes dapur dan beberes mainan anak-anak (ruang tengah tidak dibereskan karena lapang dan tidak ada perabotnya hehehe)hasilnyaa 1 karung parabot, panci-panci yang bocor, yang tidak ada kupingnya, terus teflon-teflon yang sudah tidak bisa terpakai, pokoknya perabot yang bisa dipakai lagi aku sikat sama mainan anak-anak yang sudah pada
rusak, misalnya boneka yang tinggal tangan sama kakinya saja. Dan hasilnya sekarang terasa legaa benaran, sekarang tinggal menunggu gajian beli pancinya
[Rst]
Jadi ingat, satu dua bulan yang lalu aku juga habis bebenah ‘kamar perabotan’ Aku sebut kamar karena aku bisa masuk ke dalamnya, ukurannya kira-kira 1,2 m x 2,5 m. Ruangan itu dipenuhi rak dan paku gantungan. Aku taruh panci, wadah-wadah pyrex, lunch box, gantung teflon, wajan, dan lainnya di situ, kalau malam ditutup pintunya mencegah tikus. Waktu bebenah panci bolong tidak ada (secara aku paling rajin buang-buang barang hehehe) tapi banyak barang-barang bagus yang tidak pernah aku pakai lagi, panci kebesaran-lah, gilingan daging-lah, wah tidak tahu apalagi. Semua itu diangkut ke gudang di lantai 3,lega dan bersih, enak sekali lihatnya. Kebayang nanti kalau tiba saatnya
bebenah dapur, pastiiii aku menata ulang. Semoga ke-kerjakan semua sebelum Ramadhan [Stl]
Itu namanya cuma memindahkan sampah saja. Lantai 1 lega dan bersih, tapi lantai 3 jadi penuh sekarang..hehehehe [Ssn]
Hahahaha benar juga yaa, lebih baik dikau pindahkan ke rumah ku saja itu panci he..he..[Q]
Sebetulnya itu bukan sampah, karena masih berfugsi bagus tapi aku tidak pakai, lagipula beberapa itu punya mertua, masak aku buang? ahaha…bisa-bisa aku yang dibuang nanti [Stl]
Beberapa minggu lalu anakku batuk parah, di duga asma. Sudah ketebak dari dia bayi. Tapi ibu/ayahnya lupa terus bebenah. Jadilah pas dia batuk-batuk selama 2 minggu dan tak kunjung sembuh, kami baru disadarkan bahwa “sudah saatnya bebenah” hikss.. kasian, harus ada korban dulu. Jadilah seluruh gordyn dan vitrage di angkat untuk di cuci, buku-buku di dalam kamar dan lemari (kamar) kami ungsikan ke garasi, setelah di simpan dengan rapi dalam container plastik. Boneka? Sudah lama hanya bertengger santai di atas lemari dalam bungkusan plastik. Masih banyak P-R yang harus kami kerjakan, tapi paling tidak tulisan mbak Stl, mengilhami untuk meneruskan niat saya membereskan container tas-tas, mainan dan boneka anak-anak [MWL]
Jadi ingat soal tas, eh itu kamu bukan ya? kalau tas sudah penuh dengan bon-bon dan segala macam. Pindahkan yang penting-penting ke tas baru/lain, dan tinggalkan sampah-sampahnya tetap di tas lama, terus simpan di lemari, duh ternyata kebiasaan ini masiihhhh saja aku lakukan sampai sekarang tiap ganti tas [DRS}
Iya...iya....benar, itu aku *blushing* Sampai sekarang juga begitu, bukan cuma tas pergi, kalau backpack buat laptop sudah banyak sampahnya (a.k.a bon-bon, catatan-catatan yang sudah tidak perlu), aku ganti backpack, ini sekarang sudah backpack ke 4. Untung banyak yang kasih backpack laptop, jadi tidak perlu modal beli backpack, Sampai pindah ke Singapore ini, pas aku mau pakai tas yang aku bawa dari Jakarta, masih ada bon-bonnya, jadi sampahnya ikut mingrasi ke singapur deh, makanya, aku tidak ngomel kalau lihat meja belajar anakku berantakan, habis mamanya sendiri ya seperti ini [Ssn]
He he he iya soal tas. Aku kalau ingin ganti tas, pasti ketemu “harta karun” di tas yang lama. Kadang perentilan seperti tisue yang sudah separo. Tissue basah (yang tentunya sudah tidak basah lagi). Kadang ketemu barang-barang lama seperti syal, sarung tangan, yang sebelumnya sampai puyeng mencari dimana keberadaan benda-benda itu. Yang paling parah kalau ada sisa permen. Kalau sekedar permen kadaluarsa dalam kotak its oke, ini kadang permennya meleleh.duh
Paling senang kalau ketemu ..duit hehehe Kadang suka ada uang yang menyempil. Untung masih berlaku uangnya. Heran juga kalau pindahkan isi tas tidak pernah tuntas ya…selaluuu saja ada yang ditinggalkan
[Int]
Satu hal yang paling tidak aku senangi setelah berbenah adalah tempat-tempat yang sudah rapih, seperti atasnya bufet, atasnya meja pojok dalam hitungan hari atau jam sudah tergeletak segala macam benda yang tidak pada tempatnya (oleh oknum2 hehe). Ya mobil-mobilan anak-anak yang katanya ‘nitip bentar’, ya segala kunci yang katanya juga nitip bentar..sampai kertas-kertas tidak jelas yang juga nitip bentar.., tidak terasa ya sudah mau puasa lagi [IK]
