Pubertas

pubertasTanya:

Moms, ada rasa terharu juga di hati, ingat sekali awal2 di Dunia Ibu, kalu sharing biasanya seputar baby sitter, anak susah makan, anak belajar bicara, Eh sekarang, aku ingin sharing tentang pubertas. Waktu berjalan begitu cepat. Begini moms, kemarin lagi bersantai sama anak-anak, anakku yang kedua menunjukkan penisnya yang ereksi. Katanya, nih ma aku lagi mau pipis, nanti kalau sudah pipis, air di dalamnya kan habis, jadi kempes lagi.

Terus yang sulung nyambar, bukan begitu, Penisku bisa membesar kalau aku lihat yang sexy-sexy, misalnya lihat perempuan yang dadanya sexy. Aku terus ‘masuk’ dalam pembicaraan. Aku tanya, apa benar begitu? Se-akan-akan aku tidak tahu begitu. Si Sulung dengan mantap bilang, iya ma, coba deh mama buka baju (wakakakakaka….ngawur banget nih anak). Eh ma, tidak usah lihat deh, kalau aku memikirkan/membayangkan sesuatu yang seksi, penisnya jadi lebih besar. Karena tidak tahan ingin ngakak, aku melipir. Tidak lama dia panggil-panggil aku. Nih mom (sambil memperlihatkan penisnya yang ereksi) betul kan kataku? Kalau aku mikirin terus, bisa jadi besar nih. Aku dan suami jadi tidak bias bicara sedikitpun. Jadi, ingin tanya sama yang lebih pengalaman (mbak Itaaaa….) atau mungkin belum punya pengalaman tapi lebih tahu. Apa yang seharusnya aku lakukan, Apa yang harus kita katakana? Tidak ada apa-apa, cuma ingin tahu saja dalam masa ini sebaiknya bagaimana? Di sekolah memang lagi diajarkan tentang pubertas, tapi term yang lalu yang lebih banyak dipelajari tentang reproduksi anak perempuan, sampai anakku saja tahu cara melipat pembalut [Stl]

Jawab:

Walaupun anakku cewek. Sudah kelas 2 SD dan sudah mulai ditaksir sama cowok teman sekelas atau juga teman satu kompleknya. Anakku belum mengerti sekali tentang “seneng-senengan” tapi sudah mulai aku kasih pengertian bahwa senengnya hanya sebatas teman dulu saja. Anakku juga sudah mulai menanyakan kapan dia akan mendapatkan mentruasi ? waduh…awalnya agak kewalahan juga kalau moms yang lain bagaimana? apakah sudah mulai anaknya ditaksir atau menaksir? [En]

Wah kebetulan mau sharing juga mengenai pubertas. Jadi begini kebiasaan anakku yang 1, sehabis mandi, dia selalu berhanduk ria menuju ruang tv dan tanpa ada perasaan malu kemudian pakai baju di tempat yang sama. Padahal aku sudah bicara dari nada rendah sampai nada tinggi, menyarankan ganti baju atau berpakaian di kamar atau kamar mandi. Memang umurnya masih 9 tahun, tapi tinggi dan berat badannya sudah hampir sama dengan aku. Tadi pagi, dia bilang gini; aduhh ibu… dada aku sakit (sambil pegang payudaranya yang belum terlalu keliatan tumbuh karena dia agak gemuk, jadi masih samara-samar antara gemuk dan tumbuh payudara (binunnn). Terus saranku, makanya kalau bercanda dengan adik jangan pukul-pukulan dada karena payudara kamu sedang tumbuh sejak kelas 3 SD aku juga sudah minta dia pakai miniset sampai sekarang, aku juga menyarankan kalau bercanda di sekolah hati-hati, terutama dengan laki-laki jangan main dorong-dorong, karena mereka tenaganya lebih kuat dari perempuan, bagaimana ya mom… pada saat dia komentar dada (maksudnya payudara) aku sebenarnya rada terkejut juga, tapi aku tanggapi dengan wajah yang sewajar-wajarnya, segitu saja sharingku mengenai pubertas [AP]

