Sekolah Dwi Bahasa

Apa ya kelebihan dan kekurangannya jika kita menyekolahkan anak di sekolah ber-dwi bahasa?

sekolah dwi bahasaTanya:

Aku sedang mempertimbangkan anak-anakku untuk sekolah di sekolah bilingual. Tapi baca artikel di bawah ini aku jadi ragu-ragu, ya ? Tolong dong ibu yang sudah punya pengalaman menyekolahkan anaknya di sekolah bilingual, kira-kira apa kelebihan dan kekurangannya. Dan yang bagus sekolah apa saja ? Bagaimana dengan tuition fee-nya? [Snt]

[Artikel] Misconceptions abound about nature of bilingual education
Opinion and Editorial, The Jakarta Post – June 18, 2005

Jan Dormer, Malang, East Java
Apparently, misconceptions abound as to the nature and purpose of bilingual education. In a recent The Jakarta Post’s article (Foreign Teachers not Qualified, May 21), Alex Tubagus decried the use of English in National Plus Schools, asking, “Why must students leave behind their mother-tongue to (apparently) study in English?” Parents, teachers, and even bilingual school administrators seem to sometimes also lack an understanding of what it is that bilingual education is trying to accomplish, and whether or not it is good for Indonesian children, and for Indonesia. Some people appear to think that bilingual education is simply tossing English into the curriculum randomly, hoping that a bilingual child will emerge.

“Bilingual education,” more often referred to as “language immersion” or “dual language” education in countries where the language to be learned is a foreign language, is essentially learning academic content in two languages. If these two languages are Indonesian and English, for example, perhaps half of the school subjects would be taught in English and half in Indonesian. This is a “50/50″ school model.

In non-English speaking majority countries such as Indonesia, a school may choose to begin in grade one with 80 percent of instruction in English and 20 percent in Indonesian. This helps children learn English quickly, and assures their ability to learn academic subjects in English by the time those academic subjects are laden with complex ideas and vocabulary – at about grade four.

Such early immersion bilingual education models usually begin reversing the balance of the instructional language in junior high and high school, often finishing with 80 percent instructional time being spent in the first language (e.g. Indonesian), and only 20 percent being spent in English.

Some schools even eliminate instruction in the foreign language altogether at the high school level, except for English class, as their intent is to prepare students well for local college entrance exams. Thus, the whole of 12 grades of school instruction is usually a “50/50″ language balance, or even a greater percentage in the native language. Whatever the bilingual educational model chosen — early or late immersion, “50/50″ throughout or a shifting language balance –the goal is always the same: To produce students who are highly proficient in two languages.

Jim Cummins, a leading writer in bilingual education, has stated time and again in his writings over three decades that the first language – the native language — must be highly valued. He and others consistently argue that effective bilingual education never replaces the first language with another. Instead, the goal is additive bilingualism — simply providing the student with an additional linguistic communication code.

Still, it is legitimate to ask, “Is bilingual education good for Indonesian children?” Indonesian educators are much better prepared to answer this question than I. Still, it can be helpful to look at bilingual schools in other countries, and the results they have experienced. Parents and educators in non-English speaking countries rightfully ask questions such as, “Will learning English through bilingual education diminish our students’ abilities to speak and use their first language?” and “Will learning English diminish students’ value of their own culture and language?”

Research in bilingual education in international contexts is still relatively new, and definitive answers to those questions are not yet readily apparent. However, the news from some initial projects is encouraging. For example, Mike Bostwick, the director of a bilingual school in Japan (using an “80/20″ early immersion model) has found children in that school to be more proficient in Japanese language by high school age than children who studied in Japanese only schools.

This is in addition, of course, to their being highly proficient in English. This supports various other studies showing that children in bilingual education tend to acquire higher levels of both languages than children experiencing monolingual education. This is probably due to the greater emphasis on language in the school, and the fact that language concepts transfer from one language to another.

What about culture? Do children in bilingual education value their own culture less than children who have studied only in the local language? According to Bostwick, no. He has found that Japanese children in his school actually place a higher value on their own culture than do monolingual Japanese students.