Hahaha ….iya benar, yang titip bilangnya sementara, kenyataannya sementaun ya…Makanya kalau habis bebenah aku suka agak ber-tangan besi hehehe…[Stl]
Seminggu lalu aku baru habis beres-beres besar kamarku dan anak anak. Semua barang diangkut, susun ulang, debu-debu di vacuum, kamar bersih mengkilat bebas debu. Tapiii..baru seminggu, itu debu sudah balik lagi lumayan tebal. Tadi malam lihat ke atas lemari dan mendapati lapisan tipis debu. Begitu juga di bagian tersembunyi yang luput dari disapu-dipel tiap hari, kalau dicolek pakai jari sudah berbekas debu heraaan sekali, darimana datangnya itu debu? padahal rumahku bukan di tepi jalan raya. Juga kamarku letaknya di bagian belakang rumah dan relative tertutup, jendela pun jarang dibuka -nggak habis pikir- tadi pagi bebenah lemari dapur, kadang heran juga sama asisten. Barang barang bekas tidak karuan, kalau lolos dari pengamatan pasti diselip ke dalam lemari, misal aku menemukan botol plastic ex coca cola, jerigen dan botol minyak goreng, buanyaaak, belum lagi aneka sampah lainnya hihi…harus rajin-rajin kontrol pokoknya [Vit]
Jangan salah mbak, para asisten itu suka sekali mengumpulkan barang bekas seperti kardus susu, botol air mineral, kaleng-kaleng softdrink yang ujung-ujungnya buat dijual loh, katanya di kilo-in, uangnya lumayan buat mereka [Dn]
Bukan hanya asisten, ibuku sampai sekarangpun masih jadi kolektor. Jerigen minyak, botol sirup, botol softdrink, botol bekas sambal, madu, selai, kardus mie, koran, dan lainnya sampai nasi sisapun dijemur (sampai kering dan jamuran warna orange gitu) dan dikumpulin katanya nanti bisa ditukar abu gosok, piring, mangkok cobaaaa…haree genneee… Dan menukarkan barang-barang itupun sudah ada penadah langganan, kalau orangnya belum datang, terus ada penadah lain datang dan minta, tidak dikasih sama ibu. Aku dulu suka heran, kok dapur yang sudah diberesi, penuh lagi-penuhlagi, ternyata kata si mbak, barang-barang yang sudah aku suruh buang dan di taruh di tempat sampah, disuruh diambilin lagi sama ibuku..ck..ck..ck.. Beberapa tahun yang lalu, saking kesalnya, aku coba bicara sehalus mungkin, bahwa kalau sekedar beli barang-barang itu aku masih bisalah usahakan. Dan aku juga tidak mau perabotan dapur dicuci pakai abu gosok, sudah ada bubuk pembersih yang fungsinya sama, yang penting, dapur itu harus bersih, yang memang tidak terpakai dikasihkan saja ke orang yang mau, tidak usah ditukar atau dijual. Tapi beliau bilang, bukan itu poinnya katanya nanti kalau ibu tidak supply barang-barang bekas itu lagi, kasihan si bapak-bapak penadah itu, tidak ada masukan…hiks…, [Dy]
Soal bebenah jadi ingat kapan itu aku akhirnya bisa kasih orang yang tepat. Jadi ceritanya baju-baju anakku itu cepat sekali tidak terpakainya, jadi perlengkapan sedari dia lahir itu aku bungkus plastik rapi dan masuk ke lemari, tapi semakin lama lemari semakin tidak muat, padahal rumah secuprit. Suatu hari ada tetangga yang tanya, mbak masih ada tidak baju-baju lutfi, soalnya ada kenalan dia kasian amat mau lahiran tapi tidak bisa beli apa-apa buat persiapan, rumahnya saja di rumah liar mba hiks:(. Kebayang tidak, begitu hebohnya kita menyiapkan lahiran, dengan beli beraneka ragam… padahal masih banyak sekali yang beli sedikitpun masih mikir berkali-kali, jadinya itu barang-barang aku kasih ke dia dan dia sempat bingung kok banyak sekali, nanti untuk adiknya lutfi? ,kata dia aku bilang, lebih baik ini dipakai dulu untuk yang perlu dari pada tidak terpakai. Alhamdulillah rasanya, lega itu bisa dipakai dan lemari bisa diatur lagi…:) jadi bebenah banyak sekali manfaatnya he..he..[HR]
Hihihihi…kebayang memang. Sementara aku paling hobby buang-buang. Soalnya berdasarkan pengalaman, menyimpan ini itu dengan niatan kalau perlu sudah punya, kenyataannya pas perlu malah lupa. Yang ada tetap saja beli-beli juga ujungnya. Sementara rumah jadi setengah gudang. Wuihh tidak lagi deh. Apalagi aku terbiasa di kost dulu tinggal di kamar seupil, malas sekali menyimpan ‘sampah’. Lebih baik buang segera hehehehe…., tapi memang repot kalau sudah berurusan sama orang tua masak mau berantem ya? [Stl]