Anak-anakku semuanya laki-laki juga sudah mulailah tahu hal-hal seperti itu. Terutama yang besar yang sebentar lagi 11 tahun sedang sangat perhatian tentang hal-hal yang berhubungan dengan reproduksi, perubahan fisik, dan lainnya. Di sekolah juga dapat semacam sex education sejak di kelas 4 dan 5 SD. Kalau untuk masalah seperti yang dialami mbak Stl yaitu tentang hal-hal detail yang menyangkut alat kelamin dan perkembangan-perkembangan seputar itu, sebaiknya karena anak laki mereka bertanya ke ayahnya, jangan ke ibunya karena kita tidak mengalaminya. Aku pernah ikut seminar tentang mengajarkan sex kepada anak dan salah satu rekomendasi yang aku ingat adalah mengenai hal ini. Sekarang ini anakku lagi sering tanya ke ayahnya tentang mimpi basah. Sumber informasinya lebih tepat karena ayahnya bisa menerangkan dengan lebih detail. Tapi kalau dia tanya kenapa hari ini ibu tidak puasa atau tidak sholat, baru aku yang menerangkan tentang mens. Sejauh ini mereka menganggap hal-hal tersebut sebagai suatu yang natural karena mungkin kami sebagai ortunya kalau menanggapi juga biasa-biasa saja, tidak pakai panik. Tahun depan anakku yang besar sudah SMP, sudah ketar ketir juga aku, apalagi kalau lihat teman-temannya di friendster wah..perlu monitoring yang cukup serius, karena anak-anak sekarang kan exposurenya sangat luas yg berarti kemungkinan terpengaruh oleh hal-hal yang negatif juga lebih besar [Ind]

Aku mau cerita anakku, dia sekarang sudah kelas 1 SD menjelang 7tahun, Dibulan ramadhan kemarin dia `melihat dan ngeh’ dengan jelas kalau mamanya tidak shalat dan tidak puasa, tadinya tidak dia permasalahkan karena waktu kecilnya sudah pernah dia tanyakan tapi terus dia punya jawaban sendiri; karena masih terlalu kecil aku biarkan, Nah, yang sekarang dia sepertinya ingin yang rada ilmiah dan lagi punya banyak pertanyaan ;) , Soal akil balig anak laki-laki dia tidak masalah, sekali dikasih tahu kalau laki-laki akil balig/sudah dewasa itu, seperti ayah.., suara berubah, punya bulu ketiak, punya kumis dann..tahu-tahu dia mengerti sendiri; berarti kalau abang besar, “pi” abang juga sebesar ayah dong…he..he.., sejak itu dia tidak pernah tanya-tanya lagi. Tapi kalau tentang anak perempuan, sepertinya dia penasaran sekali. Soal mens dan kenapa mama tidak shalat dan boleh tidak puasa, akhirnya bisa aku jelaskan (nyontek rangkuman DI –dulu pernah dibahas- dan sedikit diskusi dengan tanteku). Cuma kemarin itu tiba-tiba saja dia bilang begini; abang mau lihat “pi”-nya mamay dong (kita dirumah bilangnya “pi” untuk jenis kelamin, salah juga ya..pakai istilah masih belum pede menyebut nama yang sebenarnya), waduh! Bingung deh aku…, :D . Aku memang tidak pernah ajak anak-anak mandi bersama, jengah dan rasanya gimana yaaaa…takut juga nanti mereka main nyeplos yang tidak pada tempatnya..wiiih, malu..(tapi untuk sekarang aku rasa  akan aku kasih tahu nama yang sebenarnya karena menurutku memang saat ini waktu yang pas buat dia). Terus soal penis yang ereksi, ada lagi ceritanya..sekali waktu Ayra (diawal-awal umur 6thn) bilang kenapa setiap pipis penisnya selalu sakit. Awalnya kita kira..penisnya memang bermasalah, tapi kita tidak yakin juga karena yang cebok dia yaa..seringnya sama aku-ayahnya-andungnya, dan biasanya selalu kita tarik kulup-nya dan bersih, terus lihat juga kalau lagi pipis, dan pipisnya itu mancur, akhirnya karena anakku selalu mengeluh sakit, kita bawa juga ke dokter..dan menurut dsa-nya tidak ada yang salah, lubang pipisnya bagus.., lalu aku cerita ke temanku, kata temanku lagi mungkin tidak itu karena ereksi tapi anakku tidak tahu itu ereksi, jadilah aku serahkan ke ayahnya untuk menjelaskan. Dan sejak itu tidak ada lagi keluhan soal penis yang sakit [Rhm]

