Orang Tua Dan Rumah Jompo

Bagaimana ya kalau orang tua kita minta tinggal di rumah jompo?

rumah jompoTanya:

Ibu yang baik, Sebelumnya maaf kalau masalah ini sudah pernah dibahas. Boleh ya minta pendapatnya, bagaimana pendapat Ibu kalau suatu waktu orang tua kita minta untuk tinggal di Rumah Jompo, dengan berbagai alasannya, disamping memilih tinggal sama salah satu anaknya. Budaya kita yang hubungan kekerabatannya sangat kuat kayaknya sampai sekarang belum bisa menerima dengan seketika kalau ada orang tua yang tinggal di Rumah Jompo sementara anak-anaknya semua ada dalam satu kota. Orang-orang sekitar, terutama keluarga besar dan tetangga yang usianya juga sudah tua, umumnya akan memberi reaksi yang serupa: “Loh..anak-anaknya kok tega sih?” “Wah, anak-anaknya tidak tahu membalas budi” “Durhaka itu anak2nya”, dan lain-lain dari yang halus sampai yang membuat telinga panas. Padahal ide tinggal di Rumah Jompo itu juga mungkin malah dari Orang tuanya sendiri, atau ide datang dari anak-anak tapi ortu menerima dengan ikhlas dan senang, tanpa keterpaksaan. Alasannya lebih pada kenyamanan, keamanan dan mengurangi stress baik untuk si orang tua mengurus rumah sendiri atau menenggang rasa jika tinggal campur anak (yang sudah berkeluarga) maupun anak-anaknya (kecemasan membiarkan orang tua tinggal di rumah sendiri berbentur dengan tanggung jawab pada keluarganya sendiri) Setahu saya, Rumah Jompo yang bersih, baik dan nyaman juga biayanya tidak murah. Terima kasih [Dy]

Jawab:

aku cukup ‘akrab’ sama panti jompo (atau istilah di rumahku panti wreda) soalnya ada beberapa kerabat sempat tinggal lama di panti (sekarang sudah berpulang) dan kegiatan gereja rutin berkunjung ke panti-panti. Kalau sampai suatu hari orangtuaku atau mertuaku memilih tinggal di panti, rasanya aku dan suamiku tidak akan keberatan. Pasti mereka punya alasan atas pilihan mereka. Dan setahuku setiap saat mereka boleh menginap di rumah kita atau kita ajak berlibur. Mengenai omongan orang, duh rasanya jaman sekarang ini aku tidak begitu ‘peduli’ sama omongan orang, sekalipun itu tetangga dekat atau kerabat/sodara dekat. Hidup di jaman sekarang, apalagi di kota metropolitan seperti ini, rasanya susah yah kalau harus menimbang komentar atau reaksi orang melulu. Aku bekerja sering pulang pagipun pasti bukannya tidak pernah dikomentari tetangga/kerabat, tapi yah aku dan suami yakin yang kita lakukan ini benar, peduli amat sama kata orang. Apalagi kalau orang tua kita sendiri tidak terpengaruh sama tanggapan atau omongan orang lain, artinya mereka sendiri sadar pilihan mereka. Itu pendapatku pribadi [Stl]

Menurut aku selama keputusan untuk tinggal di rumah jompo itu disepakati oleh orang tua dan anak, tidak ada yang merasa terpaksa (terutama orang tua) dan rumah jompo yang dimaksud juga tempat yang bisa dijamin baik, dapat betul-betul memberikan pelayanan yang baik dan orang tua bisa merasa tenang disana dengan teman-teman seusianya, kenapa tidak? Kalau masalah pandangan orang mengenai rumah jompo, mungkin karena buat kita orang Indonesia tinggal di rumah jompo/panti wredha belum jadi sesuatu yang biasa dilakukan. Jadi tidak usah terlalu pusing dengan pandangan atau kata-kata orang, lagi pula yang menjalani adalah keluargamu dan orangtuamu. Orang lain tidak tahu permasalahan sebenarnya, yang penting orang tuamu dan keluargamu menjalani dengan bahagia. Kalau ada yang bicara negatif ceritakan¬† saja kalau itu memang keinginan orangtuamu, mereka senang disana, terus kamu dan keluarga juga sering jenguk mereka, bla bla bla biar sekalian mengedukasi orang juga tentang rumah jompo yang tidak selamanya jadi pilihan yang buruk. Setahuku rumah jompo yang baik justru membuat penghuninya merasa nyaman karena disana mereka bisa ‘bergaul’ dengan teman-teman seumurannya, buat kegiatan bersama-sama, tidak direpoti sama masalah jaga cucu dan seterusnya. Jadi, selama itu adalah pilihan yang baik untuk orangtuamu dan keluargamu sudahlah jalani saja. Omongan orang lain? Kalau tidak berkenan masuk kuping kanan keluar kuping kiri saja lagipula bukan mereka yang bertanggung jawab atas keluarga kita [Ml]

