Kalsium Buat Anak

kalsium anak

Kalsium apa yang ibu berikan untuk anak ibu dan bagaimana hasil pertumbuhan tulangnya?

Tanya:

Bu, minta masukan ya. Kalsium merek apa yang ibu berikan untuk anak ibu, terus hasil ke pertumbuhan tulang/badannya bagaimana, bagus tidak? Aku bingung mau kasih tablet kalsium apa untuk anakku, kalau bisa yang hasilnya bagus, karena aku peduli sekali dengan tingginya [End]

kalsium anakJawab:

  1. Anak diberi vitamin enervon-c plus 1 sendok per hari dicombine dengan calcium sandoz junior 2 tablet perhari [DSW]
  2. Nutrilite Chewable Calmag, mengandung 270 mg kalsium dan 50 mg magnesium, tidak ada bahan pengawet atau pewarna jadi sangat aman dikonsumsi oleh anak-anak [LH]
  3. Kiddypharmaton Syrup, selain mengandung kalsium juga terdapat multivitamin lainnya [N]
  4. Tianze, tidak ada alasan khusus hanya karena rasanya lebih enak [B]
  5. Sandoz syrup [DS]

07-06-2006 23:12:46

Mata Anak Cylinder

anak mata cylinder

Anakku, usia 4,3 tahun matanya dinyatakan cylinder. Sebaiknya aku bagaimana yaa..selain anakku masih kecil sekali dan aktif, usaha apakah kiranya agar cylinder tidak bertambah?

anak mata cylinderTanya:

Ibu, Aku mohon sharingnya, terutama bagi ibu yang punya anak mata cylinder atau ibu sendiri yang matanya cylinder. Anakku 4,3 tahun tadi siang diperiksa dr. Lumongga, dari hasil pemeriksaan ternyata anakku cylinder 1,25 (-0.75) dan 1,75. Cukup tinggi dan dokter menyarankan untuk segera pakai kacamata, cuma aku tuh berat sekali mau membelikannya, kebayang anakku yang pecicilan harus pakai kacamata. Menurut ibu semua bagaimana ya? apakah kacamata tersebut harus segera dipakai? atau bisa ditunda? Kalau ditunda ada efek sampingnya tidak ya? Terus apa usaha agar cylindernya tidak bertambah? Terima kasih ya [Yn]

Jawab:

Aku malah ingin tanya, kenapa tiba-tiba periksa anakmu? Ada pemicunya? Maksudku apakah karena anakmu mengadu tidak jelas kalau lihat atau apa? Soalnya anakku kalau menonton TV dari dekat sekali [Dl]

Mbak, tinggi sekali cylindernya secara umurnya baru 4,3 tahun kasihan ya mbak kalau harus pakai kacamata, tapi tidak apa-apa sepertinya mbak, di Playgroup anakku juga ada yang berkacamata, tapi memang anaknya tidak pecicilan. Aku mau berbagi saja, kebetulan kacamataku ada cylindernya, kanan kiri sama cylinder 2. Kalau mata ada cylindernya ini, sependek pengetahuanku, kalau melihat object itu jadi kabur, contoh kasus aku yang kalau tidak pakai kacamata, orang cengar-cengir sama aku jarak 5 meter aku tidak akan lihat, lebih parah lagi kadang-kadang aku tidak bisa lihat orang itu punya mata atau tidak kalau kacamataku kulepas, jadi kashian juga Mbak kalau misalnya anak mbak harus mengalami “penderitaan” tidak melihat dengan jelas, apalagi sedang dalam usia senang-senangnya main. Kalau menurutku pakaikan saja mbak, sambil cari cara bagaimana supaya turun cylindernya, kalau aku tidak pernah berusaha, karena ketahuan ada cylinder juga waktu SMA kelas III, secara makan wortel segerobak juga sudah tidak berpengaruh, aku tidak tahu bagaimana caranya supaya mata cylinder tidak bertambah, mata cylinderku dari SMA sampai sekarang cuma nambah 0,25 (+/-10 thn), aku tidak pernah usaha apa-apa untuk mencegah pertambahan mata cylinderku ini, maaf kalau tidak membantu ya [Wln]

Dl, anakku aku periksa karena aku curiga saja, karena kalau melihat TV dan main computer maunya dari dekat, susah sekali disuruh mundur. Iseng aku minta dia menyebutkan angka di kalender, eh ternyata kalau dari jarak tertentu dia mengarang-ngarang. Coba saja test begitu  dulu, kalau dia bisa menyebutkan dengan benar berarti matanya normal. Menurut dr. Lumongga sebenarnya mata silinder tersebut bawaan dari lahir, jadi nonton TV dekat, main komputer dekat bukan pemicu mata minus atau silinder. Dari Nabil sendiri tidak pernah mengeluh matanya tidak jelas atau apa, faktor keturunan juga bisa [Yn]