It is true that Tubagus has some genuine cause for concern. Bilingual education is great when done well, but can be highly damaging when done poorly. In worst case scenarios, students can be hindered in their acquisition of academic content because of their poor command of the language of instruction. Teachers may need to take valuable classroom time for translation, lessening the amount of time available for instruction.

Tubagus points out one such problem in Indonesia: Poorly trained native speakers. While local native speakers can be a great asset for Indonesian bilingual schools, they do need training and qualification — as do Indonesian teachers — in teaching English and bilingual education.

A final caution is that languages should be learned for the right reasons. Will facility in English enable Indonesian students to compete more successfully in the job market and partake more fully in international resources? If so, knowing English is a good thing.

The writer is a doctoral candidate in Teacher Development at the University of Toronto. She currently lives in Malang, where she is completing her dissertation research and can be reached at jandormer@mailblocks.com.

Jawab:

Hi, aku tidak sempat baca teliti artikel di bawah, rasanya dulu pernah Kubaca, berdasarkan pengalaman (sendiri dan dengar-dengar dari orang lain), memang ada sekolah-sekolah yang mengaku-ngaku bilingual tapi sebenarnya bukan. Adikku dulu yang suka kasih bocoran sekolah mana saja yang sebetulnya bukan bilingual. Jadi artinya sekolah itu hanya mengajarkan bahasa Inggris pada pelajaran-pelajaran tertentu misalnya untuk subject english dan math saja, sisanya pakai bahasa Indonesia. Di sekolah anakku sekarang (dan yang dulu-dulu), seluruh subject kecuali bahasa Indonesia dan agama (ini dengar-dengar juga mau diubah jadi bahasa Inggris) diberikan dalam bahasa Inggris. Pokoknya anak-anak tidak bercakap bahasa Indonesia kecuali saat pelajaran 2 subject tersebut dan bercakap mandarin pada saat mandarin subject. Satu hal lagi, yang membuatku menyekolahkan anak-anak di bilingal school bukan semata supaya mereka ‘jago’ bahasa Inggris sejak muda, tapi karena aku suka sistem pengajaran dua arah-nya. Yah pengalaman dulu kita sekolah tahu sendiri, bagaimana seramnya kita sama guru, bagaimana kita tidak diajar kritis dan lain-lain, itu yang tidak mau anak-anakku terima kalau mereka sekolah di ‘sekolah biasa’ (mohon maap tiada maksud sok atau apa ya). Jujur, bahasa Indonesia anak-anakku tertinggal sama bahasa indonesia teman-temannya yang bersekolah di sekolah full bahasa Indonesia (kemarin saja anakku baru tahu kalau mengasihi adalah to love, selama ini dia kira to give secara kalau bicara sehari-hari kita suka bilang ; tolong kasih adik!). Tapi aku yakin pasti pada waktunya nanti dia akan punya kemampuan berbahasa indonesia yang baik juga. Terbukti waktu kelas 1 sampai lemas aku kalau mengajarkan bahasa indo, sepertinya vocabnya sedikit sekali, tapi sekarang sudah jauh jauh lebih baik, padahal baru 1 tahun. Lagipula menurutku kita memang tidak bisa mendapatkan ‘semuanya’. Saat ini ‘terpaksa’ bahasa Inggrisnya lebih maju dari pada bahasa indonesianya, sebaliknya dengan anak-anak yang bersekolah di sekolah full indonesia. Dengan beberapa pertimbangan, kami memilih yang pertama. semoga sharingku bermanfaat ya, [Stl]

Setuju sama Stl. Waktu aku masukkan anakku ke sekolah bilingual pemikiranku cuma sederhana saja: di masa anakku nanti cari kerja, pastilah English sangat dibutuhkan. Kalau tidak sejak kecil dibiasakan berbahasa English yang baik dan benar, akan kalah bersaing. Seperti aku ini, sepintar-pintarnya aku berbahasa Inggris, masih jauuuuuuh dari bagus deh Englishnya, karena aku tidak diajarkan English sejak kecil. Sementara aku pikir, untuk bahasa Indonesia, karena anakku tinggal dan berbahasa ibu bahasa Indonesia, akan lebih mudah untuk menguasainya. Selain itu, aku masukkan anakku ke sekolah bilingual sesudah anakku menguasai bahasa Ibu berdasarkan input dari temanku yang psikolog, sebaiknya anak menguasai dulu bahasa ibu (paling tidak bisa bercakap dan menulis dalam bahasa ibu), baru diajarkan bahasa asing, [Ssn]

