Usia Maximal Masuk Sekolah

Ibu, sharing ya mengenai sekolah dengan usia nanggung, lebih baik kemudaan atau ketuaan?

usia sekolahTanya:

Permasalahan:
1. Lebih baik mana masuk sekolah kemudaan atau ketuaan? Kira-kira bisa diterima tidak kalau sama sekolah andai umurnya kurang?
2. Terus permasalahan yang lain adalah apakah benar anak yang dimasukkan kemudaan IQ-nya lebih rendah dibandingkan kalau dimasukkannya ketuaan?
3. Apa test masuk sekolah yang harus dijalani anak?

Jawab:

Problem yang mbak hadapi sama dengan yang aku hadapi 2 tahun lalu. Malah anakku lahir bulan agustus, dimana 4tahun 11 bulan baru masuk TK. Kebetulan, aku ngotot supaya anakku masuk TK santa ursula, dan peraturan disitu tentang umur sangat ketat. Tapi aku tetap lanjutkan rencanaku, dengan alasan kalau aku paksa anakku untuk masuk TK ketika dia 3 tahun, kasihan ke dianya. Masa bermainnya berarti berkurang. Aku pikir, biar saja dia main-main dulu, soalnya sekarang sepertinya pelajaran sekolahan itu tidak seperti jaman aku, lebih susah. SD saja sudah ada sains (IPA etc.). Nanti kalau sudah SD takutnya mereka tidak ada waktu untuk main lagi. Tapi Mbak, banyak juga kok sekolah yang tidak ketat terhadap peraturan umur ini, walaupun mereka mencantumkan pada tatatertib pendaftaran murid baru. Anak temanku, lahir bulan Oktober 99, bisa masuk SD Tarakanita tahun 2005 kemarin, berarti umurnya baru 5tahun 9 bulan waktu itu. Padahal di prasaratnya mengharuskan bulan juli umur anak 6tahun. Kalau mau tahu tentang kebijaksanaan ini harus tanya langsung ke kepala sekolah sekolah tersebut [Er]

Mbak, kalau aku boleh sarankan lebih baik kamu tunda saja. Ini juga berdasarkan info dari orang tua yang pengalaman sama anak umur nanggung begini. Guru anakku juga bilang buat anak kecil, perbedaan umur 2 bulan itu besar. Benar kata orang-orang, kalau memang sudah siap segalanya jadi lebih mudah. Sudah punya kesadaran membuat PR, belajar buat ulangan, menyiapkan buku, takut terlambat/tidak bawa tugas. Tapi kalau dia masih memikirkan main saja, seluruh dunia stress deh, Lagipula setelah dewasa, apalah artinya perbedaan usia beberapa bulan, beda 1-2 tahun saja tidak ada beda. Sayang aku dulu juga tidak berpikir sepanjang ini [Stl]

Anakku kelahiran bulan November 2001, tahun ajaran lalu mau aku masukkan playgroup dan dia ditolak dengan sukses meskipun secara kemampuan dasar dia tidak ada masalah. Banyak juga teman-teman orang tua murid yang menyesal anaknya dimasukkan sekolahnya kemudaan,  karena secara kedewasaan dan penalarannya akhirnya ketinggalan jauh dari teman-temannya yang sudah cukup umur. Menurutku tidak papa Mbak
“sedikit” lebih tua tapi benar-benar siap secara mental untuk sekolah, anak cowok (apa hubungannya ya). Masalah ini lumayan sering juga dibahas di DI, dan kalau aku tidak salah, kesimpulannya tergantung anaknya juga Mbak, kalau anaknya sudah siap secara mental dan emosional kenapa tidak dicoba, yang penting bukan semata karena kemauan orang tua yang ingin anaknya sekolah semuda mungkin. Oh ya tambahan lagi, memang rata-rata TK mengharuskan muridnya tidak kurang dari 4 tahun, karena syarat masuk SD juga anaknya harus berumur 6 tahun [An]

Anakku juga laki-laki umur 3.5 tahun. Kebetulan, aku ketemu buku Raising Boys karangan Steve Biddulph, psikolog dari Australia. Bukunya bagus dan salah satu topiknya adalah mengenai ‘umur berapa’ anak laki-laki sebaiknya disekolahkan. Aku pernah share topik ini di ‘komunitas’ aku yang lain. Semoga bermanfaat.