Sejak kurang lebih 15 tahun yang lalu, subyek ini sudah diajukan ibu dan bapakku. Yang heboh adikku yang laki-laki, sampai-sampai dia marah betul dan mengeluarkan pernyataan: POKOKNYA KALAU AKU KAWIN ISTRIKU HARUS MAU IKUT DAN MENGURUS MAMA DAN BAPAK. Tapi itu 15 tahun yang lalu, adikku masih ABG, darah masih cepat mendidih. Sampai sekarang dia masih berkeras dengan ketidaksetujuan dia, tapi penolakan dia lebih tidak berapi-api. Alasan dia ya umum sekali, apa kata orang lain, kalau bapak ibunya di panti jompo. Nanti dibilang anak durhaka dan lain-lain. Soalnya dia aku “ancam” AWAS KAMU KALAU MACAM-MACAM SAMA ISTRIMU. Memang bakti sama orang tua wajib, tapi bukan berarti menyepelekan kehadiran si istri. Dia mau bawa orang tuaku tinggal sama keluarga dia, kan HARUS dengan persetujuan dan keikhlasan istrinya. Memang pandangan umum ya seperti itu, anaknya akan dianggap tidak tahu balas budi. Tapi kalau aku sendiri berpendapat kalau keinginan itu datang dari orangtuaku sendiri kenapa aku harus menentang hanya karena takut diomongi orang lain. Aku selalu berpendapat, orang lain itu siapa sih??? tahu apa mereka tentang kita dan keluarga kita. Mereka hanya lihat dari luarnya saja. Jadi sikap aku atas pilihan orang lain, apalagi pilihan orangtuaku untuk menetap di panti wreda jika tua jelas sekali, aku mendukung pilihan mereka. Daripada mereka tinggal di rumah salah satu anak-anaknya, tapi hanya berfungsi sebagai penjaga rumah atau penjaga anak? Bukan berarti aku kurang ajar, tidak mau mengurus orang tua yang sudah tua, tidak balas jasa mereka yang sudah berkorban mengasuh aku dari bayi sampai punya anak. Tapi ini masalah pilihan individu, tidak ada orang lain yang berhak menilai pilihan masing-masing individu, apalagi menghakimi. Orang tuaku, tepatnya ibuku, sudah mencatat beberapa panti wreda yang bagus yang ada di jakarta. Beberapa kali sudah datang ke sana, karena sekarang ini ibuku aktif di sebuah yayasan sosial. Karena sering datang ke sana dan melihat langsung keadaan serta kegiatan disana, ibuku tentunya sudah mempertimbangkan baik buruknya tinggal di panti wreda tersebut. Pertimbangan beliau ingin tinggal di panti wreda adalah karena berada di dalam komunitas yang sama (sama-sama tua) lebih nyaman ketimbang berada di lingkungan keluarga anak-anaknya yang masih punya tingkat aktivitas yang tinggi, berkegiatan bersama-sama, lebih tenang beribadah, lebih mudah diawasi (dalam hal kesehatan), dan lain-lain. Jadi ya, kalau memang itu pilihan orangtuaku, aku setuju saja. Mungkin anakku malah senang karena ada satu hari special berkunjung ke tempat eyang. Seperti biasa, “anjing mengukguk kafilah berlalu..”. Begitu juga kalau ternyata orang tuaku mau ikut aku misalnya, ya aku sih setuju-setuju saja. Suamiku juga setuju-setuju saja. Intinya memang benar-benar masalah pilihan individu [Ik]

Awalnya aku juga tidak kepikiran panti jompo. Yang terbayang panti yang tidak enak, tidak terurus dan isinya orang tua semua. Tidak asik sekali. Tapi suatu hari, Bapakku bilang nanti kalau tua mau ke rumah jompo saja. Mulailah aku tanya-tanya kenapa Bapak mau ke sana dan lain-lain. Salah satu alasannya ya karena kata Bapak, di sana kan banyak teman seumur. Nah , Di Kompas minggu lalu baru ada cerita tentang rumah jompo. Ada penghuni yang ditanya alasan milih di situ. Sama seperti yang ibu lain bilang, ada yang merasa jadi penunggu rumah anaknya lah, ada yang merasa punya teman, ada yang merasa jadi punya privasi, ada yang bilang: anak-anak maunya aku nurut seperti yang mereka bilang, yang baik menurut mereka, tapi tidak buat aku!, dan lain-lain. Lha ujung-ujungnya aku sendiri malah tertarik. Ide di rumah jompo bisa aku pertimbangkan untuk nanti setelah aku tua. Sepertinya memang enak juga, anggap saja jadi anak kos (walau pasti, yang namanya sudah tua, ya pasti penyesuaian diri lebih susah, belum kalau kangen makanan ini itu). Punya teman seumuran (yang pasti omongan jadi lebih nyambung), bisa berperan di berbagai kegiatan (tidak cuma jadi sesepuh atau anak bawang), dan lain-lain. Sesekali masih bisa ke rumah anak, menginap, jalan-jalan, dikunjungi. Kesehatan, kalau pantinya ok, katanya ada dokternya. Buat yang sudah tua sepertinya penting ya, jadi kenapa tidak? [Dn]

Mau menambahkan sedikit ya, setelah omong sana omong sini, akhirnya sementara ini orang tuaku mau tinggal sama adikku dulu di Bandung (aku dan kakakku di Jakarta) karena papaku belum sepenuhnya sreg untuk tinggal di panti jompo, masih perlu menimbang-nimbang lagi dan adikku juga masih belum sepaham kenapa mereka harus tinggal di panti jompo (biarpun kakak beradik, kalau soal seperti ini belum tentu sepaham) Kami bersyukur dan support saja apa maunya mereka, karena dimanapun mereka tinggal, yg penting mereka bahagia dan dapat menikmati hari tuanya, yang penting mereka sudah mau meninggalkan rumah mereka sekarang ini setelah sekitar 8 tahun mereka tinggal hanya berduaan dan membuat kami anak-anaknya selalu merasa khawatir. Sekali lagi terima kasih ya, bu [Dy]

10-01-2006 23:26:27

You might also likeclose
Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10