Aku setuju sama Stl. Itu tergantung pilihan saja, kita sebagai orangtua mau prioritasnya kemana. Kalau untuk bahasa, aku dan suami sepakat bahwa anak kami harus menguasai bahasa Indonesia dulu karena ya kita kan orang Indonesia. Bahasa ibu harus jadi nomor satu karena itu adalah akar kita juga, jadi tidak boleh dinomorduakan. Jadi yang kami ajarkan di rumah juga adalah bahasa Indonesia yang baik benar dulu, baru setelah itu bahasa Inggris untuk jadi bahasa kedua. Selain itu kadang-kadang anakku diajak bicara bahasa Jawa juga sama kakung dan utinya :-)

Pertimbangan ini juga berdasarkan pengalamanku juga karena jaman kita kan bahasa Inggris dipelajari di sekolah, ditambah kursus di LIA dulu Alhamdulillah kemampuan bahasa Inggrisku cukup baik, lisan maupun tulisan dan terbukti bisa menunjang karirku dari dulu hingga sekarang dan tidak kalah dengan teman-teman sejawat yang lulusan luarnegeri sekalipun. Jadi aku dan suami punya keyakinan bahwa anak kami juga bisa apalagi sekarang tempat belajar bahasa asing udah banyak dan bagus-bagus pula. Dari sekarang kami juga sudah ajarkan tapi tidak mau terlalu memaksa, paling tidak mulai dengan kosa kata dulu saja. Kadang-kadang untuk kata-kata atau kalimat-kalimat pendek digabung sama bahasa Inggris terus diajarkan cara bicara dan artinya. Kalau besoknya lupa ya sudah tidak apa-apa paling diingatkan lagi sambil main sama-sama. Tapi kalau bicara sekolah, ya kondisinya memang sekarang ini sekolah-sekolah bilingual secara umum banyak yang mutunya lebih bagus daripada sekolah-sekolah yang full bahasa Indonesia. Mungkin karena kurikulumnya kebanyakan tidak ikut kurikulum nasional ya, jadi ya kalau memang mampu banyak orangtua yang pilih sekolah bilingual. Tinggal apa prioritas kita saja dalam memilih sekolah dan pertimbangannya apa saja selain bahasa pasti banyak juga faktor-faktor lain [Ml]

Aku punya kasus sama seperti Stl, vocab bahasa indonesianya agak kurang tapi setelah aku sering ajak dia kumpul dengan anak-anak di tempat les dengan latar belakang yang berbeda-beda, akhirnya vocab bahasa indonesia anakku tidak kalah, dia aku ikuti les Sempoa, bahasa Inggris di LIA, Gambar, Sakamoto, Mandarin. Ke 2 anakkku masuk ke sekolah international. Yang perlu di bedakan sistem pendidikan di indonesia ada banyak macam:

Sekolah nasional ( sekolah negeri, sekolah katholik dsb) Sekolah Nasional Plus ( sama seperti sekolah nasional cuma di tambahkan kurikulum lain) makannya kenapa di sebut plus. Ada plusnya mengambil dari kurikulum cambridge, IB, atau afiliasi dengan sekolah-sekolah dari luar.

Sekolah International ( mereka hanya mempunyai ijin operasi saja semuanya menganut sistem dari luar seperti cambrige, IB,)

Biasanya kalau sekolah Nasional plus di dalam mata pelajarannya jadi dobel dobel karena mereka harus mengikuti UAN ( Ujian akhir nasional) jaman kita dulu Ebtanas. Sehingga mereka mengajarkan math & matematika, Science & Sains, Social study & IPS. Dan Karena harus ikut UAN semua mata pelajaran wajib ikut di ajarkan Agama & PPKN. Yang aku tahu di sevilla mereka mengajarkan semuanya dalam bahasa inggris tapi nanti di kelas 6 anak-anak baru diajarkan Matematika, Sains, IPS dalam bahasa indonesia untuk menghadapi UAN.

