|
Memarahi
Baby Sister (BS)
Pertanyaan
:
"Kemarin aku di kolam renang -ihat ibu ibu memarahi
BSnya gara gara lalai memegang anaknya. Aku tidak
lihat persis, yang jelas si anak menangis, si ibu
itu mengomel sampai 30 menit, di depan si anak. Apakah
ibu-ibu juga seperti itu kalau memarahi BS / Pembantu
(PBT) di depan anak? Aku selalu berusaha menghindari
memarahi BS di depan anak anakku, jadi pas ada kejadian
yang aku harusnya marah, aku cuma ngomong satu kalimat,
habis itu dilanjutin nanti kalau anak anak sudah tidur,
takutnya anak anak jadi gimana gitu ke BS kalau suka
kita memarahi di depan anak". (Di)
Jawab
:
"Kemarin aku juga memarahi pembantuku karena
lalai jaga anakku. Anakku jatuh sampai mukanya (bawah
mata kanan & alisnya) beset² berdarah. Waktu
dia lapor anakku jatuh,sambil ambil air anget &
betadine, dia berulang kali minta ma'f. Ini bukan
saatnya marah batinku, tapi saatnya ngobatin anakku.
Waktu anakku sudah tenang baru aku tanya kejadiannya,
lalu aku kasih tahu kalau jaga anak tidak bisa
meleng dikit, sudah gitu saja. Lalu pas anakku minum
susu kulanjutin lagi (ronde kedua), kukasih contoh
pembantu temen main anakku dulu gini-gini pokoknya
yang positif dst. Pakai bahasa/contoh temen yang ia
segani, lalu kalau jaga anak itu jangan sekadar jaga
tapi pakai feeling, misal anaknya sudah kelihatan
ngantuk atau capek, kita yang ambil keputusan, sudah
mainnya berhenti atau mainnya sudah tidak aman lagi
kita juga yang mesti ngerti, langsung angkat saja
ganti main
yang lain atau diajak pulang. Kalau sore biasanya
para balita di sekitarku ngumpul & main bersama
bersama para BS/pembantunya, ngobrol tidak apa-apa,
tapi kalau anak lari-lari utamain anaknya, ikutin,
jangan sudah jatuh baru kamunya yang panik, dia nganguk²
sambil minta maaf berkali-kali. Soalnya anakku yang
kejedot di mikrolet dulu itu dia tidak minta²
maaf. Jadi di depan anakku, aku tidak pernah
marah²in / teriak²in pembantuku, paling
nasehatin dia panjang lebar & luas, gitu itu wajahnya
nampak sedih & nyesel, melas tampangnya".
(Ch)
"Waduh
aku malah hampir 'tidak bisa marah' sama asiten, kecuali
sudah
kebangetan. Habis kalau mereka sakit hati dan minta
berhenti, atau
mereka sakit hati dan melampiaskan kepada anak²
sementara aku kerja,
tidak ada di rumah. Aku seringnya bilangin mereka
baik² aja, kasih
tahu kenapa mereka tidak boleh gitu, maunya aku begini,
pakai alasan
yang masuk akal dan bisa mereka terima.
Nah, kalau sudah kebangetan baru aku marah yang pakai
ungkit², aku
tidak mau marah kalau tidak perlu, kenapa tidak bisa
dibilangin
baik², dll. Tapi kejadian aku marah gitu jarang
banget. Selain alasan
yang aku bilang diatas, aku berprinsip, marah²
itu seringnya tidak
menyelesaikan masalah, kalau dia bisa terima tidak
apa, tapi kalau
tidak, apa malah tidak menimbulkan masalah baru ?"
(St)
"Aku
pada dasarnya jarang sekali marah ke pembantu, dan
kalau marah
juga tidak bisa panjang-pendek sampai 30 menit. Kalau
marah pun yang
aku tekankan adalah efek negatif yang bisa timbul
akibat kesalahan
dia itu, jadi lain kali harap tidak diulang ! Pernah
pembantuku entah
kenapa bisa merebus air di panci teflon sampai kering
dan lapisan
teflonnya mengelupas rusak-hangus sampai baunya ke
seluruh rumah.
Waktu itu dia cuma sendirian di rumah. Aku marah bukan
karena panci
teflon tidak bisa dipakai lagi, tapi kalau rumah kebakaran
bagaimana?
Kalau tabung gas meledak bagaimana? Kalau dia celaka
bagaimana? Tapi
paling cuma beberapa kalimat itu saja. Lagian, marah
juga buat apa
lagi, orang sudah terjadi kok. Kebanyakan aku negur
mereka sebelum
mereka buat kesalahan yang besar. (Sekalinya aku marah
beneran karena
kesalahan besar, hasilnya BS aku keluarkan langsung
dari rumah). Jadi
tidak terlalu ada kesan bagaimana gitu, meskipun di
depan anakku.
Rasanya selama cara menegur kita tidak merendahkan
dia, tidak akan
ada kesan negatif pada diri si anak ke BS-nya. Sama
saja kalau kita
menegur anak di depan pembantu, jangan juga dengan.
merendahkan si
anak, nanti BS/PRT menganggap boleh² saja memperlakukan
anak kita
begitu. Dan aku kalau negur tidak akan bisa panjang-panjang.