Berikut ini aku cuplik sedikit bagian dari buku Raising Boys karangan Steve Biddulph, psikolog terkenal dari Australia. Buku ini sebenarnya buku terbitan lama -1997- tapi aku baru nemu dan baru baca. Aku pikir buku ini bagus sekali bagi orang tua untuk memahami anak laki-lakinya (yang ternyata ‘berbeda’) dan bagi BAPAK untuk mengerti dan mempunyai hubungan yang baik dengan anak laki-lakinya (yang ternyata adalah kunci bagi anak itu untuk bahagia dan menjadi a well-balanced man, menurut Steve). Selain memuat pendapat ilmiah dia tentang ‘Why Boys are Different -and How to Help Them Become Happy and Well-Balanced Men’, psikolog ini juga mencantumkan alasan-alasan ilmiah dari penelitian ahli lain, statistik, dan lain-lain. Bahkan Steve juga mencantumkan pengaruh hormon terhadap ‘kelakuan’ anak laki-laki. TAPI, Alasan aku mencuplik satu bagian dari buku ini disini karena aku pikir orang tua sekarang banyak yang bingung tentang umur yang tepat untuk memulai pendidikan formal bagi anaknya. Untuk orang tuan dengan anak laki-laki, mungkin penemuan Steve ini bisa dijadikan referensi dalam mengambil keputusan. (maaf, aku tulis dalam bahasa aslinya, Inggris)

Page 12: EARLY CHILDCARE IS NOT GOOD FOR BOYS
If at all possible, a boy should stay home with one of his parents until age three. Childcare of the institutional kind -such as large childcare centers- does not suit boys’ nature during these very early years. Many studies have shown that boys are more prone than girls to separation anxiety and to becoming emotionally shut down as a result of feeling abandoned. Also a boy of this age can develop restless or aggressive behavior in childcare and carry this label, and the role that goes with it, right on into school.

Page 68: STARTING SCHOOL – Why Boys Should Start Later
At the age of six or seven, when children start serious schooling, boys are six to twelve months less developed mentally than girls. They are especially delayed in what is called ‘fine-motor coordination’, which is the ability to use their fingers carefully and hold a pen or scissors. And since they are still in the stage of ‘gross-motor’ development, they will be itching to move their large muscles around, so they will not be good at sitting still. In talking to heads of infant departments, the same message comes through: ‘Boys should stay back a year’. It’s clear that all children should attend kindergarten from around five years of age, since they need the social stimulation and wider experiences it provides. But the boys should stay there longer -up to a year longer in some cases. For most, this would mean they move through school being a year older than the girl in the next desk. Which also means that they are, intellectually speaking, on par. Eventually boys catch up with girls intellectually but, in the way school work now, the damage is already done. The boys feel themselves to be failures, they miss out on key skills because they are just not ready, and so get turned off from learning. In early primary school, boys (whose motor nerves are still growing) actually get signals from their body saying, ‘Move around. Use me’. To a stressed-out first grade teacher, this looks like misbehavior. A boy sees that his craft work, drawing and writing are not as good as the girls’, and thinks, “This is not for me!”. He quickly switches off from learning, especially if there is not a male teacher available. “School is for girls”, he tells himself.