Kalau Sekolah International yang di wajibkan adalah karena sekolah tersebut adanya di Indonesia maka harus ada pelajaran bahasa Indo.

Bagi Mami-mami yang berminat list sekolah International/ Nasional Plus yang certified Cambridge examination bisa aku kirim lewat japri listnya. List itu aku dapat langsung dari CIEnya jadi bolehlah untuk jadi referensi. Kalau mau liat list sekolah IB school bisa lihat di www.ibo.org [patr]

Aku setuju sama Mbak Stl. Kalau kita memang ingin anak kita menguasai bahwa bahasa Inggris dengan baik, yah harus dibiasakan bercakap-cakap dalam Inggris. Yang paling penting lingkungan rumah dululah, misalnya orang tua. Menurutku (ini menurutku lho), kalau kita sebagai orang tua saja bahasa Inggrisnya amburadul dan jarang dipraktekkan, yah susah juga. Anak yang belum remaja itu mudah dibentuk kok. Lewat film-film bahasa Inggris saja, anak bisa belajar Inggris. Seperti yang aku lihat dari Mbak Stl, Ssn, Dm, yang sudah pernah ketemu bersama anaknya juga, saat bercakap-cakap dengan anaknya dalam bahasa Inggris tidak terlihat kaku, karena memang sudah jadi santapan sehari-hari :) [ind]

Kalau tidak salah berdasarkan penelitian (sudah lama karena pas waktu masih kuliah – sudah tidak ketemu kali artikel) memang lebih baik anak bisa bahasa ibunya (maksudnya bahasa yang dipakai dirumah) dulu karena kalau dia dihadapkan pada bahasa yang tidak familiar dirumah nanti akan mengalami ‘kebingungan’ sosial, jadi penggunaan bahasa jadi agak tidak pas, komunikasi kurang lancar dan pada akhirnya bisa mengganggu kemampuan gaulnya. Bahasa kedua, baik juga diperkenalkan sejak dini, tapi diperkenalkan saja lho ya bukan dipaksakan karena kalau tidak salah fungsi bahasa di otak itu baru mulai tuning setelah 6 tahun. Jadi kalau anak kenalnya cuma inggris sementara dunia sekelilingnya kenal Indonesia, ditakutkan nanti malah data yang diserap malah kurang memadai pada usia-usia dibawah 6. Kemampuan untuk berfungsi maksimal dalam lingkungan sehari-hari jadi kurang maksimal misal kalau ke warung beli-beli jadi tidak bisa (cuma contoh). Tapi kembali lagi – anak itu khan orang tua yang membuat jadi kita orang tua merasa harus menentukan apa yang terbaik buat anak karena berdasarkan pengetahuan kita itulah yang dituntut nantinya untuk masa depan sianak. Lagi pula kita juga tidak mau anak kita menjadi ‘underdog’ di masanya nanti. Memang tidak mudah jadi orang tua. Kalau aku bilang lihat kemampuan si anak – kalau memang anaknya mampu dan ENJOY plus masih tetap bisa berfungsi maksimal ya tidak papa. Terkadang kalau tidak dicoba ya kita tidak tahu. Kalau tidak berminat dan anak kayaknya terseok-seok lebih baik cari yang lebih sesuai dengan kemampuan anak (ya juga kantong kalau menurut) Habis sekolah bilingual itu mahal [RR]

Mbak, setahuku UAN itu sudah ada sebelum tahun ini, tapi terakhir diadakan tahun ajaran 2000/2001, makanya di web ebtanas.org data hasil UAN terakhir adanya untuk tahun tersebut, setelah tahun itu UAN distop sampai ada lagi tahun kemarin (2005/2006) tapi tahun kemarin pun diadakan untuk SMP dan SMA, SD tidak. [End]

01-05-2006 21:59:40

You might also likeclose
Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10