Mbak anakmu senasib sama anakku 6,5 tahun. Waktu pertama diajak periksa karena gurunya yang bilang kalau lihat white board di sekolah suka agak memincingkan mata. Benar saja waktu periksa ke RS Borromeus (aku tinggal di Bandung) di”vonis” mata kanan kiri -0,5 dan masing-masing juga cylindris 1,5. Papanya sempat tidak terima mungkin dokternya salah. Sampai kemudian kita cari second opinion, diperiksa ke klinik lain. Tapi ya tetap saja ternyata. Saya sempat sedih juga, kasihan masih kecil sudah berkacamata tapi mau bagaimana juga Mama dan Papanya juga berkacamata. Dulu waktu saya hamil sempat tanya-tanya juga sama DSOG, kemungkinan nanti anak dapat “warisan” berkacamata kata DSOG kemungkinan besar iya. Akhirnya kami belikan kacamatanya Papanya masih suka sedih kalau lihat anakku pakai kacamata. Aku sudah berusaha menerima tapi anehnya anakku kok senang sekali ya, waktu di optiknya .. dia semangat pilih sendiri setelah selesai kacamatanya anakku berkomentar; Mah gambarnya jadi kelihatan (waktu itu aku tunjukkan ada gambar di optik). Kata dokternya seharusnya kacamatanya selalu dipakai (kecuali mandi dan tidur) Tapi sekarang aku perhatikan anakku hanya pakai kalau disekolah setiap ada pelajaran menulis plus kalau dirumah tiap dia mengerjakan PR. Mungkin ada baiknya Mbak segera membelikan kacamata buat anak mbak. Ada teman kantor saya yang anaknya juga berkacamata sejak kecil (kelas 3 SD – kalau tidak salah) – pertama berkacamata sylindris juga sekarang anaknya sudah SMP – menurut teman saya itu rajin saja kontrol ke dokter mata 6 bulan sekali. Katanya sylindris anaknya juga sedikit demi sedikit berkurang. Waktu itu suami saya sempat cari-cari informasi LASIK Sangking tidak terimanya kalau anaknya harus berkacamata. Katanya kalau LASIK minimum usianya 18 thn [LM]

Mbak, ponakan aku pakai kacamata dari TK. cylindris juga. Kalau tidak pakai kacamata, dia tidak bisa lihat tulisan dipapan tulis maupun dibuku. Kasihan, makanya dengan terpaksa sama kakak aku dipakaikan kacamata. Dan setiap 6 bulan dan jika ada keluhan ke dokter mata [Dw]

Kalau berdasarkan pengalamanku yang punya mata cylindris. Sebaiknya anaknya dipakaikan saja kacamata. Ini untuk membantu dia dalam penglihatan. Karena mata Cylindris ini dalam melihat sebuah benda fokusnya bisa bergeser. Kasihan kalau dia sudah cylindris yang lumayan tinggi begitu tidak dipakaikan kacamata. Kepalanya bisa pusing mbak. Dengan bantuan kacamata dia bisa melihat dengan baik. Dengan segera dia dipakaikan kacamata, itu membantu agar cylindrisnya tidak bertambah parah mbak. Soalnya kalau ditunda pakai kacamata, matanya dipaksa untuk melihat suatu fokus dan hasilnya malah dia akan jadi tambah parah. Pengalamanku malah sejak rajin pakai kacamata dan tidak dilepas-lepas, cylindrisku bisa berkurang. Memang menurut beberapa ahli cylindris itu agak susah berkurangnya. Sekarang model kacamata anak-anak bermacam-macam Banyak yang bahannya ringan, agar dia tidak kerepotan dengan kacamatanya dalam bergerak sehari-hari. Moga-moga membantu ya [Nz]

Mbak, anakku yg pertama sudah harus pakai kacamata sejak dia umur 4 tahun. Awalnya ibu gurunya telpon ke aku bilang kalau di kelas anakku sering melihat papantulis sambil memicingkan mata. Terus aku bawa ke dokter, ternyata dia memang harus pakai kacamata cylinder 1,25 kiri/kanan. Aku belikan dia kaca mata, karena dokter menyarankan perlu pakai. Tapi karena setiap orang dewasa maupun teman-temannya senang melihat anakku pertama kali pakai kacamata terus anakku jadi malu dan tidak mau pakai lagi, kalau ada aku baru mau pakai kacamatanya. Alhasil 6 bulan kemudian anakku periksa lagi ternyata hasilnya malah tambah cylindernya. Dan memang anakku sendiri bilang kalau dia sekarang sudah mulai tidak nyaman kalau lihat tidak pakai kacamata. Anaknya dokter mata itu sendiri waktu umur 5 tahun sudah harus pakai kacamata terus waktu umur 9 tahun lama-lama cylindernya berkurang hingga sekarang hanya 0,25 dan sudah tidak perlu pakai kacamata lagi. Dokter bilang, keadaan ini bisa jadi karena salah satu orang tua ada yang pakai cylinder atau memang syaraf mata anak sendiri masih belum 100% berkembang. Seharusnya anak seumur anakku (skrg 5 th) syaraf matanya 100% sudah sempurna, tapi karena kasus ini makanya dibantu pakai kacamata supaya syarafnya terangsang. Menurut beliau anak yang balita lebih baik memakai kacamata jika memang diperlukan, karena ini akan membantu syaraf perkembangan matanya. Dan pada umumnya kalau rajin pakai maka cylindernya akan berkurang. Lebih baik jangan sampai 10tahun, soalnya kalau sudah 10 th cylindernya cenderung tidak bisa hilang lagi dan si anak kemungkinan besar bisa menderita “mata malas” yang akan mengganggu proses blajarnya. Maaf kalau kepanjangan sebab kemarin baru berkunjung ke dokter mata, jadi masih fresh di dalam ingatanku. Anakku waktu ada penjelasan dari dokter diajak mendengarkan dan komunikasi dgn dokternya. alhasil dia janji mau rajin pakai kacamata. jadi saran aku lebih baik anak mbak pakai kacamata saja, belikan yang plastik lensanya dan pakai tali (bukan rantai). dan jangan lupa untuk ingatkan orang disekitarnya supaya jangan terlihat beda kalau lihat dia pakai kacamata, anggap biasa saja. takut si anak jadi malu. Note : di mangga dua banyak frame kacamata and pakai hiasan yang lucu-lucu untuk anak-anak, [Dr]

