Kapan Fase Oral Berhenti?

Anakku usianya sudah 2 tahun lebih, tapi masih suka memasukkan sesuatu ke mulutnya, kapan ya fase oral ini berhenti?

fase oral anakTanya:

Ini tentang anak keduaku, adakah diantara para ibu yang anaknya sampai lewat usia 2 thn masih suka saja memasukkan sesuatu ke mulut? (fase oral). Bagaimana ya..tips-nya, kami sudah berkali-kali kasih tahu ke  anakku mana yang boleh masuk mulut mana yang tidak, tapi sepertinya  dia tidak peduli. Dulupun ketika fase oral di masa bayinya juga  sudah kami larang, tapi tetap saja, rasanya tidak afdol kali yaa, kalau setiap benda tidak mampir ke mulutnya, Sampai umur berapa kira-kira fase ini berhenti? Terima kasih [Rhm]

Jawab:

Mbak, Anakku sekarang usianya 3 tahun 5 bulan masih juga suka memasukkan sesuatu/mainan ke mulut. Walaupun selalu diingatkan, ternyata masih saja masukkan mainan ke mulut. Memang tidak sesering waktu usianya masih 2 tahunan. Maaf ya kalau imelku tidak membantu, soalnya ternyata kita punya masalah yang sama [Ly]

Maaf kalau sudah pernah dapat artikel dibwah ini. Anakku juga (masih 3.5bulan sih) sukanya ngenyot jempol dan ngempeng. Mudah-mudahan nanti bisa berhenti sendiri [Ktk]

“Artikel 6 Kebiasaan Bayi Yang Masih Terbawa Sampai Batita”

Tiap tahapan perkembangan pastilah ada hal-hal baru yang dipelajari anak. Namun tak jarang kebiasaan-kebiasaan di tahap perkembangan sebelumnya masih terus terbawa. Contohnya kebiasaan-kebiasaan semasa bayi yang seringkali masih terbawa sampai anak berusia batita. Beberapa kebiasaan tersebut masih bisa dikategorikan normal, namun beberapa lainnya sudah harus diwaspadai. Seberapa jauh orang tua mencermati hal ini? “Yang terpenting, orang tua paham betul mana yang masih boleh dilakukan anak dan mana yang sebaiknya tidak,” jelas Sani B. Hermawan, Psi., dari Yayasan Bina Ananda.

1. Ngenyot Jari, Ngempeng Dan Ngedot
Menurut teori psikoseksual yang dikemukakan Sigmund Freud, sejak bayi lahir sampai usia 18 bulan, anak mendapatkan kepuasaan melalui fase oral. Kepuasan itu didapat anak lewat sensasi di sekitar daerah mulutnya, baik itu berupa aktivitas makan, minum, ngedot, ngempeng, ngenyot jari dan sebagainya. Hal ini wajar karena semua anak pastilah melewati tahapan yang satu ini. Dikatakan tidak wajar bila selewat usia 18 bulan, anak masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Upaya pencegahan tentu saja bisa dilakukan orang tua supaya anak tidak kebablasan dengan kebiasaan tersebut. Salah satunya dengan tidak membiasakan anak ngempeng dan ngenyot jari sejak bayi. Tapi kalau sudah telanjur terjadi, beberapa langkah berikut bisa  dilakukan.
* Kenalkan cara minum menggunakan gelas.
* Jelaskan kebiasaannya itu dapat berakibat buruk. Seperti mengganggu pertumbuhan gigi, kuman bisa masuk ke dalam mulut kalau tangannya tidak bersih dan sebagainya.
* Mintalah anak memberikan dotnya pada anak yang kurang mampu. Atau karena sudah rusak maka minta anak untuk membuang sendiri dot-nya.
* Alihkan perhatiannya pada hal lain yang juga mendatangkan kepuasan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis mainan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.
* Kalau sudah diberi penjelasan, anak masih saja melanjutkan kebiasaan ngenyot jari, bisa saja orang tua mengakalinya dengan memberikan sesuatu yang pahit di jarinya. Namun lakukan hal ini sebagai upaya terakhir agar anak tidak merasa “ditipu” oleh orang tuanya sendiri.

Beberapa dampak buruk akan muncul bila anak dibiarkan lekat dengan kebiasaannya ini. Selain pertumbuhan giginya jadi tidak bagus, secara psikologis anak juga akan kehilangan rasa aman (secure feeling) bila meninggalkan kebiasaan yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini. Padahal bila terus terbawa sampai besar, bukan tidak mungkin ia akan jadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan konsep dirinya.

2. Ngompol Dan Pup Di Celana
Masih menurut Freud, di usia batita anak sedang memasuki fase anal. Anak akan mendapat kepuasan saat menahan BAK (buang air kecil) maupun BAB (buang air besar) sebelum melepaskannya. Untuk fase anal, sampai usia 3 tahun pun masih bisa dikategorikan wajar. Walau begitu, ketika anak sudah bisa duduk, orang tua sebaiknya mulai mengajarkan toilet training. Mungkin lebih mudah kalau diawali dengan latihan BAB di kloset, dibanding mengajari anak BAK. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menyetop kebiasaan BAK dan BAB di celana.