Mudah-mudahan pendapat ahli tadi bisa bermanfaat. Sekedar catatan kecil, Steve pun bilang bahwa walaupun penelitian ini melibatkan ‘kebanyakan’ boys tapi tetap perlu observasi individual [Dvn]

Kalau aku menduganya, bukan masalah IQ. Karena ada juga anak yang IQ nya lebih tinggi dari teman-teman sebaya dan bisa dibandingkan dengan anak yang lebih tua. Masalahnya adalah kesiapan anak untuk memasuki dunia sekolah. Problem akan muncul, kalau anaknya tidak siap masuk dunia sekolah. Karena itu, biasanya sekolah akan mengadakan tes (biasanya diobservasi saja) untuk menilai apakah anak tersebut sudah siap masuk sekolah dan bisa menyesuaikan diri dengan sistem kurikulum yang ada di sekolah. Tapi ada juga, sekolah-sekolah yang menerima murid karena pertimbangan ekonomi (asal dapat murid banyak). Nah kitanya saja yang harus hati-hati, karena bisa saja sistem pendidikannya tidak begitu bagus juga. Tidak usah takut mbak kalau anaknya harus di psikotes. Kalau memang hasil psikotesnya bagus dan menunjukkan bahwa anaknya bisa beradaptasi, sekolah akan mempertimbangkan [Ann]

Kalau aku melihatnya (mungkin terlalu) sederhana ya, bahwa kemampuan akademis (baca, tulis, hitung, analisa) mudah dikejar kalau ketinggalan bisa les ;-) tapi kalau kematangan emosi, sulit mengejarnya. Dan betul sekali seperti mbak Stl bilang, 1-2 bulan yang buat kita kayanya sebentar sekali buat perkembangan anak itu besar sekali artinya. Misalnya saja urusan rentang konsentrasi kemampuan adaptasi di lingkungan baru termasuk seberapa dia mampu me’lebar’kan zona nyaman & aman-nya, toleransinya terhadap kegagalan, kemampuannya menunda keinginan atau ketergantungannya sama orang lain. Ini semua hal yang mungkin sebagai orangtua kita tidak liat kalau masih kurang-kurang sedikit karena kita mengamati dia lebih banyak di lingkungan rumah padahal banyak lho anak yang di rumah beda (sekali) dengan di luar rumah (a.l sekolah) jadi kalau kita menilai bahwa anak kita sudah mampu, matang dan siap untuk di’percepat’ pastikan saja bahwa penilaian itu kita buat secara obyektif, dan dibuat dari observasi kita (juga orang lain – karena sekali lagi, anak bisa beda sekali kalau sedang berada di luar lingkungan keluarga / orang terdekatnya) yang menyeluruh. Untuk anak bisa happy (kan tujuan pendidikan anak-anak kita adalah membuat mereka happy ya?) menurutku harus seimbang antara kecerdasan & perkembangan emosinya, nah di sini (menurutku) soal IQ justru harus dicermatin betul karena IQ tidak menjamin anak bisa happy malah bahaya kan ya, kalau IQnya di atas rata-rata tapi perkembangan emosi-sosialnya kurang? [Hn]

Aku juga termasuk yang menyesal lho mempercepat anakku masuk sekolah, dalam hal ini SD, jadi anakku lahir Januari, nah ketika dia selesai TK A, umur dia 5,5 tahun, waktu itu aku mikirnya masa dia masuk SD 6,5 tahun. Makanya aku masukkan SD saja. Pikirku ketika masuk SD ada test yang melihat kesiapan dia untuk masuk SD, dan karena dia lulus aku jadi yakin dia bakal mampu masuk SD. Tetapi ternyata test tersebut tidak bisa menguji secara menyeluruh apakah dia cukup matang atau tidak, karena ada aspek-aspek yang tidak teruji oleh test itu, diantaranya :

1. Insan belum matang motorik halusnya, sedang di SD kan dia harus langsung belajar baca tulis, sehingga tidak ada sarana dan waktu untuk latihan motorik halus, akibatnya sampai sekarang motorik halus dia tidak berkembang secara optimal, tulisan dia amburadul kacau sekali. 2. Kematangan dia dalam menerima tugas dan tanggung jawab, secara dia dipaksa pada umur yang waktunya, jadi pada waktu SD dia banyak dibantu, akibatnya jelek sekali, dia harus dibantu terus. Jadi aku sarankan ditunda saja, seperti kata Stl, beda 2 bulan saja sangat besar artinya, apalagi 6 bulan atau 8 bulan dan itu benar sekali [It]