03-05-2006 23:33:19

Balita Berkacamata Dan Atau Kelebihan Berat Badan

anak berkacamata

Ada yang mempunyai anak balita yang kelebihan berat badan atau berkacamata?

anak berkacamataTanya:

Bu, adakah yang mempunyai anak balita (1 – 5 thn) yang kelebihan berat badan atau mempunyai masalah dengan mata (berkacamata)? Terima kasih [NMY]

Jawab:

Aku mendietkan anakku dengan memberi dia susu low fat (dan aku baru menyadari ternyata susu anak-anak tidak ada yang low fat ya, jadinya pakai fresh milk saja) dan lebih banyak memberi dia cemilan buah dari pada kue-kue terus kalau makan juga nasinya dikurangi, diganti sayuran yang diperbanyak. Yah kadang anaknya nolak, bukannya mengambil buah malah ingin roti. Aku tidak terlalu ketat dietnya, karena aku pikir toh dia masih dalam pertumbuhan dan sangat aktif daripada staminanya melorot gara-gara aku paksa diet. Jadi kalau lagi bisa saja aku coba atur menunya. Sebaliknya anak keduaku, makan sebakul juga tidak jadi daging [Stl]

Anakku (35 bulan) alhamdulillah tidak berkaca mata tapi sepertinya kelebihan berat badan karena sekarang beratnya 23 kg tinggi 101 cm. Sedangkan dari chart yang aku pernah dapat dari http://www.cdc.gov/growthcharts itu maximum untuk 3 tahun adalah 17 kg dan tinggi 95 cm. Sepanjang ini aku tidak melakukan apapun karena kadang dia doyan makan kadang tidak – sekarang lagi doyan makan alhamdulillah – aku ngeri juga kalau membatasi [RQ]

Anakku 6tahun tidak kelebihan berat badan tapi punya kebiasaan makan yang mirip dengan anaknya ibu-ibu sekalian, kalau malam jam 7-8an minta cemilan yang berat misal sate ayam+lontong atau baso ikan atau martabak telor bisa menghabiskan 5-6 potong yang tebal itu, kalau cuma dikasih biskuit, atau makanan ringan tidak mau, kurang nendang kali ya, [DP]

Sama mbak, anakku yang cowok juga makannya luar biasa, apalagi kalau ada sambal atau masakan yang pedas-pedas mungkin dalam masa pertumbuhan ya, padahal waktu kecil dulu susah sekali makan, sekarang malah minta makan terus [Ri]

Aku punya problem yang sama denganmu, anakku ampun sekali gendutnya, tapi anakku yang satu lagi walah ..kok tidak bisa gemuk-gemuk,  bedanya suka sekali makan, sementara anakku yang satunya bukan tidak suka makan, tapi dia, kalau makan cepat kenyang, dan kalau sudah kenyang dia tidak suka ngemil, sedang yang satunya, sekali bisa 6 kali makan, malah kalau habis makan malam, tidak lama minta roti bakar, mana roti bakarnya pakai mentega dan cokelat. Belum lagi kalau aku buat Sacher atau opera, wah dia suka sekali. Aku sudah coba kasih tahu dia, efek dari kegemukan, dia sudah mengerti dan bilang “Ya Mah, aku juga ingin diet” tapi ya itu dia susah sekali dietnya. Akhirnya ya aku ajak saja dia rajin olah raga, lumayan aku disiplinkan dia berenang setiap sabtu, dan aku targetkan minimal 30 kali bolak-balik. Terima kasih atas masukkannya ya Mrn dan Stl, jadi termotivasi lagi buat ajak jaga diet anakku [IK]