* Biasakan tiap bangun pagi segera mengajak anak BAK di kamar mandi.
* Tiap 3 jam sekali dudukkan anak di kloset, meski ia terlihat tidak kebelet BAK. Begitupun menjelang tidur malam atau kala terbangun. Meski mungkin saat itu anak belum ingin BAK, kebiasaan ini bisa membantunya tidak ngompol lagi.
* Jangan terbiasa menolerir kebiasaan anak BAB di celana yang akan membuat anak mendapat kepuasan/pleasure. Bila dari mimiknya anak terlihat mau BAB, segera angkat dan dudukkan di kloset. Sebab kalau dibiarkan saja BAB di celana, lama-kelamaan anak akan merasa keenakan dan akhirnya malah tidak bisa BAB di kloset.
* Waspadai juga anak yang sudah lama tidak ngompol, tapi kemudian mendadak ngompol lagi. Mungkin saja ada masalah psikologis yang sedang dialaminya, seperti traumatic event dan sejenisnya. Tapi kalau hanya sesekali dalam jangka waktu sekian lama tak perlu dikhawatirkan karena bisa jadi anak hanya kecapekan atau mengalami mimpi buruk. Lalu bagaimana cara orang tua bisa mendeteksi adanya gangguan psikologis yang berakibat ia ngompol lagi? Salah satunya kalau selama 6 bulan terakhir anak sudah tidak ngompol lagi namun kemudian secara berturut-turut mulai ngompol lagi, besar kemungkinan ia mengalami gangguan psikologis.
* Jangan anggap remeh kebiasaan anak BAK dan BAB di celana. Sebab masalah ini akan mendatangkan serangkaian dampak buruk kalau terus terbawa sampai tahapan usia selanjutnya. Dalam pergaulannya, sosialisasinya akan terganggu karena ia akan jadi bahan ledekan teman-temannya.

3. Memainkan Alat Kelamin
Satu lagi kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita menurut teori Freud adalah kenikmatan memainkan alat kelamin. Dalam bahasa psikologinya, tahapan ini diistilahkan sebagai fase phallic. Kebiasaan ini masih dianggap normal, bahkan sampai anak berusia balita. Walau dianggap normal, orang tua sebaiknya mengarahkan anak untuk tidak melakukannya. Beri pemahaman begitu anak bisa diajak berkomunikasi. Jelaskan bahwa kebiasaannya ini bisa menyebabkan alat kelaminnya terluka, lecet, kotor, bahkan infeksi bila ada kuman masuk. Anak perlu tahu kalau area di sekitar alat kelamin itu sangat sensitif.

Kalau cara tersebut tidak berhasil, maka orang tua bisa mengalihkannya dengan kegiatan lain yang juga bisa memberikannya kepuasan. Misalnya dengan mengajak anak bermain tetabuhan dan sebagainya. Tapi yang harus diingat, orang tua jangan panik bila menemukan anak sedang melakukan kegiatan ini. Jangan marahi anak apalagi bila disertai ancaman, karena tiap anak pasti mengalami fase ini.

Menjadi masalah bila kebiasaan ini terus terbawa sampai anak besar. Selain lingkungan akan menganggapnya melakukan tindakan tak pantas, anak pun sebaiknya tahu bahwa kepuasan/kesenangannya bisa diperoleh dengan cara lain, selain dengan memainkan alat kelamin.

4. Ngeces (ngiler)
Ngeces atau mengeluarkan air liur tanpa kontrol lazim dilakukan bayi karena kemampuan mereka mengontrol air liur memang belum sempurna. Apalagi pada anak yang memang produksi air liurnya relatif banyak, hingga dalam tenggang waktu sebentar saja air liurnya menetes tanpa disadarinya. Kebiasaan ini masih dikategorikan wajar di usia batita awal, atau sampai usia 1,5 tahunan. Setelah usia itu, orang tua sudah harus aware karena biasanya batita di usia tersebut sudah bisa diajak berkomunikasi dan melakukan imitasi atau peniruan pada orang dewasa.

Melalui komunikasi orang tua bisa menginstruksikan anak, misalnya, “Hayo, Adek ngeces lagi ya. Coba dilap dong.” Pada fase imitasi, orang tua dapat menyontohkan bagaimana menelan dan menghapus air liurnya. Melalui latihan terus-menerus, diharapkan anak bisa belajar bagaimana mengelola produksi air liurnya. Memang sih proses ini butuh waktu alias tidak bisa bersifat instan. Setelah berhasil pun, orang tua tetap harus memperhatikan dan  mengingatkannya. Semisal saat anak sedang asyik melakukan sesuatu,  tanpa disadari ia ngeces lagi, padahal sebelumnya kebiasaan ini  sudah ditinggalkannya. Kalau hanya sesekali ngeces karena ada sesuatu yang mengasyikkannya masih bisa dikategorikan wajar. Tapi bisa dibilang tidak wajar bila sampai usia 3 tahunan anak belum lepas dari kebiasaan  ini. “Sebaiknya dicek ke dokter, siapa tahu memang ada kelainan.”