Dalam seminar itu dikasih tahu tidak kenapa sebaiknya anak lelaki tanyanya ke ayah? Kalau misalnya yang menerangkan adalah ibunya, kenapa? Soalnya jujur saja, suamiku bukan orang yang pandai menerangkan dan dia sendiri waktu kecil/remaja dapat informasi mengenai hal ini bukan dari ortunya, jadi tidak punya pengalaman sebagai recipient informasi [Stl]

Simple saja, karena yang mengalami langsung adalah ayahnya jadi sebaiknya ayahnya yang menerangkan. Kita tidak tahu persis seperti apa mimpi basah itu karena memang tidak mengalami. Selain itu dengan semakin dewasanya anak-anak laki-laki kita, sebaiknya dia juga lebih didekatkan dengan ayah maksudnya lebih sering melakukan kegiatan son-dad (tanpa ibu ya) supaya dia mendapatkan figur laki-laki dewasa yang bisa dijadikan reference. Bukan berarti peran ibu tidak penting ya, tapi memang ada hal-hal yang memang eksklusif menjadi peran ayah [Ind]

Kalau aku dan abangku, otomatis saja, habis aku jelas-jelas tidak mengerti kalau anak cowok itu mimpi basah itu seperti apa, yang dimimpikan itu seperti apa, ereksi itu rasanya seperti apa, jadi walau abangku bilang; yaa..gitu deh.. aku kuehkeuh saja, pokoknya ayah yang menjelaskan ;) [Rhm]

Mbak, maaf yach…kalau yang statusnya single parent bagaimana yach ? khan mesti menjadi ayah dan ibu. Suamiku sama seperti dengan suaminya mbak Stl, sama-sama tidak pandai menjelaskan ke anak [En]

Sebelumnya, mohon maaf lahir batin ya Ibus, hehe.. mbak, secara yang lebih ‘senior’ (dalam hal usia anak lho ya) dari mbak Stl sepertinya lebih sedikit dari yang junior kaya kita, jadi terasa sekali ya kita nunggu-nunggu tips & kisah-kisahnya… mungkin masih pada sibuk pasca lebaran :-) . Anakku yang kelas 3 kelewat lugu, jadi sex education masih bisa by the book sekali. Tapi justru yang TK B yang mengkhawatirkan dari mulai pilihan kata (misalnya “Ibu, aku pingin menikah ya sama si A” –temen sekelasnya, red), lagu yang dinyanyikan, sampai permainan pura-puranya.. masak senangnya main hamil-hamilan.. penganten-pengantenan… halah, aku terlalu takut tidak ya kalau itu jadi membuatku ketar-ketir [Hn]

Iseng-iseng aku tanya sama orang tua teman sekelas si sulung (cowok juga) dan ternyata anaknya belom pernah mengucap hal-hal seperti John. Tapi memang anaknya ini cenderung tidak cerita kalau tidak ditanya. Jadi susah juga kalau mau dijadikan ‘perbandingan”. Tapi jangankan sama anak orang lain, anak yang kedua saja tidak begitu ‘tertarik’ sama urusan sex, sampai kelas 2, dia sepertinya tidak pernah tanya yang aneh-aneh seputar genital/reproduksi. Si Sulung dari TK sepertinya sudah ribet pertanyaannya. Sekarang ini dia mulai tanya-tanya, kenapa  orang harus kawin dulu baru punya anak? Ini asli hasil analisa dia saja, karena tidak ada yang pernah omong begitu. Dia juga pernah tanya, kalau binatang harus kawin dulu juga tidak, Ma? Hm…aku cuma jawab iya, lalu buru-buru ngalihkan perhatian dia ke hal lain (masih seputar itu, tapi supaya dia tidak lebih jauh saja mengusut perihal ini, karena emaknya masih bingung). Duh masih suka tidak percaya kalau moment seperti ini akhirnya dating juga [Stl]

Waduh, mbak saya saja yang memiliki 2 putri (yang besar kelas 3 dan kelas 1) untuk mengajarkan malu cukup sulit. Ditambah lagi sekitar rumah kebanyakan anak laki-laki. Tapi lambat laun putri-putriku pun mengerti untuk menjaga auratnya terutama yang pertama. Kadang terus terang anak-anak sekarang lebih maju dan kritis apalagi sering melihat tayangan ditelevisi. Saya sarankan kita harus rajin mengingatkan anak kita menjaga aurat terutama perempuan dan menerangkan alat reproduksinya dengan bahasa sederhana [EP]

Artikel Lain di Kategori 'Rumah Tangga' »

Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10