Benar sekali, selera & kebiasaan makannya itu yang membuat seram. Cuma dulu aku pernah ikut akupuntur di Kuningan dan ternyata kalau aku pikir-pikir, yang membuat akupunturnya berhasil (aku turun 10 kilo lho dan alhamdulillah tetap sehat) adalah karena pola makan yang disarankan dr Rosanna itu, model-model food combining dengan porsi secukupnya. Dulu itu aku pagi yang harus minum susu, buah, sarapan masih lapar saja, setelah akupuntur jadi sudah kenyang sampai siang dengan cuma sarapan pagi susu & buah. Malah tadinya obat dari dokter yang katanya mempercepat metabolisme & mengurangi lapar, sudah tidak aku minum setelah 1 bulan, karena memang sudah tidak mudah lapar lagi. Kebiasaannya jadi sampai sekarang, makannya jadi porsi normal deh, tidak mudah kalap kalau lihat makanan, walaupun kadang-kadang biarpun habis makan terus ada kuenya mbak IK di kulkas aku jadi gelap mata. Jadi sekarang aku membiasakan Vilo makan secukupnya & tidak mudah kalau lihat makanan, walaupun memang porsinya lumayan kalau dibandingkan teman-temannya. Bawaan suamiku juga sepertinya, karena kalau makan di luar pasti pesannya 2 porsi, sup buntut sama nasi goreng misalnya [Mrn]

Aku saja kadang seram lihat anakku makan. Sebelum makan malam dia ngemil berat, makan malamnya tahunya tambah (di kira sudah kenyang) eh kadang habis itu melihat roti atau apa masih mau juga. Sekarang begitu dia selesai makan, aku suruh sikat gigi, dengan harapan dia malas ngemil lagi. Anakku tidak kelebihan berat badan (7,5 th 32 kg) tapi aku tidak mau bablas. Ini aku juga mau buat dia rutin berenang tiap Sabtu-Minggu [Stl]

Wah, 35 bulan 23 kg itu sudah kelebihan berat badan ya?? Kalau begitu anakku kelebihan berat badannya banyak sekali. Dia 3,5 tahun 24,5 kg. Minggu lalu ke DSA, dokternya agak bingung, karena dari kartunya, terakhir ke DSA 8 bulan lalu, dan beratnya dari 8 bulan lalu itu naik 8 kg. Tapi DSAnya tidak bicara apa-apa soal kelebihan berat badan. Cuma disuruh timbang sampai 2 kali saja. Apa perlu disuruh diet? nanti kurus lagi kalau disuruh diet, agak trauma dengan anak kurus, soalnya anakku ini sampai umur 2,5 tahun masih kurus kering, beratnya susah sekali beranjak dari 12 kg, sampai dikira TB. Ternyata bukan TB, cuma tidak cocok sama masakan mbaknya [Vt]

Mbak Vt, menurutku kita tidak bisa berpatokan seratus persen pada chart dan yang sejenisnya karena tiap anak kan beda sifat dan pertumbuhannya menurutku kelebihan berat badan kalau memang berat badan dan tingginya sudah tidak seimbang tapi kalau anaknya ternyata tingginya melebihi rata-rata anak lain, berat badannya sudah seharusnya juga melebihi rata-rata tapi memang menurutku anak sebaiknya jangan sampai kegendutan karena masalah ini bisa dibawa sampai besar nanti, juga bisa bermasalah pada kesehatannya, wah hebat, 8 bulan naik 8 kg artinya masakan emak sangat memuaskan [Irm]

Anakku juga umur segitu beratnya sekitar 23-24jkg, yang aku takut dia bisa obesitas karena dengan pola makan dia sekarang beratnya bisa naik 1 kilo tiap 3 bulan (harusnya umur 3 tahun ke atas naiknya kalau tidak salah 1 kilo setahun ya). Karena memang dia doyan makan, aku ganti kejunya jadi yang low fat dan susunya juga ultra yang lowfat (ditambah milo sedikit supaya ada rasa coklatnya karena dia tidak suka susu putih). Terus di rumah, kalau dia tidak sekolah, aku tidak buat cemilan, jadi makannya cuma 3 kali plus 1 kali buah plus susu 2 gelas. Lumayan, sekarang dia 4.5 tahun, beratnya 24 kg sudah stabil selama sekitar 1 tahun ini, tapi alhamdulillah tingginya tambah terus. Dari fisiknya kelihatan dia lebih langsing dan lebih segar menurutku, [Mrn]

07-06-2006 23:18:15

Kapan Fase Oral Berhenti?

fase oral anak

Anakku usianya sudah 2 tahun lebih, tapi masih suka memasukkan sesuatu ke mulutnya, kapan ya fase oral ini berhenti?

fase oral anakTanya:

Ini tentang anak keduaku, adakah diantara para ibu yang anaknya sampai lewat usia 2 thn masih suka saja memasukkan sesuatu ke mulut? (fase oral). Bagaimana ya..tips-nya, kami sudah berkali-kali kasih tahu ke  anakku mana yang boleh masuk mulut mana yang tidak, tapi sepertinya  dia tidak peduli. Dulupun ketika fase oral di masa bayinya juga  sudah kami larang, tapi tetap saja, rasanya tidak afdol kali yaa, kalau setiap benda tidak mampir ke mulutnya, Sampai umur berapa kira-kira fase ini berhenti? Terima kasih [Rhm]

Jawab:

Mbak, Anakku sekarang usianya 3 tahun 5 bulan masih juga suka memasukkan sesuatu/mainan ke mulut. Walaupun selalu diingatkan, ternyata masih saja masukkan mainan ke mulut. Memang tidak sesering waktu usianya masih 2 tahunan. Maaf ya kalau imelku tidak membantu, soalnya ternyata kita punya masalah yang sama [Ly]

Maaf kalau sudah pernah dapat artikel dibwah ini. Anakku juga (masih 3.5bulan sih) sukanya ngenyot jempol dan ngempeng. Mudah-mudahan nanti bisa berhenti sendiri [Ktk]

“Artikel 6 Kebiasaan Bayi Yang Masih Terbawa Sampai Batita”

Tiap tahapan perkembangan pastilah ada hal-hal baru yang dipelajari anak. Namun tak jarang kebiasaan-kebiasaan di tahap perkembangan sebelumnya masih terus terbawa. Contohnya kebiasaan-kebiasaan semasa bayi yang seringkali masih terbawa sampai anak berusia batita. Beberapa kebiasaan tersebut masih bisa dikategorikan normal, namun beberapa lainnya sudah harus diwaspadai. Seberapa jauh orang tua mencermati hal ini? “Yang terpenting, orang tua paham betul mana yang masih boleh dilakukan anak dan mana yang sebaiknya tidak,” jelas Sani B. Hermawan, Psi., dari Yayasan Bina Ananda.

1. Ngenyot Jari, Ngempeng Dan Ngedot
Menurut teori psikoseksual yang dikemukakan Sigmund Freud, sejak bayi lahir sampai usia 18 bulan, anak mendapatkan kepuasaan melalui fase oral. Kepuasan itu didapat anak lewat sensasi di sekitar daerah mulutnya, baik itu berupa aktivitas makan, minum, ngedot, ngempeng, ngenyot jari dan sebagainya. Hal ini wajar karena semua anak pastilah melewati tahapan yang satu ini. Dikatakan tidak wajar bila selewat usia 18 bulan, anak masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Upaya pencegahan tentu saja bisa dilakukan orang tua supaya anak tidak kebablasan dengan kebiasaan tersebut. Salah satunya dengan tidak membiasakan anak ngempeng dan ngenyot jari sejak bayi. Tapi kalau sudah telanjur terjadi, beberapa langkah berikut bisa  dilakukan.
* Kenalkan cara minum menggunakan gelas.
* Jelaskan kebiasaannya itu dapat berakibat buruk. Seperti mengganggu pertumbuhan gigi, kuman bisa masuk ke dalam mulut kalau tangannya tidak bersih dan sebagainya.
* Mintalah anak memberikan dotnya pada anak yang kurang mampu. Atau karena sudah rusak maka minta anak untuk membuang sendiri dot-nya.
* Alihkan perhatiannya pada hal lain yang juga mendatangkan kepuasan. Contohnya dengan memperkenalkannya pada beberapa jenis mainan baru, bunyi-bunyian dan sebagainya.
* Kalau sudah diberi penjelasan, anak masih saja melanjutkan kebiasaan ngenyot jari, bisa saja orang tua mengakalinya dengan memberikan sesuatu yang pahit di jarinya. Namun lakukan hal ini sebagai upaya terakhir agar anak tidak merasa “ditipu” oleh orang tuanya sendiri.

Beberapa dampak buruk akan muncul bila anak dibiarkan lekat dengan kebiasaannya ini. Selain pertumbuhan giginya jadi tidak bagus, secara psikologis anak juga akan kehilangan rasa aman (secure feeling) bila meninggalkan kebiasaan yang sudah berubah menjadi kebutuhan ini. Padahal bila terus terbawa sampai besar, bukan tidak mungkin ia akan jadi bahan ejekan teman-temannya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan konsep dirinya.

2. Ngompol Dan Pup Di Celana
Masih menurut Freud, di usia batita anak sedang memasuki fase anal. Anak akan mendapat kepuasan saat menahan BAK (buang air kecil) maupun BAB (buang air besar) sebelum melepaskannya. Untuk fase anal, sampai usia 3 tahun pun masih bisa dikategorikan wajar. Walau begitu, ketika anak sudah bisa duduk, orang tua sebaiknya mulai mengajarkan toilet training. Mungkin lebih mudah kalau diawali dengan latihan BAB di kloset, dibanding mengajari anak BAK. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menyetop kebiasaan BAK dan BAB di celana.