Aku cuma mau berbagi saja maaf kalau agak bertentangan dengan yang sudah tersimpulkan dari awal tadi. Kebetulan adikku dulu masuk SD umur 5 tahun, karena ibuku sibuk mengurus nenek yang stroke dan di rumah tidak ada yang mengurus kalau pagi, jadilah dia sekolah SD lebih awal. Secara kasat mata dampaknya tidak banyak negatifnya ya, paling sempat sedih lihat dia, SMP kelas 1 tapi main mobil-mobilan yang disusun-susun seperti anak SD. Selebihnya perkembangannya mengikuti teman-temannya yang kebanyakan lebih tua 2 tahun, termasuk istrinya juga lebih tua 1.5 tahunlah (umurnya sekarang 25 tahun). Tapi tidak masalah. Kalau aku pikir andai dia boleh memilih tentu dia akan pilih main dulu sepuasnya, nanti pada saatnya baru deh sekolah. Ini cuma contoh kasus bagi yang sudah terlanjur saja sih, supaya jangan terlalu kepikiran [Ly]

Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa kalau memang kita sebagai Orang tua melihat potensi pada anak untuk mempercepat anak ke SD ada baiknya setelah Play Group kita memasukan ke TK B, atau Play group semester & semester 2 di TKA, baru memasukan ke TKB, ketimbang seperti saya dari TKA langsung ke SD karena inti pelajaran yang ada di SD itu diajarkan di TKB bukan di TKA [Pat]

Hasil bicara dengan kepala sekolahnya dulu, memang sebaiknya jangan memasukkan anak ke SD terlalu dini, selain anak belum siap , masih ingin bermain, katanya ini nantinya juga mempengaruhi prestasi. Katanya begini, kalau masuk sekolah SD kecepatan, oke waktu di SD bisa jadi anak berprestasi bagus, tetapi nantinya prestasi anak semakin lama semakin menurun ketika semakin tinggi sekolahnya. Tapi kalau yang ini kupikir tidak selalu ya, cuma kebetulan saja yang terjadi pada beberapa orang begitu. Menurutku ya lebih ke anak belum matang dan belum siap itu tadi kalau masuknya ke SD kecepatan [An]

Tapi ada satu diskusi yang menarik dengan guru anakku. Bahwa proses menulis itu sangat penting karena membutuhkan faktor motorik halus itu memang sangat berperan. Di kelas anakku, ada yang sudah jago baca dan kenal huruf, tapi tidak bisa menulis karena tidak terbiasa dan tidak terlatih. Jadinya tetap saja kesulitan untuk meningkatkan ketrampilannya dalam menulis. Guru anakku juga bilang bahwa di semester 1 dia pasang target agar anak bisa menulis dengan baik dan benar, di semester 2 baru anak diajarkan membaca. Tidak bisa tulis langsung dengan baca, karena keahlian yang dibutuhkan berbeda. Wah, memang setengah mati mengajari anakku menulis halus, sampai-sampai tangannya harus dipegangi kalau giliran menulis sambung gitu. Tapi lama-lama di semester 2 ini sepertinya tangannya sudah lebih lemas, jadi sudah tidak usah dipegangi lagi. Sekarang aku yang konsentrasi untuk mengajari dia mengenal dan merangkai huruf. Ada yang bisa sharing ini bu karena aku belum menemukan methode yang tepat. Tapi aku jadi dapat masukan bahwa sebetulnya tidak usah buru-buru seorang anak dikarbit harus baca dengan cepat, harus bisa begini begitu, karena masih dalam masa pertumbuhan, tetap dibutuhkan koordinasi antara fisik dan psikis yang pegang peranan. Dan itu harus tumbuh dengan seimbang [Val]

27-02-2006 15:02:06

Comments

  1. Bagus banget nih artikelx..kemarin sempat tarik ulur sama suami soal umur sekolah sibungsu..dua kakaknya memang terlalu muda masuk sd nya skrg umur sebelas tahun sdh kelas 6..dan yang no2 umur 9 thn kelas 4..thanks..

You might also likeclose
Dunia-Ibu.org located at Cilandak , Jakarta, Indonesia . Reviewed by 39 customers rated: 9.1 / 10