Nanti
kabur atau buat yang tidak² sama anak bagaimana
?" (Ri)
"Wah
aku susah banget memarahi pembantu dan BS anaku, paling
mukaku
cuma asem saja. Aku takut mereka tersinggung dan mereka
tidak bakalan
berani bilang atau ngumpetin kesalahan jika ada apa²,
biasanya aku
ajak dia bicara, sambil nahan² gemes. Semalem
pembantuku mengadu
sewaktu dia membersihkan air cleaner, dia mematahkan
tanpa sengaja
kawat pembunuh kuman, yang bikin aku kesel sudah tahu
ada bagian yang
rusak kok masih tetep dinyalakan. Pengennya marah
tapi aku tahan²,
sudah bisa mengendalikan diri baru aku panggil ajak
bicara.
Pembantuku ini memang aneh orangnya (kayak yang stress
yang
dimungkinkan sewaktu dia kerja di majikannya terdahulu).
Mamaku suruh
ganti, tapi aku kasihan bisa² dia tambah stres.
Sekarang lumayan
sudah tidak terlalu sering melamun lagi. Yang aku
syukuri, dia selama
ini masih jujur (kadang² suka aku uji)".
(Ri)
"Tergantung
kita mau mengajarkan sama anak kita untuk menghargai
BS-
nya atau tidak. Kalau kita maunya supaya anak juga
respek sama BS-
nya, jangan memarahi BS di depan anak. Tapi kalau
tidak peduli,
memarahi saja di depan siapa pun juga. Dan ini juga
berlaku untuk
anak. Jangan memarahi si kakak di depan adiknya, jangan
marah-in adik
di depan kakaknya, jangan bertengkar dengan suami
di depan anak,
supaya tetap bisa saling menghargai satu sama lain."
(Fe)
"Aku
tidak pernah marah sama pembantu soalnya sudah ada
si uwak yang
suka marah² sama para pembantu. Jadi di rumah
yang jadi nyonya itu
sebenarnya si Uwak (pembantu mama yang sudah ikut
sejak aku kelas 5
SD). Aku tahu beres aja. Karena standar pekerjaan
Uwak sudah sangat
baik, jadi aku percayakan saja. Dan memang ada pembantuku
yang tidak
betah sama si Uwak dan minta berhenti. Sejak anakku
sering di rumah
eyangnya di Cirebon, Uwak juga sering di sana karena
menemani anakku.
Pada dasarnya aku tidak pernah bisa marah dengan orang
yang posisinya
di bawah aku atau menjadi tanggungjawabku. Pembantu
di rumah atau
pembantu di kantor juga tidak pernah kena marah kalau
melakukan
kesalahan. Aku ngomongnya pasti baik². Kalau
jenis kesalahannya cuma
kesalahan prosedur saja, misalnya merusakkan barang
atau lupa
sesuatu, itu tidak masalah. Tapi kalau si pembantu
sudah berani
membantah atau melanggar kata²ku, ya tidak dimarah²in
juga, langsung
dikeluarkan saja." (Fe)
"Memang
kalau aku juga tidak pernah memarahi BS karena takut
dia
sakit hati, atau memboikot. Paling-paling aku kasih
tahu aja, supaya
lain kali jangan begitu dengan nada rendah. Dan juga
kasih contoh
dari kasus orang lain. tidak berani aku kasih tahu
dengan nada keras.
Karena aku dulu pernah di boikot sama suster. Habis
gimana sich
selama kita masih butuh dia,yach tutup sebelah mata,
dan lain kali
dari kitanya ajah hati-hati kalau memang tahu si BS
orangnya begitu,
kira-kira mencegah, selama kesalahannya tidak fatal
banget. Memang
kita tidak bisa berprediksi takutnya nanti si BS sakit
hati, anak
kita bisa kena efeknya". (Sa)
"Sebenarnya
bukan hanya BS saja, pembantu ataupun siapa saja yang
ikut dengan kita (yang jadi andalan di belakang),
kalau bisa jangan
sampai mememarahiya dengan kelewatan sekali, kecuali
kita sudah
saling kenal. Karena ini pesan dari kakekku, sementara
kita ada di
luar rumah, seberapa sulitnya kalau dia mau meludahin
masakan yang
dimasak buat kita sekeluarga, misalnya, contoh yang
diambil memang
bukan berkaitan dengan materi, tetapi malahan hal
kecil yang
terkadang luput dari perhitungan kita. Memang susah
untuk meminta
orang untuk menyesuaikan diri ke kita. Tapi, sejauh
tidak melakukan
tindakan yang membahayakan keselamatan dan kesehatan
keluarga dll
(tergantung dari prinsip masing- masing), sepertinya
kita juga kudu
toleran. Bukankah yang bisa cocok dengan kita adalah
diri kita
sendiri. Namanya juga berurusan dengan sesama manusia,
sama-sama
terdiri dari tulang, kulit dan darah ?" (Sh)
|
|