* Biasakan tiap bangun pagi segera mengajak anak BAK di kamar mandi.
* Tiap 3 jam sekali dudukkan anak di kloset, meski ia terlihat tidak kebelet BAK. Begitupun menjelang tidur malam atau kala terbangun. Meski mungkin saat itu anak belum ingin BAK, kebiasaan ini bisa membantunya tidak ngompol lagi.
* Jangan terbiasa menolerir kebiasaan anak BAB di celana yang akan membuat anak mendapat kepuasan/pleasure. Bila dari mimiknya anak terlihat mau BAB, segera angkat dan dudukkan di kloset. Sebab kalau dibiarkan saja BAB di celana, lama-kelamaan anak akan merasa keenakan dan akhirnya malah tidak bisa BAB di kloset.
* Waspadai juga anak yang sudah lama tidak ngompol, tapi kemudian mendadak ngompol lagi. Mungkin saja ada masalah psikologis yang sedang dialaminya, seperti traumatic event dan sejenisnya. Tapi kalau hanya sesekali dalam jangka waktu sekian lama tak perlu dikhawatirkan karena bisa jadi anak hanya kecapekan atau mengalami mimpi buruk. Lalu bagaimana cara orang tua bisa mendeteksi adanya gangguan psikologis yang berakibat ia ngompol lagi? Salah satunya kalau selama 6 bulan terakhir anak sudah tidak ngompol lagi namun kemudian secara berturut-turut mulai ngompol lagi, besar kemungkinan ia mengalami gangguan psikologis.
* Jangan anggap remeh kebiasaan anak BAK dan BAB di celana. Sebab masalah ini akan mendatangkan serangkaian dampak buruk kalau terus terbawa sampai tahapan usia selanjutnya. Dalam pergaulannya, sosialisasinya akan terganggu karena ia akan jadi bahan ledekan teman-temannya.

3. Memainkan Alat Kelamin
Satu lagi kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita menurut teori Freud adalah kenikmatan memainkan alat kelamin. Dalam bahasa psikologinya, tahapan ini diistilahkan sebagai fase phallic. Kebiasaan ini masih dianggap normal, bahkan sampai anak berusia balita. Walau dianggap normal, orang tua sebaiknya mengarahkan anak untuk tidak melakukannya. Beri pemahaman begitu anak bisa diajak berkomunikasi. Jelaskan bahwa kebiasaannya ini bisa menyebabkan alat kelaminnya terluka, lecet, kotor, bahkan infeksi bila ada kuman masuk. Anak perlu tahu kalau area di sekitar alat kelamin itu sangat sensitif.

Kalau cara tersebut tidak berhasil, maka orang tua bisa mengalihkannya dengan kegiatan lain yang juga bisa memberikannya kepuasan. Misalnya dengan mengajak anak bermain tetabuhan dan sebagainya. Tapi yang harus diingat, orang tua jangan panik bila menemukan anak sedang melakukan kegiatan ini. Jangan marahi anak apalagi bila disertai ancaman, karena tiap anak pasti mengalami fase ini.

Menjadi masalah bila kebiasaan ini terus terbawa sampai anak besar. Selain lingkungan akan menganggapnya melakukan tindakan tak pantas, anak pun sebaiknya tahu bahwa kepuasan/kesenangannya bisa diperoleh dengan cara lain, selain dengan memainkan alat kelamin.

4. Ngeces (ngiler)
Ngeces atau mengeluarkan air liur tanpa kontrol lazim dilakukan bayi karena kemampuan mereka mengontrol air liur memang belum sempurna. Apalagi pada anak yang memang produksi air liurnya relatif banyak, hingga dalam tenggang waktu sebentar saja air liurnya menetes tanpa disadarinya. Kebiasaan ini masih dikategorikan wajar di usia batita awal, atau sampai usia 1,5 tahunan. Setelah usia itu, orang tua sudah harus aware karena biasanya batita di usia tersebut sudah bisa diajak berkomunikasi dan melakukan imitasi atau peniruan pada orang dewasa.

Melalui komunikasi orang tua bisa menginstruksikan anak, misalnya, “Hayo, Adek ngeces lagi ya. Coba dilap dong.” Pada fase imitasi, orang tua dapat menyontohkan bagaimana menelan dan menghapus air liurnya. Melalui latihan terus-menerus, diharapkan anak bisa belajar bagaimana mengelola produksi air liurnya. Memang sih proses ini butuh waktu alias tidak bisa bersifat instan. Setelah berhasil pun, orang tua tetap harus memperhatikan dan  mengingatkannya. Semisal saat anak sedang asyik melakukan sesuatu,  tanpa disadari ia ngeces lagi, padahal sebelumnya kebiasaan ini  sudah ditinggalkannya. Kalau hanya sesekali ngeces karena ada sesuatu yang mengasyikkannya masih bisa dikategorikan wajar. Tapi bisa dibilang tidak wajar bila sampai usia 3 tahunan anak belum lepas dari kebiasaan  ini. “Sebaiknya dicek ke dokter, siapa tahu memang ada kelainan.”