5. Nangis Minta Sesuatu
Menangis adalah suatu hal yang wajar. Namun menangis di usia batita bisa dikategorikan tidak wajar bila masih digunakan sebagai cara berkomunikasi. Di usia 2 tahunan, anak seharusnya sudah bisa  berkomunikasi dengan orang lain. Saat haus, lapar, sakit, dan  sebagainya, anak seharusnya sudah bisa mengungkapkannya tanpa  menangis. Jadi di usia tersebut kalau tangis masih digunakan sebagai  cara untuk menarik perhatian sekelilingnya, itu dapat dikategorikan  tidak wajar. Beberapa hal berikut perlu dilakukan orang tua sehubungan dengan kebiasaan anak ini:
* Tekankan pada anak untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya, tapi tidak dengan tangis. Kalau haus, anak harus bilang haus untuk minta minum, bukannya dengan menangis atau merengek.
* Orang tua harus tegas, tangisan hanya boleh digunakan untuk mengungkapkan perasaan sedih, sakit, melepaskan emosi dan sejenisnya. Namun tangis bukan cara berkomunikasi untuk mendapatkan sesuatu seperti halnya yang dilakukan bayi.
* Konsistensi menjadi penting di sini. Sekali orang tua mengatakan tidak, besok lagi untuk tangisan yang sama orang tua harus tetap mengatakan tidak yang tentu saja harus disertai penjelasan. Sekali saja orang tua tidak konsisten, anak akan belajar memanfaatkan kesempatan dan mencari-cari celah.
* Reward dan punishment juga bisa digunakan dalam kasus ini. Bila anak sudah bisa minta sesuatu tanpa menangis, orang tua bisa melontarkan pujian. Sedangkan bila anak kembali menangis untuk minta sesuatu, anak bisa “dihukum” sesuai kesepakatan yang dibuat bersama.

6. Kelekatan Yang Berlebihan
Kelekatan bayi dengan orang tuanya, terutama ibu adalah suatu hal yang wajar. Di usia ini anak belum bisa menerima keberadaan orang lain karena tidak aman (insecure) bila tidak bersama orang tua, atau significant other seperti pengasuh, kakek-nenek, om-tante yang sering dilihatnya.

Menurut teori Erik Erikson, pada masa ini sedang terbentuk trust and distrust terhadap lingkungan. Namun bila kelekatan ini terus dibawa sampai batita, menjadi tidak wajar lagi. Saat anak sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain, maka pada saat itu pula anak mestinya sudah belajar bahwa lingkungannya itu tidak hanya orang tua, pengasuh dan kakek/neneknya, melainkan ada juga orang lain di luar mereka. Anak yang mempunyai kelekatan berlebihan dengan orang tuanya, akan “takut” berhadapan dengan orang lain. Padahal ini seharusnya tidak terjadi. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk menyiasatinya:

* Mulai kenalkan anak pada lingkungan yang lebih luas, bahwa dunia ini tidak hanya berisi orang tua dan significant other lainnya.
* Ajak anak bermain tanpa perlu ada attachment langsung.
* Ajarkan anak untuk memberikan salam pada orang-orang yang ditemuinya. Dengan begitu anak bisa melihat bahwa orang lain pun tidak “berbahaya” baginya.
* Minta anak menjawab pertanyaan orang lain yang diajukan padanya agar akan tumbuh perasaan trust.
* Bisa juga sesekali anak ditinggal untuk waktu yang agak lama. Dengan begitu anak akan belajar, kalaupun ditinggal orang tuanya, pasti nanti akan kembali lagi. Bila dibiarkan saja, kelekatan yang  berlebihan akan merusak kemampuan sosialisasi anak. Anak jadi tidak berani bergaul dengan lingkungan yang lebih luas dan ke depannya kehidupan sosialnya pun akan terganggu.

Tips Untuk Orang Tua
Beberapa hal berikut disarankan Sani sehubungan dengan kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita.
* Begitu orang tua tahu batasan usia dimana anak harusnya sudah mulai belajar hal-hal tertentu, harusnya orang tua mulai aware. Makin dini usia anak saat diajarkan, makin kecil kemungkinan kebiasaan tersebut terbawa sampai batita.
* Konsistensi adalah kunci dalam mengajarkan segala sesuatu pada anak. Sekali orang tua mengambil sikap A, seharusnya sikap itu dipertahankan saat menghadapi keadaan yang sama.
* Beri penguatan kala anak berhasil melakukan perilaku yang diajarkan. Bila perlu beri reward atau pujian, sehingga anak merasa yakin bahwa perbuatannya benar.
* Jangan bosan memberi penjelasan mengapa ia harus melakukan ini dan itu. Jangan hanya sekali memberitahu, setelahnya hanya mengatakan, “Kemarin Mama sudah bilang. Adek kok enggak ngerti  juga?” Ingat kemampuan anak usia ini mengingat sesuatu masih terbatas.
* Orang tua harus yakin dengan dirinya sendiri bahwa apa yang diajarkannya pada anak akan mendatangkan manfaat. Ingat, orang tua adalah fasilitator yang membentuk tingkah laku anak.

24-04-2006 23:59:27

You might also likeclose
Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10