5. Nangis Minta Sesuatu
Menangis adalah suatu hal yang wajar. Namun menangis di usia batita bisa dikategorikan tidak wajar bila masih digunakan sebagai cara berkomunikasi. Di usia 2 tahunan, anak seharusnya sudah bisa  berkomunikasi dengan orang lain. Saat haus, lapar, sakit, dan  sebagainya, anak seharusnya sudah bisa mengungkapkannya tanpa  menangis. Jadi di usia tersebut kalau tangis masih digunakan sebagai  cara untuk menarik perhatian sekelilingnya, itu dapat dikategorikan  tidak wajar. Beberapa hal berikut perlu dilakukan orang tua sehubungan dengan kebiasaan anak ini:
* Tekankan pada anak untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya, tapi tidak dengan tangis. Kalau haus, anak harus bilang haus untuk minta minum, bukannya dengan menangis atau merengek.
* Orang tua harus tegas, tangisan hanya boleh digunakan untuk mengungkapkan perasaan sedih, sakit, melepaskan emosi dan sejenisnya. Namun tangis bukan cara berkomunikasi untuk mendapatkan sesuatu seperti halnya yang dilakukan bayi.
* Konsistensi menjadi penting di sini. Sekali orang tua mengatakan tidak, besok lagi untuk tangisan yang sama orang tua harus tetap mengatakan tidak yang tentu saja harus disertai penjelasan. Sekali saja orang tua tidak konsisten, anak akan belajar memanfaatkan kesempatan dan mencari-cari celah.
* Reward dan punishment juga bisa digunakan dalam kasus ini. Bila anak sudah bisa minta sesuatu tanpa menangis, orang tua bisa melontarkan pujian. Sedangkan bila anak kembali menangis untuk minta sesuatu, anak bisa “dihukum” sesuai kesepakatan yang dibuat bersama.

6. Kelekatan Yang Berlebihan
Kelekatan bayi dengan orang tuanya, terutama ibu adalah suatu hal yang wajar. Di usia ini anak belum bisa menerima keberadaan orang lain karena tidak aman (insecure) bila tidak bersama orang tua, atau significant other seperti pengasuh, kakek-nenek, om-tante yang sering dilihatnya.

Menurut teori Erik Erikson, pada masa ini sedang terbentuk trust and distrust terhadap lingkungan. Namun bila kelekatan ini terus dibawa sampai batita, menjadi tidak wajar lagi. Saat anak sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain, maka pada saat itu pula anak mestinya sudah belajar bahwa lingkungannya itu tidak hanya orang tua, pengasuh dan kakek/neneknya, melainkan ada juga orang lain di luar mereka. Anak yang mempunyai kelekatan berlebihan dengan orang tuanya, akan “takut” berhadapan dengan orang lain. Padahal ini seharusnya tidak terjadi. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk menyiasatinya:

* Mulai kenalkan anak pada lingkungan yang lebih luas, bahwa dunia ini tidak hanya berisi orang tua dan significant other lainnya.
* Ajak anak bermain tanpa perlu ada attachment langsung.
* Ajarkan anak untuk memberikan salam pada orang-orang yang ditemuinya. Dengan begitu anak bisa melihat bahwa orang lain pun tidak “berbahaya” baginya.
* Minta anak menjawab pertanyaan orang lain yang diajukan padanya agar akan tumbuh perasaan trust.
* Bisa juga sesekali anak ditinggal untuk waktu yang agak lama. Dengan begitu anak akan belajar, kalaupun ditinggal orang tuanya, pasti nanti akan kembali lagi. Bila dibiarkan saja, kelekatan yang  berlebihan akan merusak kemampuan sosialisasi anak. Anak jadi tidak berani bergaul dengan lingkungan yang lebih luas dan ke depannya kehidupan sosialnya pun akan terganggu.

Tips Untuk Orang Tua
Beberapa hal berikut disarankan Sani sehubungan dengan kebiasaan bayi yang masih terbawa sampai batita.
* Begitu orang tua tahu batasan usia dimana anak harusnya sudah mulai belajar hal-hal tertentu, harusnya orang tua mulai aware. Makin dini usia anak saat diajarkan, makin kecil kemungkinan kebiasaan tersebut terbawa sampai batita.
* Konsistensi adalah kunci dalam mengajarkan segala sesuatu pada anak. Sekali orang tua mengambil sikap A, seharusnya sikap itu dipertahankan saat menghadapi keadaan yang sama.
* Beri penguatan kala anak berhasil melakukan perilaku yang diajarkan. Bila perlu beri reward atau pujian, sehingga anak merasa yakin bahwa perbuatannya benar.
* Jangan bosan memberi penjelasan mengapa ia harus melakukan ini dan itu. Jangan hanya sekali memberitahu, setelahnya hanya mengatakan, “Kemarin Mama sudah bilang. Adek kok enggak ngerti  juga?” Ingat kemampuan anak usia ini mengingat sesuatu masih terbatas.
* Orang tua harus yakin dengan dirinya sendiri bahwa apa yang diajarkannya pada anak akan mendatangkan manfaat. Ingat, orang tua adalah fasilitator yang membentuk tingkah laku anak.

24-04-2006 23:59:27

Seputar Bintik-Bintik Merah

bintik merah

Setelah sembuh dari panas, dibadan anakku ada bintik-bintik merah, campak-kah?

bintik merahTanya:

Bu, setelah anakku sembuh dari panas, ternyata sekarang dibadannya keluar bintik bintik merah (sepertinya bukan campak). Daerah bintik tersebut kalau kita raba agak gradakan dan tidak gatal (soalnya anakku masih aktif bermain seperti biasa). Mohon informasinya yach, terima kasih [Sr]

Jawab:

Halo Sr, aku sempatkan tulis e-mail buat kamu. Aku baru pagi ini baca e-mail tentang anakmu demam. Samaan dengan anakku (9 bulan). Sore aku ditelpon suamiku katanya anakku deman 39 c. Aku buru-buru pulang hari itu. Dari lahir dia belum pernah demam, paling demam karena imunisasi saja. Dikasih tempra sudah 2 kali + obat chinese 1 kali, tapi panasnya naik turun jadi kalau dikasih tempra yang turun habis itu sekitar 3 – 4 jam naik lagi. Rabu pagi aku bawa ke DSA. katanya radang tenggorokan dikasih obat panas dan obat tenggorokan (antibiotik). kamis agak sedikit lebih baik tapi malam tetap panasnya tinggi sekali sampai 39C. Kamis malam aku temukan di badannya ada bintik-bintik merah seperti yang dialami anakmu. Jum’at bisa dibilang lebih baik, tapi malam panas lagi. Jum’at itu bintik-bintik merahnya tambah banyak sampai aku sendiri ngeri lihat kulitnya. aku sempat tanya mamaku dan orang-orang tua lainnya katanya tidak apa-apa karena itu panasnya keluar. Sabtu, aku ditelpon lagi katanya bintiknya tambah banyak saja, terus aku telpon dokter tapi katanya itu proses penyembuhannya, bisa 2 – 3 hari. Nah Puji Tuhan sejak kemarin badan anakku sudah mulus tidak ada bintik-bintik lagi dan kemarin malam juga dia sudah tidak demam lagi. jadi jangan kuatir, mudah-mudahan anakmu bisa cepat sembuh [Ell]

Sepertinya ini pengaruh dari panasnya yang tinggi, cmiiw ya, soalnya waktu anakku panas sampai hampir 40, waktu sembuh keluar bintik-bintik merah. dsanya bilang tidak apa-apa. Ada yang bilang itu buang penyakit katanya, insyaallah tidak apa-apa kali kalau sama dengan anakku karena pengaruh panas. Semoga anakmu segera baik ya [Ic]

Anakku 3 tahun, 2 minggu lalu juga seperti itu. Dia tiba-tiba sempat panas sampai 39C, aku kasih panadol sirup, sembuh. Besoknya sekujur badan timbul bintik merah sampai ke kaki dan leher. Berhubung anaknya aktif, makannya lahap jadi aku tidak bawa ke dokter. 2 hari kemudian hilang! bersih kembali seperti semula. :) Padahal kalau tidak hilang rencananya malam itu mau aku ajak ke dokter, ya sudah tidak jadi. Mertuaku bilang juga karena panas, terus keluar berupa bintik merah itu. Barangkali ada dokter yang bisa memberi pencerahan? [Put]

Tanya:

Mau tanya, anakku 20 bulan 6 hari yang lalu kena panas tanpa batuk tanpa pilek, ke Dokter dikasih obat, turun saja panasnya, tapi 2hari ini keluar bintik-bintik merah awalnya dimuka, sekarang ke perut. Aku pikir tadinya hanya biang keringat biasa. Kalau tampek ciri utamanya ada bintik belakang telinga? dia tidak ada tampek apa bukan sih? Harus bagaimana P3K-nya? Share ya..terima kasih [Em]

Jawab:

anakku sempat seperti itu juga, dan ternyata bukan campak kata DSAnya sudah biasa kalau habis panas, setelah panasnya turun lalu timbul bintik-bintik penanganannya sepertinya tidak usah diapa-apakan, justru dengan timbulnya bintik-bintik itu adalah tanda menuju kesembuhan, begitu katanya DSA. Tapi karena aku masih khawatir, selama bintik-bintiknya belum hilang anakku tidak dimandikan (hanya diseka) dan tidak boleh dibawa keluar rumah, bahkan hanya berdiri di teras rumah saja tidak aku kasih. Katanya kalau tampek pantang kena angin. Oh ya, aku minumkan juga air kelapa hijau + madu [NDS]

Dulu waktu anakku umur 7 bulan juga pernah sakit seperti ini. Menurut DSA bukan campak karena kalau campak biasanya diikuti dengan pilek dan mata agak berair. Dokternya bilang “sepupunya campak”, yang disebabkan oleh virus. Lebih baik dibawa kedokter saja lagi, waktu sebelumnya ke dokter belum keluar bintik-bintik merahnya. Dulu anakku juga sempet test darah segala, karena dibagian paha ada merah-merah yang tidak bisa hilang kalau pahanya dipencet dengan dua tangan kanan kiri, kata dokterya takut gejala demam berdarah. Ternyata bukan demam berdarah kok, tapi kena “sepupunya campak” tadi [YA]

Anakku pernah seperti itu, dan kata DSA itu hal biasa anak terkena virus namanya “Rotavirus” (spelling???) Waktu itu sama dokter suruh dikasih bedak saja [RS]

Mbak Em, sharing saja, anakku pernah seperti itu, panas dan timbul bintik merah merata, takutnya demam berdarah. Tapi setelah diperiksa sama dsanya, beliau bilang itu cuma virus dan tidak lama pasti hilang. Terus dikasih bedak + obat penurun panas, dan ternyata 3 hari kemudian bersih, panas maupun bintik-bintiknya hilang. Tapi jangan dimandikan dan kena angin-angin dulu ya [CS]

12-09-2006 21:54:43